Sinopsis Drama Korea Children of Nobody Episode 23 Part 1

Sinopsis Drama Korea Children of Nobody Episode 23 Part 1 – Episode sebelumnya ada di sini. Untuk selengkapnya kamu bisa cari tahu di tulisan yang ini.

Ji Hun masuk rumah sakit. Ia bermimi dipukuli oleh Red Cry. Ia juga mengingat wajah red cry. Ji Hun terbangun.

Soo Young ada di sampingnya berkata. “Kamu baik-baik saja? Sunbae?”

“Aku melihatnya, aku melihat wajah si orang baik. Itu bukan wajah manusia.”

Episode 23 – Si Pelaku

Ji Hun membuka tablet dan melihat foto. Soo Young menjelaskan. “Ini acara TV yang populer di kalangan anak-anak tahun lalu. Tiap kali penjahatnya dalam pengaruh mantra. Wajahnya berubah menjadi wajah orang baik.”

“Konyol. Aku dihajar karena tahu soal ini. topeng ini.”

“Hana dengan tepat memberi tahu bahwa itu wajah si orang baik. Kita saja yang tidak paham. selain itu…” Soo Young menahan ucapannya.

“Apa? Situs rahasianya menghilang?”

“Ya,”

“Tentu saja. polisi sudah tahu soal itu.”

“Jalan buntu lagi.”

***

Se Kyung sudah membaik. “Dokter bilang masa kritisnya sudah lewat. Dia harus berhati-hati selama beberapa hari ke depan. Pastikan dia duduk selama 30 menit setelah makan. Jika dahaknya terlalu banyak, segera beritahu perawat.” Ucap Ibu pada Woo Kyung.

“Se Kyung akan menjalani perawatan baru. Kita harus lebih insiatif.”

“Tindakanmu benar. Kita harus lakukan yang kita bisa agar merasa lebih tenang.”

“Biaya tambahannya akan aku bayar.”

“Kamu dapat banyak tunjangan?”

“Astaga Ibu.”

“Kamu Ibu tunggal. Jangan sok mampu. Ibu bisa menjual tanah kita di Paju.”

“Kuharap suaru hari Se Kyung sadar. Jadi kalian bisa menyelesaikan kesalahpahaman kalian.” Ucap Woo Kyung.

“Dia tidak salah paham. Ibu memang bukan Ibu tiri yang penuh kasih sayang.”

“Tindakkan orang-orang membenci anak mereka sekalipun mereka yang melahirkannya. Aku mengerti. Ibu berusaha sebaik mungkin membesarkan kami berdua. Aku tahu itu.”

“Ibu hanya bilang akan menggunakan tanah yang ditinggalkan ayahmu untuk anak-anaknya. jangan berlebihan.”

***

Eun Ho sedang membuat mainan miniatur. Tiba-tiba Direktur Song masuk.

“Kamu mengisi tempat ini dengan baik. Sempurna bagi orang yang tinggal sendiri.”

“Ya.”

“Astaga, kamu punya banyak hobi. Kamu anak yang beruntung.”

“Terima kasih.”

“Tapi, kenapa kamu menggunakan keberuntunganmu itu tidak pada tempatnya?” Plak… Eun Ho ditampar direktur. Ia terus memukul Eun Ho. “Berkat uangku, kamu bisa makan enak, bermain dengan nyaman, tidur dengan nyenyak, dan hidup dengan baik. Lantas, kenapa kamu mengkhianatiku?”

***

Woo Kyung bicara ditelpon dengan Ji Hun. “Tentu saja aku tahu acara itu. putriku juga menyukainya. Jangan bilang wajah orang baik berasal dari acara itu. tidak kusangka.”

“Tidak ada orang waras yang bisa memahami orang gila itu. siapa sangka orang dewasa berkeliaran dengan karakter acara anak-anak?”

“Cideramu parah?”

“Tidak. Aku baik-baik saja. apakah lebih tidak memalukan jika aku cidera parah? Cideraku cukup membuatku malu.”

“Sekarang apa yang akan terjadi?”

“Situs web rasahasia sudah menghilang,jadi, kita harus bertindak. Pasti meraka sangat marah sekarang. mereka bekerja keras membuat situs web itu, tapi kita tangkap. Maaf, Woo Kyung, kamu banyak membantu kami.tapi kamu belum bisa memberikan hasil.”

“Tapi aku lega kamu tidak cidera parah.”

Woo Kyung menutup telponnya. Ia juga melihat lampu di kantornya nyala dengan berkedip.

***

Di kamarnya, Eun Ho masih dipukuli. Direktur Song berkata, “Jika bukan kamu, bagaimana ayah bisa tahu?”

“Pak Yoon menemui Direktur Kepala.” Ucap Eun Ho.

“Pak Yoon menemui ayah? Bedebah, kenapa kamu tidak bilang?”

“Maaf. Itu salahku. Aku sungguh minta maaf.”

Eun Ho masih dipukuli. Hingga Woo Kyung masuk.

“Direktur Song! Apa yang anda lakukan?” kemudian Song pun lagi. Woo Kyung membantu mengobati Eun Ho yang terluka.

“Laporkan dia ke polisi.”

“Siapa yang akan melaporkan hal semacam itu? Direktur hanya sedikit marah.”

“Kamu ini bodoh atau apa?”

“Tolong abaikan saja, berpura-puralah tidak melihatnya. Direktur dan dir kepala, seperti keluarga bagiku. Aku bisa hidup seperti ini berkat mereka.”

“Ini bukan kali pertama kamu diserang bukan?”

“Tolong jangan melibatkan diri. Kenapa anda kemari?”

***

Ji Hun kekantornya. Kwon berkata. “Hyung, kamu baik-baik saja?”

“Aku tampak baik-baik saja?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa bertanya begitu?”

“Aku sekadar menyapa.”

Ji Hun bertanya pada Soo Young. “Sudah kamu selidiki lebih jauh mengenai kamar hakim?” *itu yang ada di website.

“Ya. selain kasus Park Ji Hye, An Seok Won, dan Lee Hye Sun, aku menyelidiki 4 kasus lain. dua kasus ini diliput. Berbeda dengan hasil persidangan, sang ibu saat ini menjalani hukuman dan ayah pencandu game ini bunuh diri saat diinterogasi.” Soo Young menunjukkan papan kasus.

“Meraka tidak diadili.” Ucap Kwon.

“Mungkin mereka ditangkap polisi sebelum diadili. Kita tidak bisa cari tahu soal itu.” Ucap Soo Young.

“Terus cari tahu. Situs rahasia sudah menghilang, jadi, satu-satunya harapan kita adalah petunjuk dari kasus baru. Saat ini, kita tidak punya apa pun.” Ucap Ji Hun.

***

Eun Ho memperbaiki lampu di kantor Woo Kyung.

“Aku tidak tahu kamu berasal dari panti asuhan direktur kepala. Kamu mungkin sangat mengenal mereka sejak kecil.”

“Dia sudah seperti paman dan kakak. Bisa dibilang kami tumbuh bersama.”

“Orang seperti apa direktur? Sudah tiga tahun sejak direktur Song menggantikan direktur kepala. Aku masih belum tahu orang seperti apa dia.”

“Dia mudah emosi, tapi dia tidak jahat. Dia takut akan banyak hal dan punya sisi lembut. Dia penuh kasih sayang.”

“Kadang dia menghajar orang, tapi dia bukan orang jahat.”

“Dia sangat strs mengelola panti asuhan hanul. Dia ingin diakui oleh direktur kepala.”

“Kamu diserang sejak kecil?”

“Bu Cha, yang terlihat bukanlah segalanya. Ada lebih dari sekadar terlihat diantara aku dan direktur. Itu sama seperti keluarga.”

***

Di resto kue beras. Ada kasus pembunuhan yang diurus oleh Ji Hun.

“Korbannya berasal dari Hanul Center.” Ucap Kapten Hong.

“Hanul Center yang itu?”

Hong memberikan buku puisi. “Ini kasus untukmu.”

***

Soo Young mengatakan temuannya. “Mendiang Yoon Hyung Pyo dahulu pekerja sosial. Dia bekerja di Hanul sampai tahun lalu.dia juga membatalkan adopsi anak tiga tahun lalu.”

“Alasannya apa?”

“Tidak diketahui.”

“Adopsi pekerja sosial yang dibatalkan. Ada kasus itu di Ruang Hakim.” Kwon langsung menunjukkan data. “Ini, kedua calon orang tua berpura-para baik, tapi sebenarnya mereka menyiksa anak-anak yang mereka adopsi.”

“Red Cry. Kurasa ini kasus baru.” Ucap Soo Young.

***

Ji Hun bicara dengan Woo Kyung di kantornya.

“Pekerja sosial yang membatalkan adopsi anak. Situsnya ditutup karena kita sudah tahu.”

“Maksudnya, ini ada kaitannya dengan kematian Pak Yoon?”

“Mendiang Pak Yoon adalah pekerja sosial dan dia menyerahkan anak yang ia adopsi. Dia juga terlibat dengan Hanul.”

“Tidak mungkin berkaitan. Pak Yoon memang menyerahkan seorang anak, tapi itu bukan karena penyiksaan.”

“Lalu apa masalahnya?”

“Dia dan istrinya selama 15 tahun tidak punya anak.istrinya mengandung setelah mereka mengadopsi seorang anak, anak itu pasti merasa cemas. Dia melukai ibunya yang hamil dan bahkan dirinya sendiri. akhirnya sang istri keguguran.”

“Kalau begitu, masalahnya adalah si anak.”

“Baik si Ibu maupun anak itu sudah terlalu terluka, tidak bisa didamaikan lagi. Mereka tidak bisa hidup bersama.”

“Mungkin ada kebenaran yang tersembunyi. Mungkin ini kebenaran tersembunyi itu.”

“Tidak mungkin.”

“Red Cry tahu bahwa saudara Hana dikubur serta lokasinya. Mungkin ini juga…”

“Aku menyaksikan proses pembatalan adopsinya. Jika batal karena penyiksaan, bagaimana mungkin aku tidak tahu?”

“Ada yang sudah lama ingin aku tanyakan. Menurutmu, kenapa Min Ha Jung mengundangmu ke situs itu?”

“Kurasa dia berpikir aku akan setuju dengan orang-orang itu.”

“Begitukah menurutmu?”

“Aku memang merasakan kemarahan yang sama.”

“Orang-orang itu bukan sekadar marah. Mereka main hakim sendiri. kamu juga setuju dengan itu? kamu ragu mengatakannya kepadaku karena aku polisi…”

“Sejujurnya, aku tidak tahu. Dalam hatiku, ratusan kali aku berharap orang-orang itu mati. Tapi jika aku disuruh membunuh mereka, kurasa aku tidak akan sanggup. Memikirkannya, dan melakukannya adalah dua hal yang berbeda.” Ucap Woo Kyung.

Lanjut ke bagian 2. klik di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *