Sinopsis Mother of Mine Episode 15 Part 3

Sinopsis Mother of Mine Episode 15 Part 3 –  Episode sebelumnya ada di sini. selengkapnya kamu bisa cari tahu di tulisan yang ini yaaaaaa….

Mi Sun menutup pintu kemudian berteriak…… “YAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKK, asataaaagggaaaaa berandalan, dia kenapa?”

“Apa maksud kakak?” Jawab Mi Ri ketus.

“Kenapa pria itu ada di sini?”

“Memangnya mau kakak apa?”

“Ceritakanlah.”

“Dia kolegaku di kantor, rekan baru.”

“Hanya kolega?”

“YAA.”

“Jika hanya kolega, untuk apa dia kemari pada akhir pekan yang berharga ini?”

“Ahhh… karena dia tinggal di lantai 14 apartemen ini. aku juga terluka saat bekerja di luar kemarin. Sudah puas?”

“Dia tinggal di apartemen ini?”

“Unnieee… sudah cukup.”

“Baiklah… ahhh seharusnya kuberikan dia beberapa hidangan pendamping.”

“unieeee!!!!”

“Jangan hentikan kakak. Kamu harus memiliki pria yang sering mengunjungimu. Jika tidak, mustahil ada kemajuan.”

“Bukankah kakak melarangku untuk menikah?”

“Kakak memang melarangmu untuk menikah. Tapi tidak melarangmu untuk berkencan. Jika ada pria baik, kencanilah dia. selain itu, dia tampan dan lebih muda darimu. Kamu seharusnya memperjuangkannya. Dari yang kakak lihat, dia menyukaimu….”

“Unnie sudah gila?”

“Lantas, untuk apa dia membawakan ini? takut kamu tidak punya uang untuk membelinya?”

“Dia hanya merasa bersalah karena membuatku terluka.”

“Meski begitu… sulit menjadi atasan semacam ini.”

“Mungkin dia mau mengambil hatiku agar mendapatkan promosi.”

“Perlukah kamu berkata begitu?yaaaakk dicoba saja dia. mengencani pria lebih muda sedang tren sekarang.”

“Unnie sungguh sudah gila? Kakak mau aku melakukan apa dengan bawahanku? Kakak ini parah sekali.” Mi Ri memukuli kakaknya.

“Lantas, kenapa kamu tersipu malu?”

“Aku tidak tersipu.” Sumpahhhh Mi Ri lucu banget waktu tersipu, sampe nutup mukanya dengan menyilangkan tangan. “Ini karena kakak bersikap konyol.”

“Aigoooooo…. wajahmu benar-benar memerah.”

“Terserahlah…. pulang sonoloh!!!!”

“Wajahmu merah sampai leher.”

“Panassss,,,” Mi Ri kegerahan.

“Wajahmu merah membara….”

“Kubilang sono balik luhhhh….”

“Unnie tahu kamu menyukainya.”

Kali ini… Mi Sun pergi dengan bahagia.

***

Mi Ri kini mendatangi apartemen Jin Soo.

“Bu Kang….”

Mi Ri membawa makanan. “Kakakku menyuruhku untuk memberikan ini kepadamu.”

“Terima kasih, Bu.”

“Aku membagikan ini denganmu karena kita bertetangga. Juga karena kamu sudah meminjamkanku bantal pemanas.”

“Waaahhh nampaknya enak. Terima kasih.”

“Dengar…. kenapa kamu ke tempatku tanpa mengabariku lebih dahulu?”

“Apa?”

“Kakakku salah paham soal kita.”

“Soal apa?” wkwkwkwkwk Tae Joo polos banget yaaaaa Tuhan.

“Intinya, hubungi aku dahulu sebelum mau pulang. meski aku yakin kamu tidak akan datang lagi. Sudahlah…. permisi!!!”

“Bu Kang…”

“apa?”

Tae Joo melihat Mi Ri dengan saksama. “Hari ini anda tidak memakai make up.”

“Tidak… aku sudah memakai alas bedak. Memangnya kenapa? maksudmu, aku harus memakai riasan penuh bahkan saat akhir pekan di rumah kalau-kalau kamu datang berkunjung?”

“Bukan begitu… anda nampak lebih lembut. Anda nampak lebih baik tanpa riasan apa pun.”

“Bu Kang….”

“Apa?”

“Pergelangan kaki anda sudah sembuh?”

“Kubilang tidak apa-apa. Baik-baik saja.” wkwkwkwk Mi Ri sampai gejog bumi gitu.

“Ahhh syukurlah. Apa kegiatan anda hari ini?”

“Bukan urusanmu.”

“Bu Kang….”

“Apa….”

“Aku bosan.” Wkwkwkkwkwk…

****

Mi Sun melaporkan semuanya pada Emak.

“Sungguh?” Emak kaget.

“Tapi aku belum sepenuhnya yakin Omma.”

Paman Young Dal ikut kaget. “Apa? Benarkah?”

“Aiii samsun… jangan bereaksi berlebihan. Kubilang aku belum yakin.”

“Tetap saja. ada pria mengunjunginya, ke tempat tinggalnya langsung.” Ucap Paman.

“Mereka satu gedung apartemen.”

“Apa? Mereka apa? Mereka hidup bersama?” wkwkwkw paman kumahaaa sih.

“Mereka tidak hidup bersama. Hanya tinggal di satu gedung apartemen.”

“Yakkkk itu sama saja. hanya pasangan yang sudah menikah yang boleh hidup bersama.”

“Ahhh samcun kubilang bukan begitu….”

Emak pun angkat bicara. “Ahhh diamlah. Memang apa salahnya jika meraka hidup bersama?”

“Omma….”

“Noonaaa….”

“Mari kita jujur saja. kamu mau Mi Ri sepertimu? Kamu mau dia melajang sampai seusiamu? Dia harus menikah bagaimana pun caranya.”

“Yaaakkk tidak kusangka kamu begonohhh…” Ucap paman pada Emak.

“Bagaimana orangnya? Dia tampak baik?” Tanya Emak pada Mi Sun. “Kepribadiannya bagaimana?”

“Ya. dia tampaknya baik.”

“Menurutmu berapa usianya?”

“Aku tidak yakin soal itu.”

“lantas apa yang kamu ketahui?” wkwkwkkw emak ngomel nih.

“Aku tidak punya banyak kesempatan untuk tahu. Mi Ri si berandalah itu rewel banget. Aku bahkan tidak mengobrol dengannya dengan layak.”

“Ibu harus menikahkannya dalam waktu dekat.”

“Ommma… jadi jangan khawatir. Mi Ri baik-baik saja. dia nampaknya berkencan dengan orang baik juga.”

“Bagus sekali jika itu benar.”

“Kak Mi Ri mengencani seseorang????” Suara ini tbtb muncul dari Mi Hye yang kagak tahu dah nongol dari mana.

“yaaakkk kapan kamu keluar?” Emak kaget.

Dan tbtb juga da Jae Bum. “Kuharap hubungannya akan lancar”

Kini Mi Hye yang kaget. “Yakkk kapan kamu datang?”

***

Mi Hye dan Jae Bum pun bicara sambil jalanan.

“Waaahhhh sungguh mengejutkan. Kang Mi Ri dengan temperamennya yang buruk itu? punya pacar????”

“Kamu juga sudah punya, apa salahnya?”

“Elu mau mati ya? kenapa kamu kemari lagi? Kamu tidak menulis?”

“Dengar penulis Kang… aku sudah menyelesaikan dua naskah saat fajar tadi. Dan baru keluar untuk makan. Kamu mau ke mana?”

“Kamu tahu kemana…. Dol Dam Gil.”

“Kenapa?”

“aku penulis tanpa ruang kerja. Jadi, diberikan ruang kosong di kantor. Aku mau ke sana untuk menulis. apa masalah?”

“Lantas, ke ruang kerjaku saja…”

“Tidak perlu!!! Untuk apa aku menulis denganmu? Kita berdua berkecimpung di dalam industri yang berbeda.”

“Baik. Akan kuantar ke sana.”

“Nggak usah.”

“kalau begitu. aku akan menjemput kalau sudah selesai.”

“Tidak boleh. Kamu tidak boleh datang.”

“Baiklah… semoga berhasil menulisnya dan makan dengan baik.”

“Baiklah…”

Wkwkwkwkwkkwkw…. hidup Jae Bum!!!!!! Pepet terus.

****

Mi Hye menatap gedung Dong Dam Gil sambil berkata. “Sungguh hidup yang mengerikan. Dialah orang yang membeli salinan buku terakhirku. Ahhhh aku tidak mau masuk ke sana. Tapi harus.”

Nggak biasanya… di Dong Dam Gil lari rame perkumpulan anak muda yang sedang membahas buku.

Mi Hye datang dengan wajah kecutnya di depan Woo Jin.

“Ada apa denganmu?” Tanya Woo Jin.

“Apa?”

“Kamu terlambat dan memakai pakaian tidak layak. Ini bukan toko buku komik.”

“Karena kamu membuatku bekerja bahkan saat akhir pekan.”

“Kamu sudah membaca kontraknya….kamu akan menerima upah lembur.”

“Aku lupa karena tidak membacanya dengan saksama. Peter dan Dol Dam bahkan tidak bekerja. kenapa hanya aku? Aku tidak lebih baik dari anjing?”

“Terserah lu… sajikan kopi untuk mereka.”

“Siapa mereka?”

“Mereka anggota sebuah klub buku dan mengadakan pertemuan rutin di kafe ini.”

“Klub buku? Mereka nampak masih muda.”

“Kenapa?  kamu tidak tahu karena selalu terjebak dalam ruangan? Banyak klub buku yang anggotanya berusia antara 20 sampai 30an. Ini perkumpulan sekelompok anak muda yang mencoba memecahkan masalah mereka melalui buku. Saat masalah itu sulit terselesaikan hanya dengan meminta opini teman.”

Mi Hye kemudian memberikan kopinya.

Woo Jin bertanya. “Buku apa yang kalian bahas saat ini?”

Salah satu anggota menjawab. “Buku ini sudah lama diterbitkan. Cukup kontroversial tahun 2010. Judulnya Twenty is Winter.”

Woo Jin berkomentar… “Ahhh buku yang menarik. Selamat bersenang-senang. Kalian bisa memanggilnya (Mi Hye) saat membutuhkan sesuatu. Dia pekerja paruh waktu di sini.”

Mi Hye membagikan kopi sambil nguping apa yang orang-orang ini bicarakan.

“meski buku ini ditulis 9 tahun lalu, penulisnya memiliki wawasan mengenai keadaan sosial.”

“Benar. “jangan hanya mengatakan masa muda itu berharga. Kami semua kesakitan.” Itu adalah sudut pandang yang unik bukan? Jadi, penulis ini menyebabkan kebingungan hebat dalam dunia literasi.”

“Sejujurnya, karena pandangan kritis dan masalah berat sang penulis, buku ini nampak tidak mudah dipahami.”

“Yaaa… benar… buku ini nampak tidak mudah dipahami. Buku ini tampaknya menusuk realitas. tapi ini terlalu sentimental. Terasa seperti membaca kutipan pendek dari soal ujian masuk kampus.”

“Kurasa karena itulah penulisnya berhenti menulis. penulisnya menghilang. Sudah jelas penulisnya berhenti. Ahhh lagian. Banyak penulis berhenti usai buku pertamanya. Aku kasihan pada penulisnya.” Kemudian buku ini dibanting. Melihatnya… Mi Hye tak sengaja menjatuhkan gelas yang dia baca.

Panik membersihkan pecahan… tangan Mi Hye pun terluka. Ia membasuhnya di bawah air yang mengalir.

Bersambung…. klik di sini episode selanjutnya.

Komentar…

Di episode ini… rasa-rasanya saya menang banyak. Saya sedih di part 1. Kemudian part 3 bikin saya mesem-mesem karena sikap Mi Ri yang keknya malu banget sama Unnienya.

Masalah belum rumit. Baik Tae Joo dan Mi Ri belum sama-sama “jatuh cinta”. Tapi sukanya saya sama drama yang punya episode panjang adalah ketika ada cinta. Hubungan ini benar-benar natural dan nggak grasak grusuk. Diam-diam tumbuh tanpa disadari para pemainnya. Begitulah.

Dan sampai di episode 15 ini, saya suka aja sama cerita Mi Ri dan Tae Joo tanpa melihat konflik apa yang akan muncul jika mereka benar-benar berhubungan.

Jadi, saya harus membenarkan kata seseorang…

Cinta selalu sederhana. Sementara tidak dengan hubungan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *