Sinopsis Hotel del Luna Episode 12 Part 2

Sinopsis Hotel del Luna Episode 12 Part 2 – Episode sebelumnya di sini. Selengkapnya kamu bisa cari tahu di tulisan yang ini. terima kasih sudah ngikutin yaaa… Chan Sung tbtb muncul kembali ke Del Luna. Sedangkan Man Wol masih belum percaya. “Jelaskan situasinya. Apa yang terjadi?”

Ji malah menangis. Man Wol berteriak. “Jangan menangis!!!”

Ting. Suara lift terbuka. Chan Sung pun muncul. Man Wol matanya udah merah kayak naik motor nggak pakai helm. Chan Sung terdiam. Man Wol mendekat dengan ost andalan. Man Wol memegang pipi Chan Sung dan ke dadanya.

“Ji Hyun Joong, kamu emang anjing!!!! Asu kau!!!” Man Wol akan menghajar Ji dan Ji malah memeluk Chan Sung.

***

Karena malu. Man Wol balik kanan dan pergi.

Choi dan Kim bersyukur karena mengira Chan Sung datang sebagai seorang tamu. Chan Sung bahkan dipukuli Choi.

***

4 sekawan ini akhirnya mengobrol di bar.

“Kamu pergi ke sana untuk menemui si pembunuh sendirian,  kami tidak bisa menghubungimu, lalu kami mendengar seseorang terluka parah. Aku kira itu kamu.”

“Mengetahui sangat berbahaya, aku tidak sendirian. Aku sudah memanggil petugas polisi yang kukenal.

Kilas balik. Saat Chan Sung akan dilukai. Yeon Woo datang.

Nahh lanjut ke obrolan. “kerja bagus, lalu siapa yang terluka?”

“Pelakunya.”

*Saat itu Seo Ji Won malah memecahkan botol dan menggorok lehernya. *mian nggak kasih foto. Ngeri.

“Dia langsung dibawa ambulance, jadi, dia akan hidup untuk membayar atas apa yang dia perbuat.”

“Syukurlah. Aku sudah sangat terkejut karena kupikir kamu datang sebagai tamu.”

Yang mereka lakukan malah bersorak karena Jang Sajang merasa khawatir. Wkwkwk.

****

Chan Sung datang ke Man Wol dengan membawa anggur. “Jang Man Wol. Dari mana saja kamu?”

Man Wol membawa keresek besar dan isinya adalah obat-obatan. Plester dkk.

“Apa kamu pergi ke apotek?”

“Ya. Di sini tidak ada apa pun yang dapat mengobati manusia.”

Man Wol melihat kondisi Chan Sung dan malah bingung apa yang harus dioleskan. Yang dioleskan ke dahi Chan Sung malah salep untuk sembelit. Yang dimasukkan ke dalam anu. Wkwkwkw.

“Apa kamu takut aku datang ke hotel sebagai tamu? Bagaimana bisa kamu yang paling bingung dan terkejut?”

“Karena aku takut. Bagaikan dunia berubah menjadi gelap gulita, aku takut. Tidak peduli bagaimana putus asanya aku cari uang, aku tidak pernah melakukan ini, kamu membuatku terlihat seperti orang bodoh. Semua karyawan juga melihat. Tunggu di sini, aku akan cari tamu apoteker yang masih hidup.”

Tangan Man Wol ditarik Chan Sung.

“Sepertinya kamu yang terkejut. Bagaimana kalau kamu yang meminum obat?”

Dan malah dipeluk. “Kamu sangat ketakutan.” Puk puk.

“Apa kamu apoteker?”

“Aku seharusnya menjagamu. Aku juga punya kabar bagus, Yeon Woo mu yang menemukannya. Dia mungkin akan dipromosikan.”

***

Detektif ada di rumah Seo. “Aku menemukan semua obat-obatan dan alat suntik yang dia gunakan untuk membunuh para korban.”

“Kelihatannya dia secara ilegal menyelundupkan narkoba sambil mengimpor anggur.”

Botol tulisannya Hello. “Ini pasti situs webnya, hello. Tempat orang mengumpat. Apa kamu menemukan Seo Ji Wan di situs web?”

“Sebenarnya aku menemukan petunjuk.” Ucap Yeon Woo. *jadi dia dapat telepon misterius.

Seo Ji Won juga memasukkan darah dan memasukkannya dengan anggur.

***

Man Wol menyuruh Chan Sung pulang dan membawakan barang-barang. Ada penutup tidur, alat pijat, botol anggur dan kaviar.

“Kamu memberikan hal yang berharga bagimu?” tanya Chan Sung.

“Ambil salah satu mobilku karena aku punya banyak… ah tidak, kamu harus mengemudikannya.”

“Benarkah?  Mobil merah. Bisalah aku mengambil yang merah?”

“Apa? Kenapa? Apa kamu suka merah? Kamu tidak suka merah.”

“Aku suka.”

“Baiklah kalau begitu. Silakan kendarai mobil merah. Mobil merahnya Cuma satu, kamu mengambilnya.”

“Terima kasih.”

*agak nggak ikhlas gitu. *Chan Sung sengaja ngambil yang merah karena itu mobil kesukaan Man Wol.

“Bagaimanapun Yeon Woo pasti bingung. Dia mendapatkan petunjuk dari hantu. Dia hanya punya tubuh yang besar. Dia takut terhadap hantu.”

“Yeon Woo begitu? Kamu pasti tumbuh dengan dia dari kecil.”

“Ibu Yeon Woo membesarkanku. Ketika aku masih sangat kecil. Aku sekarat di alam liar. Seorang pedagang lewat menyelamatkanku. Dan itu Ibu Yeon Woo. Dia meninggal tak lama setelahnya. Yeon Woo dan aku bagaikan kakak adik. Begitulah aku hidup. Dia tangkas dan membuatkan pakaian untukku.”

“Sepertinya dia menjalankan kehidupan yang baik saat menjadi polisi sekarang.”

“Kupikir ini pertama kalinya aku menceritakan masa kecilku.”

“Ya.”

Lanjut ke bagian 3 ya… klik di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!