Sinopsis Mother of Mine Episode 11 Part 1

Sinopsis Mother of Mine Episode 11 Part 1 – Episode sebelumnya ada di sini. selengkapnya kamu bisa cari tahu di tulisan yang ini.

Usai basah-basahan. Akhirnya Mi Ok dan Jin Soo mengganti pakaian mereka di rumah Emak.

Mi Ok berkata. “Aku tidak tahan lagi. Wanita itu sudah keterlaluan!!! Tidak akan kubiarkan dia!!!!” Mi Ok mau menyerang dengan serangan hame hame ke Emak tapi ditahan oleh putranya.

“Omma… Tahan. Bu Park sudah minta maaf. Dia juga terkejut. Omma lupakan saja.” Jin Soo malah memeluk Ibunya. “Omaa. Aku tidak bisa hidup tanpa Ibu. Tapi aku tidak bisa hidup tanpa mertuaku.”

“Apa?”

“Aku lelah menyiapkan Da Bin ke TK. Aku benci rumahku berantakkan dan tidak tahan memakai baju lecek. Yang paling penting. Aku mau makan sosis.” Wkwkwkkw. “Aku mau makan sosis buatannya!!!”

“Kamu ini!!!”

“Sosis buatan mertuaku sangat enak. Mungkin dia memasukkan obat atau semcamanya di dalamnya. Rasanya sungguh luar biasa. Jadi. Tolong tahan rasa marah Ibu demi aku.”

“Omong-omong. Bau apa ini?” Tanya Mi Ok. “Bukankah ini bau kain lap? Tunggu… wanita itu menyiram kita dengan air kotor? Tidak akan kubiarkan!!!”

Lagi-lagi putranya menghalangi. “Omma… aku yakin dia tidak sengaja. Aku tidak mencium bau apa-apa.”

“Baunya menjijikan.”

Sampai akhirnya Jin Soo menyemprot Ibunya dengan obat nyamuk. Wkwkwkw

***

Di sisi lain. Emak dan Kakek Da Bin malah ngobrol dan saling tertawa. Kakek menceritakan tentang Da Bin yang mewarnai kukunya.

Kemudian Mi Ok dan Jin Soo pun datang.

“Ohhh Mi Ok, baju itu cocok denganmu.” Ucap ayah. “Kamu benar-benar mirip seperti pekerja paruh waktu.” Wkwkkwkw.

***

“Bu, anda butuh satu buah dokumen untuk memenuhi standar transfer.” Ucap Mi Sun pada nasabah yang datang. “Untuk membuktikan hubungan Anda dengan pemegang rekening, kami butuh transkrip resmi atau KK.”

“Yakk… kenapa kalian butuh itu? kamu tidak tahu Lee Yoon Hee? Dia itu putriku. Berapa kali harus aku katakan? Putriku tidak bisa kemari karena dia bekerja. jadi, aku menggantikannya. Ahhh aku sudah bertransaksi di bank ini bertahun-tahun. akan aku tutup rekeningku di bank ini.”

“Aku sangat ingin menolong anda. Tapi jika manager keuangan tahu dokumennya menghilang, kami akan terkena masalah. Belakangan ini, perarturan memang sangat ketat. Aku tidak bisa apa-apa.”

“Kalau begitu, kamu mau aku kemari dan membawa dokumennya? Aku tidak punya waktu ke pusat layanan masyarakat.” Masih ngomel terus…

Nona Seo ikut bicara. “Sekali sepekan, cabang kami tutup lebih lama. Biar putri anda saja yang datang saat itu. bisakah dia kemari? Tidak merepotkan?”

“Benarkah??? Lantas bilang saja dari tadi. Kamu malah mempermainkanku.” Nasabah pun pergi.

Mi Sun ada panggilan dari Paman Young Dal. Paman pun menceritakan apa yang terjadi di kedai. Mi Sun sangat kaget karena paman bercerita Ibunya diberikan rangkaian bunga mawar sebanyak 100 tangkai.

***

Kakek Da Bin memberikan bunga. “Ini tidak seberapa. Tapi ini wujud perasaan kami. Selama ini ada jarak di antara kita. Meski rumah kita saling berdekatan, kami tidak pernah mengunjungimu. Kami bahkan menyerahkan Da Bin kepadamu. Tapi kami tidak pernah berterima kasih. Tolong terimalah permohona maaf kami.”

“Aahhh tidak apa-apa Pak Jung,”

“Entah bagaimana, kamu yang mengurus Da Bin. Kami pun mengira Mi Sun akan merasa tenang jika begitu. jadi, kami hanya diam dan tidak melakukan apapun. Kami pun menyadari tidak pernah melakukan apa-apa sebagai kakek dan nenek Da Bin. Intinya. Kami sangat minta maaf. Mulai sekarang, jika ada yang membebanimu, atau kamu ada kegiatan lain, jangan ragu hubungi kami. Kami akan segera datang dan membantumu.”

Emak sampai terharu. “Kamu baik sekali sudah berkata begitu. Da Bin adalah cucuku, jadi sudah jelas aku harus mengurusnya. Kamu tidak perlu membawa ini, tapi bunga ini sangat cantik…”

“Syukurlah kamu menyukainya. Bunga ini tidak ada apa-apanya dengan kerja kerasmu. Kami tidak tahu bagaimana menunjukkan rasa syukur kami. Kami ingin menyiapkan hadiah untukmu, tapi tidak ada yang terpikirkan.” Kakek Da Bin sangat memuji Emak.

****

Peter kembali pulang dari pesta. Sementara itu Woo Jin memperlihatkan lembaran pada Peter. “Lihatlah ini. aku menemukan ini di bawah meja lantai satu.”

Peter pun melihatnya. “Tunggu… ada jejak kaki Dol Dam. Kang Mi Hye….Twenty Is Winter (Peter melhat buku Mi Hye). Thirty is Fall? *Peter melihat naskah.

“Karena inilah judulnya terdengar familier. Dasar tukang tiru menyedihkan.”

“Maksudmu,, Kang Mi Hye itu adalah orang yang kita cari?” Tanya Peter.

“Sialnya, itu benar. Selain itu, dia ada di sini.”

Dan Peter kaget melihat Mi Hye di sofa. “Apa yang terjadi?”

“Seharusnya aku pergi ke pesta denganmu.”

“Yahhh dunia memang penuh dengan keajaiban. Siapa sangka kita akan bertemu dengan cara ini. omong-omong kenapa kita tidak mengenalinya?”

“Meneketehe…”

***

Mi Hye pun bangun. ia sadar dan malu sendiri. mencoba pergi dengan mengendap-endap.

Di lantai 1. Peter dan Woo Jin sedang mengobrol.

“sebagai penulis, kita harus punya bakat. Penulis berbakat ditakdirkan menulis karya bagus hanya jika mereka bertahan saat kemerosotan.” Ucap Woo Jin sambil membaca koran.

“Setuju… makanlah roti lapisnya sebelum pergi.” Teriak Woo Jin pada Mi Hye yang mengendap-endap.

Lanjut ke bagian 2 ya. klik di sini kelanjutannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *