Sinopsis Crash Landing on You Episode 6 Part 2 – Episode sebelumnya di sini. Selengkapnya kamu bisa cari tahu di tulisan yang ini. terima kasih untuk kalian yang sudah membaca yaaa.. terima kasih.

Koo ditarik ke atap. Dia disambungkan dengan Oppa kedua seri, “Lupakan, tidak boleh menawar.” Ucap Oppa kedua seri.

“Tolong pikirkan lagi sebelum menghabisiku. Sebagai imbalannya, aku akan memberikan kabar besar yang menguntungkan bagimu.”

“Kamu mencoba menipuku lagi?”

“Hyung Nim, kamu pikir seri sudah mati. Tapi dia masih hidup.”

“Apa katamu?”

“Seri masih hidup.”

“Berengsek ini. jangan berbohong.”

“Sungguh. Aku melihatnya.”

“Di mana kamu melihat Seri? Dia ada di mana?”

***

Seri masuk kamar. Ri malah melihat satu-satu barang. Ia menemukan penyadap di mana-mana. Sangat mengerikan.

“Jangan bicara sekarang.” Ucap Ri.

“Ini semua alat penyadap?”

“Semua kamar di hotel ini dipasangi alat penyadap.”

“Semua kamar?”

“Mungkin.”

“Kamu yakin sudah menyingkirkan semuanya? Aku masih resah.”

“Aku ada di kamar sebelah. Jika ada apa-apa..”

“Oh aku akan meneleponmu,”

“Jangan. Telepon aku saat genting saja.” wkwkkw ntar diminta sampo lagi takutnya.

“Kapan aku menerima fotoku?”

“Besok pagi.”

“Pasporku juga diberikan besok?”

“Paspor semua anggota diberikan sebelum keberangkatan.”

“Begitu? Tapi, bisakah aku melakukannya tanpa ketahuan?”

“Kamu tidak boleh terlihat mencolok. Dan tetap diam.”

“Maksudku, aku memang mencolok dan menarik perhatian. Bahkan saat bernapas.” Wkwkwkwkwk. Apassihh Mbaaakkk. “Aku cemas.”

“Kurasa kamu perlu tidur. kamu nampaknya sudah gila.” Hahahahhaha.

“Menurutmu bagaimana jika aku harus meminta bantuan pad Koo Seung Jun? Dia dalam perjalanan bisnis. Berarti akan pulang. Lebih baik aku pulang dengannya. Jika tidak, setidaknya dia bisa mengabari keluarga tentang aku.”

“Kamu memercayai dia?”

“Mungkin ini memang takdir.”

“Kamu pikir takdir semudah itu?”

“Aku nyaris menikah dengannya. Dan bertemu di sini. Itu langka.”

“Itu kan contoh….. eemmm.. kamu jatuh dari langit. Aku yang menemukanmu.” Wkwkwkkw cemburururururuur… “Kamu kabur, dan kamu berakhir di depan rumahku.”

“Itu hanya kebetulan..”

“Apa? Ucapanmu itu yang kebetulan!!!!”

“Kenapa kamu begitu kompetitif untuk hal seperti ini?”

“Bukan begitu maksudku. Aku sedang membedakan antara takdir dan kebetulan.”

“Apa? Urie Ri Jeong Hyeok, kamu ingin menjadi takdirku?”

“Bukan begitu.”

“Baiklah.”wkwkwkwkwkkwkwkwkwk. sukaa yaak ampun. “Anggaplah kita ditakdirkan bertemu.”

“Tidak usah diumpamakan.”

“Lagi pula, ini pertemuan lintas perbatasan. Bisa dibilang begitu.”

“aku bilang itu tidak perlu.” Wkwkkw sekarang nggak mau dibilang takdir… hilihhhh.

***

Seo Dan nampak sombong. Dengan koneksinya, dia bisa menemukan dua kamar yang dipesan Ri Jeong Hyeok.

Ri keluar dari kamarnya.

Belum ngomong… seri juga keluar. “Kuncimu ketinggalan.” Wkwkwk. Dari kamar yang sama guys.

“Jika hal seperti ini terjadi berturut-turut, aku seharusnya bersedih ya?” tanya Dan.

“Pasti begitu.” Ucap Seri.

“Katanya kamu ada di sini, jadi, kupastikan.”

“Tahu dari mana nomor kamarnya?”

“Putra pemilik hotel mengejarku saat aku kuliah di Rusia.” Edddunnn…

“Aku mengerti ini bisa menimbulkan salah paham. tapi kamu harus tahu, kami tidur di kamar terpisah.” Ucap Seri.

“Masa bodo. Aku tidak bertanya.”

“Ah kamu tidak mau tahu. Jadi… silakan kalian bicara. Aku permisi.” Seri masuk kamarnya.

***

“Kenapa kamu tidak meneleponku?” tanya Ri.

“Kamulah yang seharusnya meneleponku. Kamu terlihat di hotel Pyongyang dan kamu bersama dengan seorang wanita. Tahukah kamu perasaanku saat mendengarkan kabar seperti itu?”

“Maaf telah mempermalukanmu.”

“Aku juga mempermalukanmu. Kamu ada acara malam ini? seharusnya tidak ada, kita makan antar keluarga. Kenapa? Itu terlalu berat bagimu?”

“Tidak. Aku sudah berjani untuk kooperatif. Katakan jika ada hal lain yang harus kulakukan.”

“Tidak. Sampai jumpa di resto hotel jam 19.00.”

****

Kembali ke Koo dan Oppanya Seri.

“Aku tidak akan memberitahumu secepat itu.” Ucap Koo. “Aku butuh senjata untuk bernegosiasi. Jika kamu membunuhku di sini. Uangmu tidak akan ditemukan. Kamu tidak akan keberatan?”

“Jadi, apa maumu?”

“Mari sepakati setengah-setengah. Kuberikan setengahnya kepadamu. Lengkapi dengan uangmu sendiri. Kamu kan punya banyak uang.”

“Dasar bajingan.”

“Aku membahas adikmu. Aku tahu keberadaan adikmu yang katanya sudah meninggal. Aku yakin itu sepadan dengan uangnya.”

Lanjut ke bagian 3 yaa. klik di sini.