Sinopsis Mother of Mine Episode 10 Part 1

Sinopsis Mother of Mine Episode 10 Part 1 – Episode sebelumnya ada di sini. selengkapnya kamu bisa cari tahu di tulisan yang ini yaaaaaaaaaaaahhh…

Kini Tuan Han hanya bicara berdua dengan Jeon In Sook.

Tuan Han membaca laporan kartu kredit. “Apa yang dia lakukan di Miami? Kenapa dia terus membeli mantel bulu di negara panas? Apa yang dia lakukan di sini?”

In Sook menjawab. “Karena pengelurannya naik. Aku mencermati detailnya. Dia membeli satu untuk ibunya dan dirinya sendiri. dia membelinya saat periode diskon. Ulang tahun ibunya akan segera tiba tiga hari lagi.”

“CKCKCKCK… dia sudah hilang akal.”

“Tae Ho bilang menjalani golf sejak pekan lalu. Itulah alasan pengelurannya meningkat juga.”

“Ha haaa… begitukah? Tae Ho melakukan panggilan video denganku waktu itu. hanya dia yang peduli kepadaku. Aku tidak pernah tahu bocah 10 tahun bisa semenggemaskan itu. selagi Tae Joo tumbuh, aku sibuk bekerja. jadi, aku tidak tahu rasanya puas membesarkan anak. Kurasa itu alasan orang-orang punya anak saat sudah tua.” Tuan Han terus tertawa. “Bagaimana kabar dia?”

“Sama seperti biasa. Dia pergi golf, ke pusat kebugaran, salon kecantikan, panti pijat…”

“Aku mengutusnya untuk menyokong anakku. Tapi dia benar-benar menikmati hidupnya. Awasi dia dan jangan biarkan dia mengacau.”

“Baik… Tae Joo sudah pindah ke apartemen studio. Itu cukup luas, harganya masuk akal, dan hanya berjarak 5 menit dari kantor.”

“Bagus. Dia apa kabar? Kuharap dia tidak bekerja sebagai instruktur lagi.”

“Dia sudah berhenti dari semua pekerjaan paruh waktu begitu diterima di perusahaan. Dia bekerja dengan baik di perusahaan.”

“Kuharap dia makan dengan teratur.”

“Aku sudah memenuhi kulkasnya beberapa hari lalu.”

“Jangan berlebihan. Kamu akan memanjakannya.”

“Tae Joo bukan anak seperti itu. aku yakin pimpinan mengenalnya dengan baik.”

“Hanya saja, kamu memperlakukannya seolah-olah dia anakmu.” Ohhh yeepppp bukan anak kandung. “Aku bilang begini demi kebaikanmu sendiri.”

“Dia memang sudah seperti anakku. Begitulah aku membesarkannya.”

“Kapan hari peringatan Sung Soo?”

“Bulan depan.”

“Astagaaa… bedebah… dia membuatku tidak punya sandaran. Kenapa dia harus cepat meninggal?”

“Salahkan aku untuk itu. dia tidak berbuat salah.”

“Kabari sekertaris Kim dahulu. Aku akan terlambat ke sana.”

“Baik.”

“Soal Bu Kang… awasi dia. Tae Joo nantinya akan bertanggung jawab atas perusahaan. Jika dia mengajari Tae Joo, kamu harus berhati-hati dan mengawasinya.”

“Baik, aku akan melakukan itu, Pak Han.”

***

Tae Joo masih dikerjai Kang Mi Ri. Suruh ini dan itu… jadi tukang fotokopi dan kurir angkut dokumen dari departeman satu ke departemen lainnya.

Sementara Mi Ri malah pulang lebih awal karena alasan pribadi.

***

Mi Ri malah menjemput Da Bin di TK.

“Imo… kemari menemuiku?” Tanya Da Bin. “Imo mau menjemputku?”

“Tentu saja. Imo mau menemuimu karena sudah lama sejak terakhir menemuimu.

***

Mi Ri pun menelpon Mi Sun.

“Aku sudah menjemput Da Bin.”

“Kamu mau melakukan apa dengannya?”

“Kakak masih kesal? Kubilang aku minta maaf. Berhentilah marah.”

“Apa? Kamu mau membayar pembantu? Kamu mau menyombongkan kekayaanmu pada kakak?”

“Aigooo… kaka sudah cukup bertingkah. Itu karena aku marah kepada Ibu. Aku tidak membenci kakak. Aku akan bersenang-senang dengan putri kakak. Aku akan membiarkannya tidur di apartemen studioku dan mengantarnya pulang besok malam.”

“Besok malam? Kamu tidak bekerja?”

“Aku cuti.”

“Apa terjadi sesuatu?”

“Tidak… aku menyadari tidak ada gunanya mendedikasian diri untuk pekerjaan. Aku akan fokus kepada ponakanku saja.dengan begitu, dia akan bermain denganku saat aku menua dan kesepian nanti.” Mi Ri pun mematikan ponselnya.

***

Sementara itu, di kantor, Mi Sun membantu seorang Ibu yang butuh dana cepat karena terjadi kecelakaan.

Nona Seo pun bertanya pada Mi Sun. “Siapa dia?”

“Aku bertanggung jawab atas dia di asosiasi bank. Sejauh yang kuingat. Anaknya seusia Da Bin. Itu amat memilukan.”

“Para Ibu paling mengerti perasaan Ibu lainnya.”

Dan untungnya pinjaman itu akhirnya dikabulkan…yeahh sih yaa… sesuai sama tema drama ini tentang Emak. Mi Sun juga seorang Ibu.

***

Woo Jin masih dengan pekerjaannya. Peter bertanya. “Kamu tidak pergi?”

“Tidak.”

“Ayolahh”

“Kamu tahu aku benci pesta.”

“Kita hanya makan malam dengan beberapa orang. Mari makan steik dan minum anggur. Ini untuk gizimu.”

“Aku mengasup giziku dengan ini.” Woo Jin memunjuk kepalanya.

“Penulisnya bagus?”

“Ya. sejauh ini.”

“Dia tidak bisa berbohong.”

“Berikan punyaku ke Dol Dam. Wkwkwkw intinya kasih ke anjing aja.

***

Woo Jin pergi ke pasar untuk membeli makanan. Di tempat yang ia tuju, ada Mi Hye sedang mabuk.

“Ahjumma…”

“Ohh kamu di sini.” Sapa ahjumma. “Mi ikan bilis, bukan?”

“Ya.”

“Aigoo… kedua anak editor kepala sama-sama kemari hari ini.”

“Apa?” Woo Jin bingung.

“Maksudku dia.” Ahjumma nunjuk ke Mi Hye.

Melihat Mi Hye. Woo Jin akan beranjak dari tempat duduknya. Namun ahjumma berkata. “Mau ke mana? Makanan akan siap.”

“Ahh yaa… tolong buat dengan cepat.”

“Baik. Tunggu sebentar.” Ahjumma berkata pada Mi Hye. “Agasshi.. kamu harus berhenti minum sekarang. kamu sudah minum sejak siang. Tapi kamu memang sering begini dengan Pak Kim ketika dia masih ada. agashhi kamu harus berhenti minum.” Ahjumma masuk ke dalam. Woo Jin yang tidak sabar pun meletakkan uangnya di meja. Ia akan pergi.

Tapi Mi Hye berkata. “Kardigan itu hadiahku untuknya. Saat aku berikan kepadanya, dia menyukainya. Dia amat senang sampai bilang akan mengenakannya bahkan ke pemakamannya sendiri.”

“Kang Mi Hye sshi….”

“Karena kini dia sudah tidak ada. anaknya yang lancang mengenakan kardigan itu. aku berarti harus minum lagi.”

Mi Hye minum lagi tapi botolnya diambil oleh Woo Jin. “Berhentilah minum.”

“Kemari Makarel Panggang. Kamu tampak seperti makarel panggang. Ahjummaaaaa… aku mau satu botol soju lagi.”

“Kubilang berhenti. Kamu tidak merasa akan lebih memalukan di mata ayahku jika membicarakannya seperti ini?”

“Benar. Aku memang mempermalukan Pak Kim. Aku bukan hanya mempermalukannya. Aku membuatnya seperti orang bodoh di ranah sastra. “Dia anak baru yang menyeramkan”. “Dia akan menjadi penulis yang hebat”. “Dia berbakat bagi ranah sastra korea”. tapi aku hanya mengecewakannya. Aku gagal. Aku terjebak di kamarku selama 9 tahun, tapi aku tidak bisa menulis satu baris pun. Aku mengecewakannya. Kamu tahu, aku amat malu dengan Thirty is fall juga. Aku juga merasa itu buruk. Itu sampah. Itu ditulis dengan buruk. Aku menyadarinya. Walaupun kamu tidak lantang mengatakannya, semua penulis tahu. Walaupun kamu tidak bertingkah sombong dan angkuh untuk menjatuhkan harga diri mereka, mereka tahu itu melebihi apapun. Mantan pacarku yang pecundang…menjadi pria sukses. Keluargaku mendesakku untuk menikahinya. Saat pelanggan datang, aku sibuk melayani mereka. aku juga harus memandikan dan menidurkan keponakanku saat dia pulang dari TK.”

Woo Jin mendengar dengan diam. Mi Hye bicara sambil menangis. “Aku tidak sempat berkarya. Apa kamu kira aku mau menulisnya seperti itu? aku hanya mau memercayai kemampuanku, sedikit rasa percaya diri, dan pujian serta kenyamanan. Itulah alasanku menemui Pak Kim, tapi anaknya yang lancang tidak bisa dipahami. Dia terlalu kejam….”

Mi Hye menangis dan muntah di baju Woo Jin..

Lanjut ke bagian 2 ya. klik di sini…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *