Sinopsis Crash Landing on You Episode 9 Part 9

Sinopsis Crash Landing on You Episode 9 Part 9 – Episode sebelumnya di sini. Selengkapnya kamu bisa cari tahu di tulisan yang ini. terima kasih untuk kalian yang sudah mengikuti.

“Entahlah.” Ucap Seri.

“Ah kamu bisa lihat dari sini.”

“Lihat apa?”

***

“Lihat gunung kecil di sana.”

“Ya.”

“Itu gunung Bukhan. Itu di Seoul bukan?”

“Sungguh? Sedekat itukah?” tanya Seri.

“Walaupun dekat sekali,  kita tidak bisa bertemu lagi, bukan?” tanya yang paling muda. “Tapi tetap saja. kamu bisa bertemu dengan ibumu. Aku iri.”

“aku tidak seakrab itu dengan ibuku. Kamu bisa menemui ibumu setelah bebas tugas.” Eun Dong.

“Kamu meledeknya?” tanya Pyo. “Masih 9 tahu tujuh belas bulan sebelum di bebas tugas.”

“Apa? sembilan tahun tujuh bulan? Lama sekali. Eun Dong kamu pasti merindukan ibumu.”

“Ya. Aku rindu dia. Aku mencemaskan dia. Kampung halamanku lebih dingin daripada di sini. Terpikir, apakah kayunya cukup. Terpikir apakah adik-adikku bisa makan. Adik bungsuku, tubuhnya lemah, dia suka sakit,”

“Mereka pasti baaik-baik saja. kalian jangan sampai terluka. Makan yang baik. Kalian akan hidup dengan baik bukan? Kalian tidak tahu bukan, mungkin negara kita akan bersatu.”

“Jangan membual. Hiduplah dengan baik saat kamu pulang,” Ucap Pyo. “Jika kamu kembali lagi, aku akan…akan menguburmu,” Ucap Pyo. “Di gunung, atau di sungai.”

“Terserah. Kubur aku di gunung atau di sungai.” Ucap Seri.

“Matahari akan terbenam. Wanita berisik ini bisa pergi saat gelap.” Teriak Pyo.

****

Dua menantu dan Ibu Tiri Seri berusaha membuka pintu tempat tinggal Seri.

Ada kilas bali ya.

Ibu memikirkan kodenya karena yang lain tidak bisa membuka. Seri pernah memberi tahu bawa kodenya adalah “Kode sandinya adalah hari ulang tahunku. Hari saat aku hampir mati.”

Mengingat itu. Ibu bisa membukanya.

“Omonim. Bisa membukanya? Dia henat. Kenapa dia bisa tahu segalanya?” ucap menantu pertama pada menantu kedua. “Dia bisa memasuki rumahku juga. Tidakkah kamu cemas?”

***

Mereka bertiga masuk rumah Seri yang mewahnya nggak karu-karuan.

Menantu pertama langsung kagum. “Aku penasaran siapa yang merebutnya saat pelelangan di Hongkong. Tenyata di sini.” Ia melihat semacam lukisan.

****

Ibu duduk. Ia mengingat saat dia berkunjung,

“Aku sudah buatkan kopi.” Ucap Seri.

“Terima kasih.”

“Omong-omong, kenapa ibu kemari?”

“Jual saham perusahaanmu. Kamu pasti tahu kedua Oppamu kesulitan. Haruskah kamu melakukan itu?”

“Oppa dan ayah tidak ada urusannya dengan perusahaanku. Aku yang mendirikan dan mengembangkan. Akan kujual sahamnya,, Omma..tidak mudah untuk sampai di sini seorang diri. Ini sangat sulit.”

“Tidak ada yang memintamu. Aku tahu apa yang kamu rencanakan. Kamu mau ayahmu melihatnya. Dan menyadari kalau kamu lebih baik dari kedua oppamu. Kamu mau terpilih. Kamu mau merebut segalanya!!!!”

“Omma.”

“Omma? Jika kamu melepaskan keserakahanmu. Hubungan kita akan lebih akrab. Seperti ibu dan putri sungguhan.”

“Ini bukan keserakahan. Ini impianku.”

“Apakah kamu pastas mendapatkan kemewahan itu? Karena kamu, hidupku menderita.”

Kilas balik selesai.

***

Kakak ipar pertama langsung memegang tas seri. “Ommonie, lihat ukiran ini? disainer Jean Merritt wafat setelah menandatanganinya. Ini tasnya Ommonie, astagaa..”

“Letakkan.”

“Baik.”

“Keluarlah.”

“Sekarang?”

“Ya.”

Menantu kedua sedang memotret dokumen milik Seri.

“Kamu sedang apa?” tanya Ibu.

“Cepat atau lambat. Kita harus merger atau mengalih alih “pilihan Seri.” Dokumen ini akan membantu.”

Lanjut ke bagian terakhir klik di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!