Sinopsis Mother of Mine Episode 17 Part 1

Sinopsis Mother of Mine Episode 17 Part 1 – Episode sebelumnya ada di sini. selengkapnya kamu bisa cari tahu di tulisan yang ini yaaaa guys.

Kita kembali pada pertikaian antara Mi Ri dan In Sook di ruang kerja In Sokk ya. Mi Ri pun menjawab pertanyaan In Sook. “Aku mau mengajukan pertanyaan yang sama pada presdir. Jika aku berbuat salah di rapat, anda bisa secara resmi memberitahuku. Kurasa aku tidak berbuat salah. Aku tidak tahu kenapa anda amat marah.”

“Bu Kang… kamu kira pertemuan dengan Pimpinan membuatmu spesial?”

“Anda salah.”

“Salah? Kamu harap aku bersabar saat seorang manager menentang CEO? Kamu kira aku tidak menyiapkan rencana masa depan apa pun dan bilang itu di depan seluruh anggota dewan? Kamu kira aku tidak bertanggung jawab untuk itu? kamu mau mengajariku?”

“Aku senang anda punya rencana. Karena anda sudah menjalani seumur hidup di Grup HS. Aku agak khawatir saat mereka menujuk anda sebagai CEO.”

“Beraninya kamu bilang begitu.”

“Sejak bergabung dengan perusahaan. Aku sudah menjaga posisiku di perusahaan ini selema 10 tahun. aku benci mengungkit ini, tapi aku tahu semua soal perusahaan dari A sampai Z. Perusahaan bukan milik pribadi. Anda juga tidak ditunjuk untuk mengisi posisi itu untuk membuat kontribusi pribadi.”

In Sook sangat geram. “Bu Kang… kamu serius?”

“Maksudku kebaikan perusahaan. Tidak ada yang berani maju dan memberi anda nasihat realistik. Jadi, aku memutuskan menjadi orang itu. aku tidak ada masalah pribadi dengan anda. Tapi karena kini sudah melihat anda kehilangan kendali. Aku sebaiknya berhati-hati mulai sekarang. jika tidak ada lagi yang ingin anda sampaikan. Aku permisi.” Kemudian Mi Ri pun pergi.

***

Gosip sudah tersebar di telinga para pegawai lain. “Bu Kang melakukan itu? kamu serius?” Tanya Pak Park.

“Aku mendenngarnya dari Pak Yoon dari Tim Perencanaan.”

“Aku tidak percaya. Aku tidak percaya Bu Kang mengatakan hal itu.”

Yang lain bilang. “Dia pasti punya alasan. Aku tidak percaya dia membangkang melawan Bu Jeon tanpa ada alasan.”

“Apa yang dia lakukan? Apa mengajari kita tidaklah cukup? Ahhh dia pasti sudah gila.”

Mi Ri pun kemudian datang dan mulai mengomel pada para bawahannya untuk segera bekerja. yhaaa begitulah, Mi Ri yang kesal melampiaskannya pada para bawahan timnya.

****

Tae Joo masuk ke ruangan Mi Ri membawa dokumen. “Apa maumu?” Tanya Mi Ri. “apa ada berkas yang harus aku setujui dari kamu?”

“Anda baik-baik saja?” Tanya Tae Joo.

“Apa maksudmu?”

“Aku mendengar apa yang terjadi selama rapat.”

“Maaf, Tae Joo Sshi… kurasa kamu merasa akrab denganku, tapi kamu salah. Aku seniormu.”

“Aku tahu itu.”

“Kurasa bukan urusanmu tentang apa yang terjadi kepadaku selama rapat.”

“Bukan begitu. aku hanya mengkhawatirkan anda.”

“Apa pedulimu? Kenapa kamu mengkhawatirkanku?”

“Aku hanya khawatir.”

“Han Tae Joo Sshi… jangan mengkhawatirkan orang lain. serta lakukan saja pekerjaanmu, kecuali kamu menjilat untuk mendapatkan promosi. Kamu sebaiknya pergi.”

Tae Joo pun pergi.

***

Mi Hye bekerja dengan Woo Jin mengeluarkan buku baru dari kardus. Woo Jin menghentikan Mi Hye yang akan menggunakan pisau cutter. Mi Hye sudah besar kepala bahwa Woo Jin tidak mau ia terluka lagi seperti tempo hari. Ehhh ternyata, Woo Jin hanya khawatir kalau-kalau bukunya yang rusak. Wkwkkw.

Peter datang… ia melihat deretan buku baru. “Wahhh ini sungguh pajangan yang bagus.”

“Tentu saja. ini dari penerbit kita. Kamu sudah memeriksa toko buku besar?”

“Ya. aku sudah menetapkannya di tempat yang ternama.”

Woo Jin berkata. “Kita harus sukses selama 3 bulan pertama.”

“Tentu saja, Hyung sangat bertanggung jawab. Semua akan baik-baik saja. bagaimana dengan penulisanya?”

“Dia akan kemari. Mari pindahkan ini.”

Keduanya naik ke tas. Dan lagi-lagi Mi Hye menabrak kardus buku. Herannya. Dia malah mencaci buku baru itu. dibilang ini dan itu. *sumpah saya masih nggak suka karakter Mi Hye.

Tak lama. Seorang tamu datang dan langsung duduk.

“Permisi, Bu. Anda harus memesan.” Ucap Mi Hye.

“Memesan?”

“Ya. pesanlah minuman atau apa pun. Anda harus memesan saat datang ke kafe.”

“Ahhh minuman? Apa aku harus memesan minuman? Selama ini aku tidak pernah memesan?”

“Maaf. Walaupun ini toko buku, ini juga kafe. Kami tidak berderma. Jika mau tetap di sini, anda harus memesan. Anda nampaknya seorang mahasiswi.”

Woo Jin kemudian menyapa tamu itu. “Cakka Nim… Naiklah ke lantai 2. Kuharap, pegawaiku tidak berbuat salah.”

“Tidak.”

“Kang Mi Hye Sshi…. tolong bawakan kami teh kamomil.”

Wkwkwkwkwkwk……. Mi Hye sial aja. Mi Hye langsung mengecek profil penulis di bukunya. Dan dia adalah orang yang sama dengan tamu yang baru saja dia lihat.

“Apa? Ini? dia penulisanya? Lantas, dia seharusnya memberitahuku. Dia baru 22 tahun????”

***

Di atas, penulis sedang rapat sambil memberikan ttd bersama Woo Jin dan Peter.

“Konser buku aan diatur menurut jadwalmu.” Ucap Woo Jin.

“Kamu sungguh perhatian. Terima kasih.”

“Ini contoh sampul kertasanya. Ini akan menjadi tawaran terbaik. Ini akan diluncurkan pekan depan. Peter…. tunjukkan kepadanya contoh penanda buku yang akan disebarkan…”

Mi Hye pun datang dan melihat kejadian ini.

“Ahh Mi Hye… kamu sudah menyapanya? Dia baru saja debut. Dia penulis baru.” Ucap Peter.

“Halo…” Ucap Mi Hye lemes banget. Woo Jin kemudian memberikan gelas kotornya pada Mi Hye.

Turun ke lantai 1, Mi Hye nampak berkaca-kaca. “aku sudah gila. Aku sudah gila sampai melakukan hal ini.”

***

Mi Sun masih di kantornya. Dia sedang berselancar dan menemukan berita tentang Jeon In Sook di internet. Mi Sun sangat kaget melihatnya. Kini Mi Sun sudah tahu In Sook jadi CEO di tempat Mi Ri bekerja.

Ibu pun menelponnya. “Ya. Omma.”

“Kapan kamu pulang?”

“Kenapa?”

“Agar ibu bisa cepat pulang saat kamu tiba.”

“Begini… omma… kurasa aku tidak bisa menemui ibu hari ini. aku agak lelah. Aku mau mampir ke sauna sebelum pulang. Jin Soo akan segera tiba di sana.”

“Sungguh? Baiklah kalau begitu.”

“Terima kasih untuk hari ini Omma.”

Lanjut ke bagian 2 yaaa…. klik di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *