Sinopsis Drama Korea Children of Nobody Episode 29 Part 1

Sinopsis Drama Korea Children of Nobody Episode 29 Part 1 – Episode sebelumnya ada di tulisan ini. selengkapnya kamu bisa cari tahu di tulisan yang ini.

Saat Woo Kyung masih menunggu di RS. Ada ahjumma yang membawa Eun Seo untuk diurus. Woo Kyung duduk kembali dan chat dengan Red Cry.

RC ; Lama tidak berjumpa.

WK ; Kamu mengirimiku pesan daring. Apakah kamu yang mengatakan bahwa kamu mengenalku?

RC; Ya

WK ; bagaimana dengan Eun Ho?

RC ; Kejadian yang menimpa Eun Ho sungguh menyedihkan.

WK ; Siapa kamu?

RC ;  Apakah kamu ingin tahu siapa aku? Apakah kamu ingin tahu adikmu, gadis bergaun hijau? Pilih salah satu.

WK ; Apa kamu tahu rahasia tentang gadis bergaun hijau?

RC ; Aku bisa membimbingmu untuk menemukan rahasianya.

WK ; Apa tujuanmu?

RC ; Kebenaran. Menolong jiwa yang patah hati. Menyelamatkanmu yang telah menderita. Aku akan bertanya lagi. Kamu ingin tahu siapa aku? Apakah kamu ingin tahu rahasia adikmu dan gadis bergaun hijau? Tentukkan pilihanmu.”

WK; Rahasia adikku dan gadis bergun hijau. Aku ingin tahu.

RC;  Kamu tidak akan memberitahu polisi , tidak ada rahasia yang terkuak. Bisakah kamu berjanji kepadaku?

WK ; Aku berjanji.

RC; Aku percaya keputusanmu. Mari kita mulai, pertama jangan percayai Ibu tirimu.

Episode 29 ; adikku

Polisi akhirnya mencari tahu tentang pembunuhan ayah Si Wan dan uang dalam jumlah besar yang hilang. Kwon mengatakan bahwa karena ayah Si Wan berprofesi sebagai rentenir, dia punya banyak musuh. Juga, ayah Si Wan pernah tersandung kasus KDRT pada istrinya namun kasus dicabut. Anehnya, pencuri berhasil membobol brankas yang terkunci kode.

***

“Anemia aplastik?”

“ya. pasien sudah tahu tentang kondisinya.”

“Ibuku tahu tentang itu?”

“Dia belakangan ini mendapatkan transfusi darah dan imunoterapi. Namun, tidak banyak membantu. Perawatan yang paling efektif adalah transplantasi sel induk.”

***

Woo Kyung bertemu dengan Ibunya.

“Omma, kenapa tidak memberitahuku?”

“Apa gunanya? Itu tidak akan mengubah apa pun.”

“Jika Ibu mendapatkan transplantasi sel induk…”

“Ibu tidak memiliki keluarga sedarah. Tidak ada seorang pun yang bisa memberi Ibu transplantasi.”

“Kita bisa mencari donor.”

“Tidak apa-apa, Ibu akan mendapatkan perawatan sebanyak mungkin. Lalu, mati dengan tenang. Ibu tidak ingin merepotkan siapa pun, dan kamu tidak mau membesar-besarkan ini. hidup ibu sudah cukup. Tidak ada penyesalan.”

***

Woo Kyung bicara dengan Se Kyung.

“Apa kondisinya serius?”

“Ya, dia tidak akan bisa sering datang.”

“Rasanya aneh melihat betapa baiknya dia memperlakukanku. Mereka bilang orang berubah saat memiliki penyakit serius.”

“Kenapa kamu sangat membenci Ibu?”

“Sepertinya, Ibu tiri kita agak tidak nyaman denganku. Sejujurnya, ayah juga nampak seperti itu. aku tumbuh di rumah nenek kita dan kembali ke rumah. Pasti canggung.”

“Pasti kamu kesulitan dan kesepian.”

“Itu juga sulit bagi kakak. Aku ingat hal yang kakak katakan kepadaku, saat pertama kali datang dari rumah nenek. Se Kyung berubah.”

“Itu karena kita tidak bertemu satu sama lain sementara waktu. Kurasa aku mengatakan itu karena kamu sudah tumbuh besar. Saat kamu tinggal bersama nenek, apakah ada acara atau tamasya yang berkesan? Apakah kamu ingat sesuatu?”

“Aku melihat pasaraya terbakar. Itu kebakaran besar yang menakutkan. Itu sangat menakutkan hingga aku masih bermimpi buruk tentang itu.

***

Woo Kyung mencari tahu tentang pasar yang terbakar pada tahun 1991. Ia mencari tahu di internet. Dan ditemukan di Gwangju.

***

Woo Kyung menemui kembali dokternya.

“Kampung halaman ibuku adalah Gwangju.”

“Maksudmu, itu terkait dengan tempat Se Kyung?”

“Itu bisa saja kebetulan. Bagaimanapun, aku harus tahu Se Kyung di Gwangju bagian mana.”

“Btw, apakah ini sangat penting bagimu? Aku memintamu memberitahuku hal yang ingin kamu ketahui.”

“Aku bilang aku penasaran tempat Se Kyung berada di Gwangju.”

“Apa yang membuatmu penasaran? Sesuatu yang lebih mendasar, itu ada di dalam dirimu. Jika kamu bertindak begitu defensif, aku tidak bisa membantumu dengan konsultasi. Kamu datang ke sini untuk meringankan beban di hatimu. Apakah aku salah? Jujurlah kepadaku. Tidak apa-apa. Aku tidak akan mengkritikmu atau menghakimimu. Jadi, sangat wajar jika kamu ingin tahu hal itu.” Woo Kyung diam-diam dihipnotis untuk mengatakan apa yang sebenarnya dia ingin katakan.

“Aku ingin tahu Se Kyung benar-benar adikku atau bukan. Ahh tidak. Se Kyung adalah adikku. Tidak ada guna meragukannya. Dia adikku.”

“Menurutmu, apa yang membedakan kebenaran dari kebohongan? Perbedaan antara tahu dan tidak tahu. Jika kamu hanya memercayainya, tanpa mengetahui kebenaran, itu menjadi kebenaran. Apakah kamu ingin tahu siapa Se Kyung? Kamu bisa dengan mudah mengetahuinya jika memikirkan baik-baik. Kamu hanya percaya bahwa dia adikmu, atau ingin menggali tentang itu? terserah padamu.”

***

Woo Kyung menemui Ibunya di rumahnya.

“Bukankah rasanya kesepian jika Ibu hidup seperti itu?” Woo Kyung berkomentar tentang Ibunya yang diam-diam sakit. “Aku memasukkan Ibu di daftar tunggu program donor sumsum.”

“Sudah kubilang jangan hal yang tidak berguna.”

“Kita harus mencoba semua hal yang kita bisa. Baik Se Kyung dan aku akan diuji juga.”

“Kenapa? kamu bukan anakku? Jangan buang waktumu.”

“Kami berharap menemukan donor di antara orang asing.  Apakah ibu meminta kami diam saja? kami adalah putri Ibu. Bagaimana kami bisa diam saja?”

“Woo Kyung, ada apa denganmu? Kenapa kamu tidak menuruti Ibu? Ibu tidak membutuhkannya.”

“Aku terlalu tua untuk menuruti Ibu. Aku sudah dewasa sekarang. orang lain berjuang untuk terus hidup. tapi ibu, siapa ibu hingga berkata akan mati begitu saja?”

“Sudah Ibu bilang. Tidak ada yang Ibu sesali.”

“Apa itu? rahasia macam apa hingga ibu memilih kematian, bukan mengatakan kebenaran? Ibu mencoba melarikan diri, bukan?”

Woo Kyung ditampar. “Kamu tahu apa? Beraninya kamu?”

“Aku tidak peduli seberapa kecil kemungkinannya.jika bisa menyelamatkan Ibu, akan kulakukan. Apa bisa melakukan apa saja untuk menyelamatkan Ibu. Masih ada banyak hal yang ingin kudengar dari Ibu. Aku tidak ingin merelakan Ibu, sampai aku mendengarkan semuanya.”

Berlanjut ke bagian 2. klik di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *