Sinopsis Mother of Mine Episode 25 Part 1

Sinopsis Mother of Mine Episode 25 Part 1 – Episode sebelumnya ada di sini. Selengkapnya kamu bisa cari tahu di sini. Terima kasih untuk yang sudah mengikuti yaaaaa…. mohon kesabarannya untuk update-an ceritanya di sini. Naaahhhh gimana setelah pengakuan Han Tae Joo kemarin?

“Kurasa aku mencintaimu.” Ucap Tae Joo dan Mi Ri malah nyelonong pergi.

***

Esoknya, Tae Joo berangkat ke kantor seperti biasa. Tae Joo agak lemes gitu dan Mi Ri malah pasang muka jutek.

***

Mi Ok pun menelpon Mi Sun karena penasaran sudah melihat Emak di dalam bus. “Mi Sun, kamu mengirim Ibumu berlibur? Kamu menyuruh Ibu mengurus Da Bin, selagi mengirim Ibumu berlibur?”

“Aku tidak paham maksud Ibu. Liburan apa?”

“Kamu pura-pura? Ibu melihat ibumu di bus tur. Ibu bergegas mengejar bus Da Bin, dan melihat ibumu lewat naik bus tur sebesar ikan paus.” Wkwkw. “Bagaimana bisa kamu melakukan ini terhadap Ibu?” kesel akutu sama Mi Ok yang terus mengomel menyebalkan begini. Semoga Tuhan menghindarkan saya dari mertua yang kayak begini.

Setelah telpon ditutup, Mi Sun malah kesal pada Ibunya karena telpon ditutup.

****

Emak benar-benar menikmati harinya berlibur dengan teman-temannya. Pokoknya jeprat-jepret di banyak sekali tempat.

Senang dan seru-seruan pokoknya.

***

“Bagaimana aku tahu? Ibu pergi sebelum aku bangun. Aku tahu dari paman.” Ucap Mi Hye di telpon saat berada di kantor penerbitan saat dihubungi Mi Sun.

“Bagaiamana dia bisa pergi tanpa bilang.”

“Kakak berdebat dengan Ibu. Katanya dia tidak mau bicara dengan kakak lagi. Katanya jangan mengganggu kebebasannya.”

“Kebebasan? Konyol. Yang lain akan mengira dia dipaksa bekerja.”

“Itu memang pemaksaan.”

“Apa katamu?”

“Ibu mengurus rumah dan Da Bin. Sudah jelas itu pemaksaan. Aku bekerja dulu, kututup.”

****

Mi Hye baru menutup telpon dari Mi Sun kini giliran Mi Ri yang menelpon.

“Kenapa Ibu tidak mengangkat telepon?”

“Unnie, aku akan bicara cepat jadi dengarkan baik-baik. Ibu berlibur. Dia sudah pergi saat aku sudah bangun. Aku tahu ini dari Paman dan tidak bisa dihubungi. Dia melarang kita menelponnya karena mau menikmati kebebasannya. Paham?”

“Itu bagus. Kakak memang berniat mengajaknya berlibur. Kakak akan melakukan itu saat dia kembali.”

“Ahhh bukannya Unnie sibuk?”

“Kakak mau istirahat sebentar lagi.”

“Apa? Istirahat? Unnie. Apa terjadi sesuatu?” Mi Hye meninggikan suaranya dan membuat Woo Jin melihat padanya.

Sebuah surat pengunduran diri telah dibuat.

“Yaakkk Kang Mi Ri.” Mi Hye pun berteriak. Wkwkkw Woo Jin udah pasang muka galak.

***

“Ada apa Timjangnim?” Tanya Mi Hye pada Woo Jin yang menatapnya.

“Kang Mi Hye Sshi…. bolehkah kamu bicara di telpon untuk urusan pribadi selama jam bekerja?”

“Maaf. Aku ditelpon kakakku. Aku akan berhati-hati.”

“Bagaimana kamu bisa menulis jika seperti itu? Apakah kamu bahkan bisa fokus?”

“Lantas bagaimana? Aku juga tidak bisa mengurangi jumlah kakakku atau memutuskan hubungan dengan mereka.” Wkwkwkkw auto ngakak akutu.

“Pokoknya ini peringatan. Tolong fokus di pagi hari selagi kita menjernihkan pikiran.”

“Baiqqqqqqqq,,,,,”

Ponsel Mi Ri bergetar lagi. Karena takut pada Woo Jin. Ponselnya jatuh dan ada suara.

“Yakkk Kang Mi Hye. Kamu tidak melihat tonik herbal paman? Maksud paman, paman memesan tonik herbal untuk tubuh paman yang menua. Paman minum 22 daei 30 saset sampai kemarin. Seharusnya ada 8 saset lagi. Tapi tidak ada. Kamu menimumnya? Paman tahu kamu menimumnya. Kamu yang paling mencurigakan.”

Mi Hye masuk kolong meja untuk mengambil ponsel dan kejepot kepalanya.

***

Mi Ri menandatangani surat pengunduran diri yang ia buat. Ia memasukkannya ke dalam map. Kemudian ia menghadap Jeon In Sook.

Saat akan pergi. Tae Joo mengejar Mi Ri. “Apa yang kamu lakukan?”

“Kita harus bicara.”

“Aku mau mendapat persetujuan dari CEO.”

“Mari bicara dulu.”

“Kamu sudah lupa? Ini kantor. Kamu sudah gila?”

“Aku sangat waras. Ahh sebenarnya tidak. Tidak mungkin aku waras. Kenapa anda mau menemui CEO? Untuk menyerahkan surat pengunduran diri? Entah mau menyerahkannya atau kuliah ke luar negeri. Anda harus membicarakannya denganku dahulu. Anda tidak perlu terburu-buru.”

“kenapa? Kenapa aku harus membahasnya denganmu? Aku sudah memberi tahu CEO bahwa aku akan datang. Dia menungguku.”

“Aku tidak bisa membiarkan anda pergi seperti ini.”

“Tidak perlu kamu tahu soal ini.”

“Aku sudah mengungkapkan perasaanku. Aku tidak bercanda. Aku tulus.”

“Mari bicara soal itu nanti.” Mi Ri pun pergi.

***

Mi Ri mendatangi In Sook. In Sook berkata. “Kerja bagus di acara hari pendirian. Kompetensimu memang pantas dipuji.”

“Terima kasih.”

“Tapi kamu sudah melakukan ini selama 10 tahun. Kurasa tidak ada yang perlu dipuji.” Anjayyy ni tante. Mulut apa bensin sih.

“anda benar. Semua orang bisa melakukan itu dengan pengalaman sebanyak itu. Ada yang mau kukatakan.”

“Sungguh? Katakanlah.”

“Anda akan segera tahu, tapi aku sudah menyerahkan surat pengunduran diri ke Direktur Park. Ada yang mau kupelajari dan aku merasa tidak akan bisa melakukannya jika aku terus mengulur waktu. Jadi, aku mengambil keputusan.”

“Silakan jika itu maumu. Aku ingin bertanya. Kenapa kamu memberitahuku lebih dahulu padahal aku akan segera tahu.”

“Ini karena aku merasa bersalah tidak memenuhi tugasku sebagai manager umum pemasaran. Pegawai lain di tim lebih kompeten daripada aku. Aku tidak mau mereka merugi karena aku.”

“Kamu pasti salah soal aku, Bu Kang.”

“Tidak… tidak ada kesalahpahaman. Aku amat terkesan dengan pidato anda pada acara hari pendirian terakhir. Kurasa pengalaman anda selama bertahun-tahun melebihi kemampuanku. Aku akan berusaha yang terbaik sampai hari terkahirku.”

“Sayang sekali. Aku merasa kehilangan peawai kompeten.”

“Terima kasih. Aku permisi.”

****

Mi Ri pun keluar dan menatap langit.

Lanjut ke bagian 2 yaaaa… klik di sini kelanjutannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *