Sinopsis Mother of Mine Episode 19 Part 1

Sinopsis Mother of Mine Episode 19 Part 1 – Episode sebelumnya bisa dibaca di sini yaaa... untuk selengkapnya kamu bisa klik di halaman yang ini. terima kasih….

Kita lanjut ke percakapan Mi Ri dan Tae Joo yaaaaaa…

“Cara bicara anda terlalu kejam. Aku berkaca tentang kesalahanku. Kami menyesal minum tanpa anda kemarin. Aku menyesal sudah membantu anda saat kaki anda cidera. Aku menyesal bergabung dengan anda saat anda minum-minum sendiri. aku berkaca pada sikapku yang salah dalam beragam cara.”

“Yak!!! Han Tae Joo Sshi… kenapa kamu mengubah topik?”

“Lantas, apa aku pernah mempersulit anda karena kemampuan bekerjaku? Apa aku pernah menulis laporan yang buruk? Apa aku pernah menunda pekerjaanku?”

“Bukan itu yang kumaksud.”

“Pokoknya aku paham.”

“Pokoknya apa? Apa yang kamu pahami?” Tanya Mi Ri.

“Aku akan lebih berhati-hati lagi. Permisi….” Tae Joo pun kesal.

***

“Apa katanya? Dia tahu kita minum-minum kemarin?” Tanya Pak Park pada Tae Joo.

“Tidak.”

“Sudah kubilang seharusnya kita mengajaknya.” Kata pegawai lain.

****

Mi Ok membuka foto lama Jin Soo. Ia menangis karena tahu Jin Soo dipukuli oleh Ibu mertuanya. Wkwkwk drama banget dah.

Karena kesal panggilan telponnya tidak dijawab oleh Mi Sun. Mi Ok bahkan datang ke tempat Mi Sun bekerja sebagai nasabah yang mengambil nomor antrian.

Mi Sun dan Mi Ok pun akhirnya bicara.

“Bagaimana bisa ibumu melakukan itu kepada Ji Soo? Apa putraku samsak baginya? Jin Soo bukan anak buahnya. Bagaimana dia menyepelekan Jin Soo. Memperlakukannya dengan tidak benar dan memukulinya?”

“Kurasa Ibu salah paham.” Ucap Mi Sun.

“Salah paham? maksudmu Jin Soo berbohong kepada Ibu? Kamu menganggap Jin Soo anak manja yang berbohong kepada Ibunya?”

“Bukan begitu….”

“Diam!!! Kamu tinggal dengannya. Jadi, apa yang kamu lakukan saat Jin Soo menderita, disiksa, dan berakhir jatuh sakit di halte bus? Kamu menganggap dirimu istrinya?”

“Aku minta maaf. Tapi pasti ada kesalahpahaman. Ibuku terkadang impulsif. Tapi dia tidak bersikap keterlaluan. Aku kan mengunjunginya sepulang kerja….”

“Berhenti membicarakan Ibumu… jangan bicara dia di depan Ibu. Serta, selagi membahas ini, biar ibu bertanya. Apa ibu harus datang ke rumahmu?”

“Jika tidak?”

“Lakukan semuanya sendiri. besarkan Da Bin dan lakukan tugas rumah. Lakukan semuanya sendiri.”

“Ibu… aku harus bekerja… jadi, bagaimana aku…”

“Benar. Ibu senang kamu membahasnya. Kamu bekerja, jadi, kenapa? ibu tidak suka para wanita muda zaman sekarang. termasuk kamu. bukan hanya kamu yang menderita. Generasi kami juga kesulitan. Dahulu, kami harus mengurus  3 sampai 4 anak, bebenah rumah, mengurus orang tua kami, dan bahkan membantu adik ipar untuk menikah… serta saat punya waktu luang, ibu berkeliling menjual kosmetik. Gaji ayah mertuamu tidak banyak. Jadi, ibu melakukan berbagai macam pekerjaan untuk menyokong uang sekolah anak-anak ibu. Bukan hanya kamu wanita pekerja. Ibu juga wanita pekerja dahulu. Tapi ibu bisa melakukan semuanya. Seolah-olah itu tugas dan takdir ibu. Ibu melakukannya tanpa mengeluh.”

“Apa itu membuat Ibu bahagia?”

“Tentu saja.”

“Kenapa?”

“Karena ibu sudah memenuhi tugas ibu.”

“Tugas apa?”

“Beraninya kamu!!!”

“Tugas sebagai seorang Ibu… tugas sebagai seorang istri. Tugas sebagai seorang menantu.”

“Kenapa hanya wanita yang melakukan semua tugas itu?”

“Karena kita harus berkorban untuk mengutakan pilar negara.” Wkwkwkwkw. “Ibu percaya negara kita berkembang sejauh ini berkat pengorbanan wanita.”

“Jadi, kenapa hanya wanita yang harus memperkuat pilar negara? Kenapa harus wanita yang harus berkorban?”

“Seseorang harus berkorban demi sejarah!!! Pikirkan betapa banyaknya orang yang berkorban demi sejarah tanpa dikenang…..”

“Maksud Ibu kita harus menjadi orang-orang itu? kenapa para pria tidak bisa berkorban juga? Mereka bukan orang asing. Mereka suami dan orang tua.”

“Lihat dirimu!!! Kenapa kamu membangkang kepada Ibu mertuamu? Apa Ibumu mengajarimu seperti ini?”

“Ibu juga berkata kasar!!!”

“Tetap saja aku tidak memukulnya.”

“Apa?”

“Tapi Jin Soo dipukul. Pokonya, suruh Ibumu berhenti datang ke rumahmu.”

****

Saat turun dari bus, Mi Sun melihat suaminya tertidur di halte bus.

“Bangun!!! bangun!!!”

“Ahhh yeobo…” Jin Soo pun terbangun.

“Kamu meninggalkan kantor lebih dini. Jadi, sedang apa di sini bukannya pulang? apakah kamu sebenci itu dengan pulang?” Mi Sun menabok Jin Soo. Bahkan dasi Jin Soo ditarik dan Mi Sun minta diikuti.

Galak kayak Emaknya. Wkwkkw.

****

Mereka pun bicara di rumah.

“Kamu anak sepantaran Da Bin? Kamu seharusnya bicara denganku saat ada sesuatu. Bukannya mengadu ke ibumu.”

“Aku tidak mengadu.”

“Lantas apa?”

“Ibuku tidak sengaja tahu.”

“Jadi, kenapa kamu tidur di halte? Begitulah kamu ketahuan.”

“Lantas bagaimana? Aku tidak mau pulang.”

“Kenapa? kenapa tidak mau pulang?”

“Karena Ibumu ada di sini. apa lagi?”

“Kamu tidak menyukainya? Kamu begitu senang dia kemari dan bahkan memberikan hatimu seperti ini.” Mi Sun membuat love kecil.

“Aku tidak menyukainya lagi. Aku benci ibu mertua ada di rumah kita. Setiap kali melihatku, dia suka sekali mengomentariku. Dia sangat cerewet, sangat sering sampai aku merasa sesak.”

“Tidak bisakah kamu mendengarkan saja apapun yang orangtuaku katakan?”

“Dia orangtuamu bukan orangtuaku?”

“Apa?”

“Kamu tidak bisa memperlakukan ibuku seperti ibumu sendiri juga. Aku juga begitu. Ibu mertua adalah orang asing bagiku. Saat pulang, aku mencium aroma wanita asing. Bukan ibuku, bukan istriku. Seseorang yang canggung untuk menjelaskan hubungan. Serta wanita asing ini mencerewetiku pagi dan malam. Dia mencerewetiku karena makan terlalu cepat. Dia memukulku agar aku tidak memberantaki kamarku….”

“Tidak mungkin.”

“Jangan bilang tidak mungkin! Kamu tidak tahu apa-apa.”

“Aku menderita. Ini berat bagiku. Ibu mertua membuatku stres. Aku bahkan akan ke neraka atau gurun selagi tidak ada dia.” wkwkwk Jin Soo mulai nangis lagi.

Mi Sun malah memukul Jin Soo. “Kapan kamu akan tumbuh dewasa?”

“Jangan memukulku!!! Lihat. Kamu sama seperti ibumu yang suka memukulku. Yakkk Kang Mi Sun, pasti kamu belajar dari ibumu.”

“Ini kekerasan. Ibuku tidak pernah memukulku!!!” Jin Soo bahkan terus menangis dan merengek seperti anak-anak.

Lanjut ke bagian 2 klik di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *