Sinopsis Mother of Mine Episode 22 Part 2

Sinopsis Mother of Mine Episode 22 Part 2 – Episode sebelumnya ada di sini. Selengkapnya kamu bisa cari tahu di sini yaaaaaa…

Jae Bum nampak membereskan kembali buku-buku Mi Hye. “Apa ini? Kamu sedang apa?” Tanya Mi Hye.

“Aku menata bukumu.”

“Yak! Sudah kubilang buang semua buku itu.”

“Kamu tidak boleh membuang buku. Buku itu anak bagi penulisnya. Kamu tidak boleh membuang atau menjualnya. Simpanlah untuk dibaca.”

“Bang Jae Bum, aku berhenti menulis. Hentikan!!!”

“Lantas kamu akan bagaimana?”

“Itu bukan urusanmu. Kamu tahu bagaimana perasaanku mengikat ini?”

“Sangat senang. Penulis berbakat dan drama terkenal sepertimu tahu apa? Apakah naskahmu pernah dibuang? Apa kamu menyerah atas hidupmu?” Mi Hye pun marah.

“Aku menyerah menulis novel.”

“Ya. Aku turut bersedih untuk itu.”

“Aku tidak menulis naskah drama karena bakat.”

“Lalu dengan apa kamu menulis itu? Penampilanmu?”

“Dengan bokongku.” Wkwkwkkw.

“Semua orang bisa berkata begitu. Maksudnya, aku harus duduk. Jika aku menulis cerita yang tidak akan laku. Akankah seseorang memberiku uang karena kasihan? Kamu hanya akan terkena wasir.”

“Kamu pernah terkena wasir?” wkwkwkwkwk. “Apa rambutmu pernah rontok karena stres? Bagaimana dengan jari kaku? Pernahkan menyelipkan diska dan menulis di perutmu? Apa kamu pernah menulis 36 jam tanpa makan atau tidur untuk memenuhi tenggat, lalu tumbang? Kamu belum pernah. Kamu hanya mengandalkan bakat dan menikmati itu. Ketika keadaan menjadi sulit, kamu menyerah begitu saja.” Aseeelikk saya terharu sama ucapan Jae Bum.

“Itu tidak mudah, selama sembilan tahun…”

“Aku senang kamu mengatakan itu. Apa yang kamu lakukan selama 9 tahun? Ketika menjadi terkenal. Kamu bertemu dengan orang-orang. Berfoto dan diwawancarai. Lalu beristirahat ketika lelah. Ketika penat. Kamu pergi ke kafe dan minum kopi, lalu beristirahat. Kang Mi Hye, hidup bukanlah pemandangan.”

“Yakkk… Bang Jae Bum.”

“Aku sangat kecewa. Jika kamu tidak ingin menulis maka tidak usah. Berandal.”

“Apa? Berandal?” Jae Bum pun pergi. “Yak… kamu mau ke mana?”

“Aku mau menulis, aku menulis, meski itu berat. Aku akan menulis hingga aku sampai  di pintu kematian. Kenapa? Kamu pikir mudah mengekspor ke 150 negara seperti panci presto?”

“Yak Baek Jae Bum aku membencimu.” Mi Hye pun menangis.

***

Peter bicara pada Woo Jin yang sibuk membaca. “kenapa? Kenapa tidak pulang?”

“Tempat ini atau rumah, sama saja.”

“Kamu benar. Carilah pacar.” Ucap peter.

“Pulanglah sana.”

“Bagaimana dengan Mi Hye. Kamu melihatnya? Apa dia akan kembali?”

“Entahlah… pulanglah.”

****

Mi Ri diantar oleh Tae Joo.

“Beri tahu aku ini soal apa?” Tanya Tae Joo. “Sunbae…”

“Apa?”

“Ada apa? Kamu nampak sangat terganggu.”

“Apa kita sudah sampai?”

“Hampir. Aku harus ke mana setelah persimpangan ini?”

****

Mi Ri nampaknya pergi ke butik. Pemilik butik menemui Mi Ri.

“Bu Jeon mengabari lewat telpon bahwa dia tidak bisa datang.”

“ya. Ada sesuatu.”

“Dia bilang kamu akan memilih beberapa pakaian. Ikuti aku….”

Mi Ri naik ke atas. Wajahnya nampak berat dikerjadi Jeon In Sook.

***

Pulangnya Tae Joo mengantar Mi Ri kembali. Malam-malam ke rumah Ibu jeon.

“Tae Joo. Aku tidak akan bisa menemukan tempat ini tanpamu. Tunggu di mobil.”

Mi Ri pun mengambil belanjaan yang ia beli. Kemudian masuk.

“Bu Kang. Ini sudah larut malam. Maaf soal ini.” Pakaian pun digantung di rak. Dibantu dengan ahjumma. Sayangnya ahjumma malah disuruh pergi.

“Mari kita lihat apakah pilihanmu bagus.” In Sook pun melihat-lihat. “Bu Kang… hanya ini yang bisa kamu lakukan?”

“Apa maksud anda?”

“Apa kamu sungguh ingin aku memakai gaun seperti ini di acara hari pendirian? Kamu ingin membuatku diejek?”

“Bu Jeon…”

“Kenapa? Kamu kesal aku memberimu tugas di malam hari? Apa aku terlalu memerintah? Kamu wanita pintar yang berani bicara. Kenapa tidak bilang kepadaku?”

“Aku tidak merendahkan anda dan tidak bermaksud membuat anda dicemooh. Tapi masalahnya. Setiap orang punya selera masing-masing. Hanya saja, aku tidak tahu selera anda.”

“Kurasa tidak begitu. Kamu pintar. Jadi, bisa membuat dirimu berada di kalangan atas. Tapi itu bukan berarti kamu berkelas. Selera pakaian, selera orang, dan selera dunia. Itu kita miliki sejak dilahirkan. Dengan begitu, kurasa kamu tidak cukup bagus untuk menjadi manager umum di perusahaan kita. Bagus dalam pekerjaan tidak menjamin kamu akan menjadi eksekutif di perusahaan. Seperti itulah permainan golf. Itu mengecewakan juga. Aku lega telah memutuskan meminta Tim Perencanaan mengurus Hansung Championship. Kamu mungkin akan membuat kesalahan lagi. Sebaiknya kamu pergi sekarang.” Sumpah ini adalah lambe terjahara di drama ini. “Kurasa kita hanya membuang-buang waktu. Ahjumma, tunjukkan pintu keluarnya.”

Mi Ri hanya diam. Dia hampir menangis.

Tae Joo menunggu di luar. “Kamu sudah selesai?” Tany Tae Joo.

Mi Ri hanya mendunduk.

“Ada apa? Terjadi sesuatu?” akhirnya Mi Ri nggak tahan lagi dan dia pun menangis. “Kenapa kamu menangis? Sunbae ada apa?”

Tae Joo pun memeluk Mi Ri.

klik di sini untuk kelanjutannya.

Komentar….

Gimanaaa nggak nangis cobaaa. Itu dikerjain abis-abisan gitu.

Dan di episode ini saya suka percakapan Jae Bum. Suka banget.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *