Sinopsis Drama Korea Children of Nobody Episode 28 Part 1

Sinopsis Drama Korea Children of Nobody Episode 28 Part 1 – Episode sebelumnya ada di sini. Untuk selengkapnya kamu bisa cari tahu di tulisan yang ini.

Ji Hun mulai bicara di depan dua rekannya. “Saat aku dipukuli oleh Red Cry, Eun Ho sedang menyaksikan pertunjukkan. Kalian pikir kasusnya sudah selesai?”

“Tidak. Kurasa belum.”

“Aku juga.”

Akhirnya mereka menyelidiki ulang dengan barang bukti dan informasi yang ada.

***

Woo Kyung dihipnotis oleh dokternya. Ingatan Woo Kyung dibawa kembali saat dia masih anak-anak.

“Se Kyung dan aku suka mengganti pakaian boneka kami. Aku melihat Ibu tiri kami, dia masih cantik, tapi dahulu dia luar biasa cantik. Aku ingin membahagiakannya.” *bayangan yang dilihat Woo Kyung, adiknya bukan gadis bergaun hijau.

“Kenapa kamu mau membahagiakannya?” Tanya Dokter.

“Tidak tahu. Aku hanya berharap dia selalu bahagia. Aku kembali dari sekolah… Se Kyung nampak berbeda. Dia baru kembali dari rumah kerabat kami.tapi dia tampak berbeda.” Woo Kyung mulai menyadari. Se Kyung yang ini bukan gadis bergaun hijau dan rambutnya panjang.

“Mari kita telusuri lebih jauh. Sebelum Se Kyung pergi ke rumah kerabatnya. Selangkah demi selangkah.”

Woo Kyung mencoba membuka ingatannya.. namun ia tidak bisa. Saat itulah dia dibangunkan kembali.

“Woo Kyung, kamu baik-baik saja?”

“Ada apa denganku?”

“Kamu pikir mudah menyingkap kembali ingatan yang tertahan? Perlawanan itu wajar. Mari sudahi ini. duduk dan minumlah obatmu.”

“Aku takut.”

“kamu harus menghadapinya. Hanya dengan begitulah kamu bisa sembuh. Tidak apa-apa. Aku akan membantumu.”

***

Kali ini, Woo Kyung menyewa detektif swasta untuk mencari anggota keluarganya.

“Menurutmu butuh waktu berapa lama?”

“Kamu sudah banyak mencari tahu soal keluarga Ibumu. Itu akan mempersingkat waktu pencarian kami.”

“Akan kuhargai jika kalian mempercepat penyelidikannya.”

***

Kali ini, Si Wan bertemu dengan dokter yang menangani Se Kyung.

“baiklah… astaga, ini sudah pertemuan terakhir. Karena ini pertemuan terakhir, akan kudengar apa pun yang mau kamu bicarakan. Apa pun.”

***

Si Wan menelpon Woo Kyung.

“Bu Cha…”

“Kamu baik-baik saja? sudah lama.”

“Tampaknya aku akan pergi ke Amerika sebenatar lagi.”

“Kamu akan melancong?”

“Tidak. Aku akan tinggal di sana dengan Ibu.”

“Dengan Ibumu? Ayahmu bagaimana?”

“Dia tidak ikut. Bu Cha, bisakah kita bertemu sebelum aku pindah?”

“Tentu. Kamu bisa datang kapan saja.”

Telpon ditutup, Si Wan kembali main game. Saat itu Ibunya datang dan bertanya, “Kamu tidak bilang siapa pun soal kepindahan kita bukan?”

“Ya.”

“Itu rahasia. Jika ayah tahu, kita bisa kena masalah.”

“Aku paham. aku tidak bilang siapapun.”

Saat di tempat makan. Ibu Si Wan mendapatkan pesan dari Red Cry. “Kamu sudah memutuskan?”

Ibu Si Wan membalas. “Sudah kuputuskan, akan kulakukan.”

“Kamu tidak boleh mengubah pikiran. Kamu tahu itu bukan?”

“Tentu saja.”

“Lantas. Mari lanjutkan.”

Si Wan dan Ayahnya datang. Ibu menyembunyikan ponselnya.

***

Soo Young membacakan temuannya. “Pada tahun 1995. Anak lelaki berusia dua dan 13 yahun di temukan di Pelabuhan Desa.”

“Maksudmu dia punya kakak yang usianya lebih tua 11 tahun?” Tanya Ji Hun.

“Ya. namanya Lee Eun Seo. Dia bersama Eun Ho dibawa ke rumah malaikat Hanul, tapi dia diadopsi ke amerika tujuh bulan kemudian. Dia kehilangan kewarganegaraannya, jadi, catatan keluarganya dihapus. Masalahnya, pusat adopsi itu sudah tutup sejak 10 tahun lalu, jadi banyak informasi yang tidak lengkap.”

“Maksudmu akan mustahil jika kita menemukannya?”

“Tidak ada catatan di sistem informasi adopsi.”

“Tentu saja. tidak mudah. Bagaimana dengan Haemil?” Tanya Ji Hun pada Kwon.

“Itu grup bagi para pemuda yang tidak cocok dengan sekolah dan melarikan diri dari rumah. Didirikan 15 tahun lalu. Mereka bekerja sukarela, menyediakan konsultasi profesional, dan melatih keterampilan kerja. Eun Ho sempat bekerja di sana sebagai mentor muda.”

“Sudah cari soal anak-anak yang berhubungan dengan Eun Ho?”

“Anggotanya terus berganti. Selain itu, Eun Ho di sana selama dua sampai tiga bulan. Itu tidak terlalu penting.” Ucap Kwon.

“Lantas, apa yang penting?”

Kwon memberikan berkas. “Ini daftar mentor profesional yang pernah menjadi konselor di Haemil selama sepuluh tahun terakhir. Aku mau bilang, sudah kuanalisis satu per satu. Direktur Psikiatri, Yoon Tae Joo.”

“Dia kenapa?”

“Dia anggota komite penasihat di Hanul.”

***

Giliran Ji Hun menemui Tae Joo.

“Lee Eun Ho. Kamu mengenalnya bukan?”

“Aku mendengar dia dari Woo Kyung.”

“Kamu pasti dekat dengan Woo Kyung.”

“Tentu saja, kami satu universitas. Aku bisa masuk komite penasihat hanul, berkat dia.”

“Kamu pernah bertemu dengan Eun Ho?”

“Mungkin kami pernah berpapasan beberapa kali, tapi tidak pernah bicara empat mata.”

“Kulihat kamu pernah cukup lama menjadi penasihat di Haemil.”

“Aku sangat tertarik dengan anak kecil dan pemuda. Omong-omong soal apa ini? jangan bilang kamu kemari mau tanya apa aku kenal Eun Ho?”

“Kamu mengenal Han Jae Kwang?”

“Aku sangat mengenal Jae Kwang. Aku menemuinya di Haemil.. aku bangga sekali kepadanya. Dia belajar dengan giat terlepas dari kondisinya dan pindah ke Amerika.”

“Dia terkena masalah besar baru-baru ini.”

“Benar. Aku sangat kecewa. Padahal dia anak baik. Sulit dipercaya dia pelaku tabrak lari. Aku tidak mau hidup seorang pria muda hancur, jadi, aku bantu dia membayarkan uang damai.”

“20,000 dolar itu cukup banyak.”

“Aku yakin dia akan melunasinya.”

“Kudengar syaratnya adalah si korban boleh menemui anak-anaknya tiga kali sebagai ganti uanganya.”

“Benar.”

“Bagaimana kamu tahu korban menelantarkan anak-anaknya dengan meninggalkannya di pusat anak?”

“Dia mengatakannya langsung kepadaku. Dia kesulitan karena utang, jadi, sulit menemui anak-anaknya. karena dia tidak punya banyak uang, anak-anaknya pun menjadi korban. Aku kasihan kepadanya, jadi, aku beri uang damai lebih.”

“Tampaknya kamu telah menyiapkan jawabanmu. Aku tidak tahu mau tanya apalagi. Apa yang kamu lakukn 21 desember jam 9? Aku mau tahu apa kamu pelakunya.”

Tae Joo tertawa sambil melihat jadwal di ponselnya. “Apa aku punya tenaga untuk memukulimu? Ahh ini… tanggal 21, aku ke hotel Dine untuk pesta akhir tahun. kamu bisa memerikasanya.”

***

Kini Ji Hun menanyakan pada Woo Kyung.

“Membayar uang jaminan adalah kebiasaannya. Dia pernah melakukan hal serupa.”

“Pria yang hebat.”

“Karena itulah aku mengaguminya.”

“Dia bisa mudah mendapatkan informasi dari Pusat Hanul dan andal membaca pikiran orang-orang. Dia mungkin orang terbaik yang bisa membaca pikiranmu.”

“Aku tidak bisa membayangkannya sebagai Red Cry. Filosofi mereka berbeda.”

“Apanya?”

“Tae Joo menganggap orang tua yang kasar sebagai orang yang bisa disembunyikan, bukan yang bisa dihakimi. Tidak bisa kubayangkan dia menyakiti seseorang karena marah.”

“Lantas, apa kamu membayangkan pelakunya Eun Ho? Dia suka anak-anak. Dia manis dan bersahabat, tapi membunuh lima orang dan menodongkan pistol ke arahmu. Pernahkah kamu membayangkannya?”

“Eun Ho adalah pribadi yang hancur. Sejujurnya, aku tidak kaget akan perbuatannya. Aku tahu kamu pun begitu. kamu terobsesi dengannya karena merasakan sesuatu.”

“Aku tidak terobsesi, aku hanya terusik. Dia selalu diam, tapi aku merasa ada sesuatu yang terbakar di dalam dirinya. Aku cemas akan sesuatu yang akan meledak.”

“Benar. Seperti itulah Eun Ho, tapi Tae Joo berbeda, sudah kuperhatikan dia 10 tahun lalu sejak kami masih bersekolah. Bukan dia.”

Lanjut ke bagian 2 ya. klik di sini kelanjutannya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *