Sinopsis Mother of Mine Episode 19 Part 2

Sinopsis Mother of Mine Episode 19 Part 2 Episode sebelumnya bisa dibaca di sini yaaa… untuk selengkapnya kamu bisa klik di halaman yang ini. terima – kasih….

Mi Hye sedang membersihkan kamarnya. Seluruh buku yang ada di kamarnya, ia ikat.

Kemudian ada Jae Bum mampir. Mi hye pun meminta Jae Bum membuang semua buku itu.

Mi Hye ke kedai dan berniat membantu. Sayangnya di kedai sudah ada pegawai paruh waktu. Jadi, Mi Hye hanya duduk saja. sampai Emak pun memukulnya. “Yak… kenapa kamu di sini dan bukannya menulis?”

“Aku sedang berlibur.”

“Berlibur? Kenapa kamu butuh berlibur padahal setiap hari sudah berlibur?” wkwkkw hidup saya banget. “Auuuu orang-orang di Dong Dam Gil sangat dermawan. Jika penulis mereka bersantai, mereka seharusnya menyuruhmu duduk di meja dan menulis. kenapa mereka memberimu waktu berlibur?”

Ingin membantu ini dan itu… Mi Hye malah diusir emak.

Mi Hye malah iseng nanya. “Ibu punya 3 putri. Diantara ketiganya, siapa yang akan diwarisi kedai?”

“Apa maksudmu?”

“Ibu tahu… jika terjadi sesuatu….”

“Yak!!! Jadi kamu mau ibu segera mati?” wkwkkwkw duhhh dua orang ini.

“Tidak Bu, bukan itu maksudku.”

Dan akhirnya Mi Hye ditarik keluar oleh Paman. Paman pun memarahi Mi Hye lagi. Niii drama kalau ditarik ulang. Mi Hye terus yang sial deh.

***

Mi Hye dan Jae Bum jalan-jalan ke kampus lama mereka lagi.

“Mi Hye. Bagaimana rasnaya berjalan di kampus kita lagi?”

“Aku tidak merasakan apapun.”

“Ayolahh… kamu menghabiskan masa-masa terbaikmu di sini. bahkan ada spanduk dengan namamu. Kamu mendapatkan hadiah sastra. Kamu kebanggaan kampus kita.”

“Aku tidak mau mengingat masa-masa itu. hentikan…. aku sudah muka. Aku berhenti menulis. jadi, jangan mendesakku. Aku sudah membuat keputusan besar untuk sekali ini.”

“Kenapa kamu mau menyerah?”

“Masa kejayaanku sudah lewat. Itu dahulu… ini sekarang… menyerah adalah pilihan.”

“Siapa yang bilang begitu?”

“Seseorang yang membelikanku sepatu. Aku mengenakan sepatu ketsku dan mengawali hidup baru. jadi, jangan suruh aku kembali menulis.”

***

Woo Jin banyak melamun di Dong Dam Gil. Peter pun bertanya. “Ada apa dengan Mi Hye? Akankah dia kembali?”

“Entahlah. Bagaimana aku tahu? Dia tidak bisa menulis dengan tekad selemah itu.”

“Apa?”

“Lupakan saja. aku mau naik.”

“Hyung… perlukah mempekerjakan orang lain?”

“Jangan dulu.”

****

Setelah makan dengan kenyang di kampus. Mi Hye tidur di pangkuan Jae Bum.

“Jae Bum Ah… aku kedinginan.” Jae Bum langsung memberikan jaketnya.

****

Di lain pihak, Tae Joo dan Mi Ri sama-sama saling kesal. Tae Joo bahkan menghindari Mi Ri.

***

Jin Soo yang masih kesal karena ibu mertuanya pun menghabiskan waktu dengan memancing. Sementara itu Mi Sun bertemu dengan Ibunya.

“Jadi, ibu seharusnya bersikap lebih baik pada Jin Soo.”

“Apa salah Ibu? Konyol. Ibu mengerjakan pekerjaan rumah tanggamu dan menjaga anakmu seharian. Serta ibu memasak masakan kesukaannya. Setiap pagi dan malam. Dia stres karena ibu? Kamu datang jauh-jauh kemari untuk menasehati ibu?”

“Aku hanya membuat Ibu berbaikan dengan Jin Soo.”

“Berbaikan? Memangnya kami bertengkar?”

Saat Mi Sun mengatakan ibunya tidak boleh memukul Jin Soo. Emak pun nambah marah. Daun bawang pun melayang di mana-mana. Mi Sun dan Emak pun saling mengatakan kalimat yang melukai satu sama lain… semua sayuran akhirnya yang jadi korbannya.

Wkwkwkkw….

Gara-gara Jin Soo manja banget anjay. Paman Young Dal berusaha melerai. Tangis Mi Sun pun pecah.

****

Mi Ri bertemu dengan Mi Sun di kedai.

“Astagaaa…. kakak bertengkar dengan ibu lagi? Kenapa tidak memutuskan hubungan saja dengan ibu? Putuskan hubungan ibu dan anak serta jadilah orang asing.”

“Kamu selalu membela ibu. Kamu selalu memihak ibu.”

“Tapi aku juga putrinya. Aku juga bertengkar dengannya. Semua anak kesulitan karena ibu mereka. Ibu membuatku gila, aku juga merasa seperti itu. kita minum saja….” Ucap Mi Ri mencoba menenangkan Mi Sun. “Kakak seharusnya bersyukur memiliki Ibu. Ada banyak orang yang tidak memiliki ibu sepertinya.” Mi Sun terdiam mendengarnya.

“Kenapa?? kenapa mentapku seperti itu?”

“Sebenarnya ada yang mau aku bicarakan. Apa yang terjadi pada dirimu dan Jeon In Sook?”

“Bagaimana kakak tahu?”

“Aku tidak sengaja melihatnya di internet.”

“Itu terjadi begitu saja. jadi, itulah alasan unnie terus menelponku? Bagaimana dengan Ibu? Apakah dia tahu? Unnie memberitahunya bukan?”

“Tidak.”

“Dia ditunjuk sebagai CEO perusahaan kami.”

“Apa dia tidak mengenalmu?”

“Apa maksud kakak? Dia bahkan tidak mengenaliku.”

“Sungguh… bagaimana pun dia ibumu.”

“Aku memahaminya. Kami sudah tidak bertemu selama 30 tahun lebih. bagaimana dia bisa mengenaliku? Walaupun berpapasan dengannya, dia tidak mengenaliku. Sebenarnya aku mau bilang aku mengenalinya lebih dahulu. Tapi itu akan melukai harga diriku. Jadi tidak jadi.”

“Kenapa kamu tidak menyapanya lebih dahulu?”

“Menyapanya? Kakak serius? Lantas aku harus bilang… aku putri anda? Apa kabar selama ini? aku sudah lama tidak menganggapnya sebagai ibuku. Satu-satunya ibuku adalah Sun Ja. Yang baru saja bertengkar dengan kakak. Yang melempar kakak dengan mangkuk. Dia mungkin kasar. Dia mengorbankan dirinya untuk kita dan mencintai kita. Untuk apa aku menyapa wanita itu? padahal aku sudah punya ibu?”

“Unnie hanya khawatir nanti kamu akan menyesal.”

“Aku tidak akan menyesal. Tidak akan pernah. Hubunganku dengannya sudah berakhir. Aku sudah mengawasinya selama 2 bulan terakhir. Dia bukan ibuku… dia tidak berarti apa-apa bagiku. Jika dia orang asing, aku bisa baik kepadanya. Makin aku melihatnya, dia makin jahat lebih dari dugaanku. Dia lebih dingin daripada es. Itu masuk akal. Dia membuang anaknya dan menjadi selingkuhan.”

“Mi Ri yaaaa….”

“Kenapa? aku tidak salah bicara bukan? Saat ibu kita, Park Sun Ja, kehilangan suaminya, dan menjaga 3 anak serta restorannya. Dia malah menikah kembali dan menikmati hidupnya yang bahagia.”

“Tapi Mi Ri….”

“Cukup!!!! Kakak tidak paham perasaanku sekarang? aku merasa sangat buruk hanya membayangkan darahnya mengalir dalam diriku. Ini amat menjijikan dan buruk. Aku mau menguras darah ini jika bisa. Jadi… jangan pernah membahasnya di hadapanku. Kakak paham?”

“Baiklah.”

“Serta jangan bilang ini pada ibu.”

“Baik. Tidak akan.”

Mi Ri pun terus menangis.

klik di sini episode selanjutnya.

Komentar….

Saya berdoa pada Tuhan agar dijauhkan dari suami macam Jin Soo. Hidupnya benar-benar amat mementingkan diri sendiri saja. nggak salah, dia mengikuti tabiat dari ibunya Mi Ok.

Sooo… di manapun para emak-emak berada. Jangan sampai didik anak klean menjadi anak yang manja yaaa.

Kalau Mi Hye. Dari awal. Dia sial mulu emang. Tapi keknya Mi Hye bakalan nulis lagi. Susah lhooo kalau sudah nulis dan suka. Terus nggak nulis lagi.

Mulai tahu deh. Jejak Jeon In Sook adalah seorang selingkuhan. Itulah mengapa mungkin Tuan Han selalu saja meremehkan dia. lhhhaaa wong cuma selingkuhan????

Mi Ri dan Tae Joo… kutunggu kalian jadian deh. Wkwkwkkwkw.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *