Sinopsis Drama Korea Mother of Mine Episode 1 Part 1

Sinopsis Drama Korea Mother of Mine Episode 1 Part 1

Haeeeeeehhhh…. setelah The Last Empress kemarin. Saya kali buat sinopsis drama korea Mother of Mine atau yang punya judul lain My Prettiest Daughter in The World. Awal tayang drama ini pada 23 maret 2019 dan saya tahu banget drama ini bakalan panjang kayak kereta api.

4 episode pertamanya berhasil masuk rating pertama dan kedua. Biasa cuy… drama kayak gini bakalan laku.

Masuk ke sinopsis singkatnya dulu ya… drama ini mengisahkan tentang seorang Ibu bernama Park Sun Ja, diperankan oleh Kim Hae Sook (yang main About Time dan Room Number 9). Emak punya anak 3 cewek semua. Ada Kang Mi Sun (sudah menikah dan punya anak satu cewek masih TK), Kang Mi Ri (Doi kerja keras bagai kuda dan punya karir kece), terakhir Kang Mi Hye, seorang pengangguran yang pernah menulis satu buah novel dan mencoba untuk menulis kembali.

Bagaimanakah kisah mereka… yooo masukkk.


Di sebuah apartemen. Pagi yang sibuk bin ribet. Ibu pekerja bernama Kang Mi Sun memanggil anaknya yang masih TK bernama Da Bin untuk bersiap.

“Da Bin Ah….. Da Bin cepat. Nanti kamu terlambat….” Mi Sun pun membantu putrinya untuk menggosok gigi.

Sementara suami dari Mi Sun, Jung Jin Soo sibuk memakai bajunya dan bersiap untuk kerja. Karena tidak hati-hati. Ia pun terpeleset karena mainan Jung Da Bin yang tergeletak di lantai.

“Yak…. Jung Da Bin. Sudah ayah bilang jangan bermain di kamar tidur. Ayah menyuruhmu berbenah setelah selesai bermain. Kamu membuat ayah bermasalah.” Jin Soo pun mengenakan kaus kakinya kemudian berkata. “Yeobo… apa yang akan aku kenakan hari ini?”

Istrinya Kang Mi Sun sedang mengurus Da Bin berkata. “Apa saja yang kamu mau.”

“Apa yang harus kukenakan? Kamu seharusnya menyiapkannya.” Jung Jin Soo pun ngomel dari dalam kamar.

“Aku tidak punya waktu untuk mengurusmu. Kamu bisa melakukannya sendiri.” Mi Sun mengomel.

Di dalam kamar. Jin Soo bingung melihat isi lemari. “Yeobo… apa ada kemeja yang sudah disetrika? Aku bertanya kepadamu. Adalah kemeja yang sudah disetrika?”

“Aku tidak punya waktu untuk itu. kenakann apa saja yang ada.” Mi Sun kemudian mengecek jam di ponselnya. Ia mengeluh. Mungkin akan terlambat ke kantor.

Jung Jin Soo keluar dari kamar dan mengeluh. “Adakah kemeja yang sudah disetrika? Apa-apaan ini?”

“Memangnya tidak ada?”

“Tidak ada!”

“Kenakan itu hari ini. akan kusetrika yang lainnya malam ini.” Mi Sun masih sibuk menata rambut Da Bin.

“Apa? Bagaimana kamu mengurus rumah tangga? Di mana sarapanku?”

“Di samping punya Da Bin.”

Jin Soo pun melihat makanannya. “Bagaimana dengan sosis? Tidak ada sosis?”

“Berdiri dan kenakan celanamu.” Ucap Mi Sun pada Da Bin.

Ehhh Da Bin malah merengek. “Tidak! Aku mau pakai rok hari ini.”

“Udaranya masih dingin. Kamu harus menggunakan celana.”

“Aku sudah menggunakan kaos kaki.” Jawab Da Bin.

“Ini demi kebaikanmu. Kenakan celana hari ini.”

“Tidak!”

Eeeeehhh suami Mi Sun malah bilang. “Sudah berapa kali aku bilang. Aku mau sosis. Kubilang aku mau sosis sejak sepekan lalu. Kamu seharusnya membelinya dalam perjalanan pulang.”

Mi Sun berteriak. “Ada apa denganmu? Hah!!!”

Da Bin malah menangis.

Sungguh pagi yang sangat kacau!!!!

“Jung Da Bin. Kamu akan melakukan ini setiap pagi?” Ucap Mi Sun mengomeli anaknya. kamu akan senakal ini?”

Melihat situasi tidak enak. Ayah Da Bin malah pergi. Saat di pintu, Jung Jin Soo berkata. “Rumah ini seperti medan perang setiap harinya.”

Jin Soo pun pergi. Mi Sun mengomel. “Ohhh…. kenapa Emak belum datang?”

***

Di jalanan pagi yang super sibuk. Kekuatan emak-emak yang pakai skuter memang tidak bisa dilawan. Lampu merah diterobos sampai polisi teriak-teriak. Polisi meminta Emak untuk berhenti di bahu jalan. Tapi karena  terburu-buru, Emak ngegas terus guys….

Emak pun sampai di rumah Da Bin.

“Maaf Emak terlambat.”

“Omma… lihat ini pukul berapa?”

“Ibu Minta maaf. Pamanmu mabuk dan belum pulang. jadi, ibu membuka toko dan langsung kemari. Cepat bersiap berangkat kerja.” Mi Sun pun langsung bergegas.

“Da Bin. Kenapa murung?” Tanya Emak pada cucunya.

“Dia memaksa memakai rok alih-alih celana!” Jawab Mi Sun.

Da Bin pun akhirnya memakai celananya. “Turuti kata nenek. Jika tidak. Akan nenek bawa harimau ke rumah ini. kamu tahu apa yang terjadi saat harimau datang?”

“Di mana harimaunya?”

“Di mana? Di pasar.” Wkwkwkwkkwkw

“Nenek sungguh-sungguh?”

“Sungguh. Apa nenek pernah berbohong?” Emak pun menggelitiki Da Bin.

Mi Sun nampak sudah bersiap. “Omma… cucian sudah selesai. Jemur yaaa???”

Emak sibuk menyuapi Da Bin. “Kenapa kamu repot-repot? Ibu mau melakukannya.”

“Omma… setrika juga kemeja Jin Soo.” Mi Sun bicara sambil dandan.

“Kamu tidak punya kemeja yang sudah disetrika lagi? Aigooo… ibu lupa melakukannya.”

Mi Sun sudah di pintu dan mau cusss… ia berkata. “Omma. Jangan lupa goreng sosis.”

Emak pun bertanya pada Da Bin. “Da Bin. Kamu mau makan sosis?”

Da Bin menggeleng. “Tidak. Ayah yang mau.”

“Aigooo!!! Dia kenanak-kanakkan.”

Mi Sun yang pergi pun masuk ke rumah kembali. Katanya ponselnya ketinggalan..  ahahahahdudududuududududuududududuudud beginilah kalau brbr.

“Ibumu amat sibuk. Sudah seperti medan perang.” Ucap Emak pada Da Bin.

***

Mobil jemputan Da Bin sudah muncul. Da Bin pun diantar oleh neneknya. Saat mengantar Da Bin. Dua polisi yang mengejar Emak sudah menanti.

“Bersikaplah yang baik, Da Bin. Dengarkan gurumu. Jangan berbuat sesuatu yang membahayakan ya?”

“Baik.”

Setelah adegan dadah-dadah selesai.

Polisi pun mendatangi Emak.

“Haelmoni….”

“APE LU!!!”

“Anda melanggar lampu merah lagi.”

“Aku tahu.”

“Ada apa dengan Anda setiap pagi?”

“Lantas bagaimana? Aku harus mengantarkan cucuku ke TK.”

“Biar ibunya yang melakukan. Berikan KTP anda.”

“Putriku sibuk dengan pekerjaannya.” Polisi mulai menulis surat tilang. “Kenapa kamu memberiku surat tilang? Ampuni aku. Aku melakukannya untuk mengurus cucuku.”

“Berikan KTP Anda. Atau kami akan menuntut Anda atas penghalangan keadilan.”

“Penghalangan keadalan apa? Bagaimana bisa mengantar cucuku ke TK merupakan pengalangan keadailan? Hukum macam apa itu?”

“Itu karena anda mengebut dan melanggar lampu merah. Apa itu? anda mengendarai skuter.”

“Aku tidak akan melakukannya lagi. Biarkan aku lolos kali ini.” wkwkwk emak ngerayu.

“Tidak.” Polisi tetap menulis.

Emak nggak terima. “Sudah aku bilang biarkan aku lolos. Ahhh… anak-anak…. kalian sudah sarapan? Bagaimana jika kalian pergi ke restoranku? Akan aku sajikan sop buntut.” Emak bahkan mengedipkan matanya. Pepeddddd terusss daaahhh…

“Apa yang anda lakukan?” Ucap polisi.

“Tunjukkan belas kasihan ke lansia.” Nenek nempel-nempel terus ke polisi sampai polisinya risih.

Yaaaaakkkkk kekuatan emak-emak.

***

Mmi Sun naik kereta yang saking penuhnya kayak nggak bisa gerak. Sebuah perjalanan pagi yang masih panjang.

***

Emak masuk ke apartemen putrinya yang sudah kayak kapal pecah. Dengan sigap, Emak pun beres-beres seperti pembantu.

***

Dengan kekuatan lari-lari. Kang Mi Sun sampai di bank. Tempat kerjanya. Waktu menunjukkan pukul 8.35…

Sang manager menggebrak meja. “Kalian semua harus lembur. Jika gagal mendapatkan target hari ini.”

Para pegawai hanya diam dengan muka asam mendengarnya.

***

Salah satu rekan kerja memberikan kopi pada Mi Sun.

“Kenapa lama sekali?”

“Ibuku datang terlambat.”

“Pasti berat baginya harus melakukan itu setiap pagi.”

“Aku tahu. Setiap pagi seperti perang.”

“pekerjakan seseorang untuk mengantarkan anakmu ke TK.”

“Aku sudah mencoba. Kamu tahu tidak mudah menemukan seseorang yang baik.”

“Tapi memang tidak ada yang bisa sebaik ibumu.”

Pekerjaan Mi Sun di bank pun dimulai.

***

Setelah Emak selesai dengan tugas bersih-bersihnya. Ia kembali ke restorannya dan melihat adiknya yang baru datang. kini giliran Emak yang mengomel.

“Kamu tahu ini pukul berapa? Kenapa kamu terlambat sekali?”

“Aku masih mengambil semua bahan-bahan.”

“Kamu minum lagi kemarin malam?”

“Sedikit.”

“Dengan grup musikmu lagi?”

“ayolahhh… kami hanya minum sedikit setelah latihan.”

“Lihatlah hidupmu. Kamu sudah berusia 50 tahun, tapi masih minum dengan grup musikmu. Itu tidak akan membuatmu menikah.”

“Lupakan saja. jangan terlalu terobsesi dengan itu karena aku sudah menyerah. Coba pikirkan. Jika aku menikah,  kakak harus bekerja sendiri. kakak dari rumah Mi Sun?”

“Tentu saja. Dari mana lagi?”

“Dia seharusnya berhenti memanfaatkan kakak dan mempekerjakan pembantu. Jaraknya hanya satu stasiun dan kakak ke sana naik skuter lagi, bukan? Sudah kubilang berhentilah mengendarai itu. bagaimana jika kakak mati di jalan?”

“Ini bukan karena kakak mau. Tapi karena kamu terlambat. Di samping itu, gaji dia tidak banyak. Dia tidak mampu mempekerjakan pembantu. Kakak masih sehat, jadi, harus membantunya. Dia bisa menabung untuk membeli rumah dengan begitu. yakkkk tinggalkan bahan-bahan itu di situ. Belilah 3kg buntut sapi.”

“Kenapa?”Tanya paman.

“Ma Ri akan datang hari ini. Ibu tahu dia terlalu sibuk untuk menyiapkan makan. Ibu mau memberinya makan enak.”

“Jangan cemas. Dia bisa mengurus dirinya.”

“Berhetilah bicara dan cepat bekerja!!!!”

Lanjut ke bagian 2 yak. klik di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *