Sinopsis Mother of Mine Episode 16 Part 2

Sinopsis Mother of Mine Episode 16 Part 2 – Episode sebelumnya ada di sini. selengkapnya kamu bisa cari tahu di tulisan yang ini yaaaaaaaaaaa….

Mi Sun akhirnya pulang. Jin Soo bertanya. “Kamu ke mana seharian? Aku mengawasi Da Bin seharian dan memasakkan makanan untuk ayah. Aku lelah.”

“Sudah kubilang aku pergi menemui ibuku.”

“Apa dia sakit hari ini dan kemarin?”

“Ada urusan.”

“Apa yang terjadi?”

“Ibuku agak sakit dan aku harus mengunjungi Mi Ri. Jadi, aku mengunjunginya dan membantu Ibu di restoran.”

“Kenapa kamu harus melakukan semua itu? apa kamu putrinya satu-satunya?”

“Hah… maap yeee Jung Jin Soo Sshi… kamu sudah lupa ibuku berbuat apa untuk kita?”

“Dia….”

“apa kamu akan seperti ini?”

“Kamu terus menemui ibumu, jadi…”

“Aku tidak peduli, berhentilah bicara. Aku mau tidur.”

***

Sementara itu Mi Ok dan Kakek masih bermain kartu. Karena merasa sudah kalah, kakek meminta istrinya untuk menghentikan permainannya.

Ehh Mi Ok malah ingin main sampai uang dari istrinya habis.

***

Tae Joo saat malam hari, di apartemennya nampak sangat kesal. Ia kesal karena Mi Ri pergi begitu saja.

“Sesepele itukah aku anak baru di mata Bu Kang Mi Ri. Apakah dia sungguh menemui mantannya? Ahhh aku tidak peduli.”

Tae Joo pun pergi ke bawah untuk cari makan. Di lorong ia bertemu Mi Ri yang wajahnya sangat ceria.

“Han Tae Joo Sshi…. kamu mau ke mana?”

“Hai…” Tae Joo keknya cemburu deh. Wkwkw.

“Kamu mau ke mana?”

“Makan malam.”

“Makan malam? Selarut ini?”

“Ya. anda pasti baru pulang.”

“Aku menemui seseorang, lalu ke kantor untuk menyelesaikan beberapa hal.”

“Ahhh begitu ya? anda ke kantor. Naiklah kalau begitu.”

“Han Tae Joo Sshi ada apa denganmu? Kamu marah kepadaku?”

“Tidak…” Tae Joo nyelonong pergi.

“Baik… aku minta maaf. Aku minta maaf.” Tae Joo pun nengok pas Mi Ri minta maaf. “Kamu cukup pengertian membawakan bantalan panas dan menemuiku seharian karena aku takut bosan. Kamu kesal aku meninggalkanmu.”

“Anda tahu.lantas, merasa bersalah.”

“Han Tae Joo Sshi… jangan seperti itu.” Ucap Mi Ri saat Tae Joo masih kesal dan pergi. “Aku akan mentraktirmu makan. Jangan marah. Mau ke mana? Restoran yang waktu itu kita datangi?”

“Itu sudah tutup selarut ini. anda tahu ini pukul berapa?”

“Ahhh ini sudah malam.” Mi Ri melihat jam tangannya dan waktu menunjukkan pukul 10.17pm. kita sebaliknya ke mana?”

Tae Joo masih berjalan… kemudian Mi Ri merasa kakinya kesakitan. “Ahh pergelangan kakiku masih sakit.”

Tae Joo dengan sigap langsung menggandeng Mi Ri. “Omooo apa yang kamu lakukan?”

“Kenapa memakai sepatu hak tinggi? anda tidak bisa menunggu? Bersandarlah dan bergantunglah kepadaku.”

Mereka pun berjalan. Manis banget. “Kita mau ke mana?”

“Kedai gamjatang 24 jam. Aku mau gamjatang.”

“Baik. Mari makan gamjatang. Kamu sangat marah?”

“Ahhh jangan tanya deh.”

“Siapa yang menang permainan dart?”

“Siapa yang menang? Tentu saja aku.” Jawab Tae Joo. “Anda berutang makan malam.”

“Bukankah sudah tidak berlaku?”

“Tidak… anda kabur.”

“Baiklah. Mari makan gamjatang.”

***

Emak menelpon Mi Ri malam-malam.

“Omma….”

“Kamu sudah tidur?”

“Tidak apa-apa kok. Kita bicara saja.”

“Ibu merasa amat cemas.”

“Kenapa Ibu cemas?”

“Ibunya Mi Ri. Kenapa dia muncul tiba-tiba?”

“Dia tidak bertanya banyak. Dia bilang mau keadaannya tetap seperti ini.”

“Lantas, dia seharusnya tidak muncul. Kenapa dia datang setelah 28 tahun hanya untuk bilang begitu?”

“Entahlah Bu. Intinya Mi Ri baik-baik saja. walaupun sesuatu terjadi, dia sudah bukan anak-anak lagi. Dia sudah cukup dewasa untuk menghadapi itu.”

“Dia tidak bisa menghadapi apapun. Kamu tidak tahu. Mi Ri lemah lembut. Dia tidak pernah bilang apa-apa. Tapi coba pikirkan. Dia 6 tahun saat itu, dia seusia Da Bin. Apa menurutmu Da Bin tidak tahu atau tidak menyadari apa pun? Da Bin bahkan tahu siapa yang suka padanya dan tidak suka padanya. Dia paham betul. Seusia itu, ibunya Mi Ri meninggalkan Mi Ri dengan kita dan tidak pernah berkunjung sekali pun. Betapa sakit hatinya dia…. astagaaa…” *Aaahhh sumpah saya nangis lihat akting Emak. “Gadis kecil itu tumbuh dengan amat gigih. Sejak hari dia dilahirkan. Dia tidak pernah menyebutkan ibunya sekali pun. Jika ibu mencerewetinya, dia menerimanya begitu saja dan jika ibu memberinya makan, dia memakannya. Jika ibu membelikannya tas dan buku baru. gadis itu… tidak tahu harus berbuat apa. Begitulah Mi Ri hidup. kamu tidak tahu?”

Mi Sun yang mendengarnya pun ikut menangis. “Ya. aku tahu. Itulah alasanku merasa bersyukur dan kasihan pada Mi Ri.”

“Hati Ibu hancur setiap mengingat kenangan soal Mi Ri. Hati ibu sungguh hancur.” Emak pun memukul-mukul dadanya. Walaupun dia bukan anak kandungku. Ibu kasihan kepadanya.”

“Ommaaa….”

“Aku…. pasti punya dosa yang besar pada kehidupan sebelumnya. ibu membesarkan anak orang lain dan amat terluka.” Tangis Emak makin pecahh…

“Omma…jangan menangis. Ibu mau aku datang? aku akan ke sana.”

****

Esok pagi di kantor. In Sook sedang mengadakan rapat.

“Ini keputusan tidak terelakan karena terus melemahnya industi mode. Aku tahu ini keputusan berat. Tapi kuharap kalian mengikuti keputusan ini. kita harus tetap mendukung bisnis untuk kejuaran golf dan iklan seperti tahun lalu. Tapi kita tidak bisa menaikkan budget.”

Mi Ri hadir dalam rapat. Ia mengingat saat obrolan dengan In Sook. Yang saat itu In Sook mengatakan anaknya ada di AS.

“Bisnis pendukung amat berkaitan dengan semua departemen di perusahaan. Saat menyusun bujet, kami mengurangi buget dari lini bisnis lain dan melalui proses mediasi. Kami sudah menyerahkan bujet berdasarkan keefektifan dan validasi bisnis.” Ucap Mi Ri tbtb.

“Jadi?” Tanya In Sook.

“Jika kita mengubah rencana. Semuanya akan kembali ke awal. Kuarsa kita malah akan menghabiskan lebih banyak tenaga dan biaya.”

“Kamu kiraku memberi arahan tanpa tahu itu?” Tanya In Sook.

“Kurasa anda tidak menganalisis situasinya dengan mendetail. Aku juga marasa kita sebaiknya tidak mengurangi iklan. perusahaan kita sudah berusaha keras memperluas kelompok usia tertuju selama bertahun-tahun. tidak mudah memperluas kelompok usia tertuju hanya dengan fasilitas yang lebih baik. Untuk membedakan diri, kita berfokus pada iklan citra. Tapi jika mau mengurangi iklan, anda menentang strategi perusahaan. Anda akan rugi besar karena untungnya kecil.”

“Bu Kang… kamu mau mengajariku?”

“Ini bukan sesuatu yang bisa hanya dipahami dalam waktu satu bulan.”

“Bu Kang… kamu sungguh TERLALU.”

“Rapat ini diadakan untuk anda yang baru ditunjuk. Kami sudah mengadakan rapat panjang yang menghasilkan perkembangan bisnis departemen. Kami bahkan tidak punya cukup waktu untuk bekerja di lapangan. Bagaimana bisa anda bilang mau mulai dari awal lagi? Perusahaan akan rugi besar.”

***

Kemudian…. rapat usai. Mereka gelut. Mi Ri dilempar kertas oleh In Sook di ruangan In Sook.

“Kamu pikir… apa yang kamu lakukan?”

Keduanya melotot.

Bersambung…. klik di sini kelanjutannya.

Komentar…

Hati saya juga patah pas lihat Emak menangis guys.

Kadang, Emaklah yang paling tahu dalam hati anaknya kayak gimana. Kita juga bisa lihat bagaimana perangai Mi Ri memiliki pemicu. Dia tumbuh untuk menguatkan dirinya yang dengan terang-terangan disingkirkan Ibunya sendiri. hal itu nggak mudah.

Dan In Sook… di kantor nambah benci dengan Mi Ri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *