Sinopsis Mother of Mine Episode 28 Part 1

Sinopsis Mother of Mine Episode 28 Part 1 – Episode sebelumnya ada di sini. Selengkapnya kamu bisa cari tahu di tulisan yang ini yaaaa…. terima kasih untuk kalian yang sudah mengikuti yakkk!!! Bagaimana kelanjutannya setelah kisah nangis-nangis kemarin?

Pak Han marah-marah pada bawahannya. “Siapa yang mengeluarkan artikel semacam ini? Beginikah caramu mengurus bisnis? Beraninya membiarkan artikel seperti ini diterbitkan?”

“Maafkan aku Pimpinan. Para reporter koran memang suka melebih-lebihkan. Karena Bu Jeon pernah populer, tampaknya mereka menulis artikel semacam ini berdasarkan imaginasi sendiri.”

“Imaginasi apa? Kemampuanmu hanya sebatas ini? Tidak tahukah kamu Bu Jeon sering mengundang reporter untuk makan malam?”

“Itu demi mempromosikan perusahaan.”

“Kamu sungguh berpikir begitu? Penyebab rembesan air dimulai dari lubang kecil sebuah bendungan besar. Paham kamu? Artikel seperti ini tidak ada manfaatnya bagi kita. Terlebih lagi, tidak ada gunanya untuk masa depan Tae Joo. Jadi? Apa maksudnya Grup Hansung dipimpin oleh posisi seorang wanita? Begitukah?”

“Tapi sering kali perusahaan kita diuntungkan oleh Bu Jeon. Dia juga wanita yang terkemuka.”

“Kamu memihaknya?”

“Pak Pimpinan! Kenapa anda bilang begitu? Aku sudah lama mengabdi di sisi Anda. Itu jelas tidak benar.”

“Aku pernah mengatakan ini 30 tahun lalu. Saat seorang wanita yang banyak bicara menjadi keluarga, semua akan menjadi menyebalkan.” *njirrrrr merendahkan derajat perempuan bgt. “Seharusnya kubiarkan dia menjadi bunga hiasan. Aku menyesal menunjuknya. Dia berasal dari keluarga biasa. Jadi, kupikir dia hanya mau pamer. Tapi belakangan ini dia sudah melewati batas.”

***

Mi Ri pulang dalam keadaan yang kacau. Tae Joo mengiriminya pesan dan ia memberikan bubur untuk makan.

Mi Ri sudah di depan rumahnya dan ada Jeon In Sook.

“Anda mau masuk?”

***

Ibu dan anak ini akhirnya bicara kembali.

“Kenapa kamu tidak memberi tahuku lebih dahulu? Kamu punya cukup waktu. Ada cukup kesempatan. Aku tahu alasanmu tidak melakukannya. Kamu pasti ingin aku mengenalimu lebih dahulu. Jadi, kamu sengaja bersikap kejam kepadaku. Setelah kupikir-pikir, aku bisa memahami sikapmu. Kamu tumbuh dengan baik. Sangat baik. Kamu pintar. Kompeten, teliti, dan sangat cantik. Kenapa kamu diam saja?”

“Aku tidak tahu harus apa.”

In Sook mulai menangis. “Kemarilah.  Putriku. Peluk Ibu. Biarkan aku memelukmu.”

Mereka pun saling memeluk. Saling menangis. Dan entah saya malah menangis. “bagaimana kamu bisa tumbuh sebaik ini?”

Keduanya pecah dalam tangis.

****

Mi Sun pulang dan menelpon Mi Hye. “Bagaimana dengan Ibu?”

“Dia terbaring  di kasur.”

“Sudah kakak duga. Bagaimana dengan Mi Ri?”

“Dia terus memohon dan pergi beberapa saat lalu.”

“Jaga Ibu dengan baik, dan coba hubungi Mi Ri nanti. Dia pasti amat stres sekarang. Kita harus bagaimana?”

“Kita harus bagaimana? Ibu dan Unnie hanya perlu menyelesaikannya. Aku juga akan mengurus Kak Mi Ri. Kakak cepatlah pulang.”

“Baik gumawo.”

****

Mi Sun pulang saat Da Bin dan keluarga lainnya sedang makan. Langsung saja Mi Sun diomeli oleh Mi Ok. Padahal para suami sudah meminta Mi Ok untuk tidak usah mengungkit. Suami Mi Sun pun bilang bahwa ia mengatakan pada Ibunya bahwa Mi Sun mengambil cuti.

“Ibuku agak sakit, jadi aku ke restorannya.”

“Kenapa Ibumu sakit? Kenapa kamu tidak bisa bilang? Dia sangat penuh semangat sampai  bisa bepergian. Separah apa sakitnya? Meninggalkan Da Bin padaku dan kamu malah begitu!!!!” Mi Ok jelas mengomel hal-hal yang tidak perlu. “Jika kamu terus begini. Bayarlah aku. Pada akhirnya, kamu akan tetap menyewa pramusiwi.”

“Ibu mau dibayar berapa?”

****

Mi Hye pun menelpon Woo Jin.

“Btw, Pak Kim,  itu…. kurasa aku tidak…aku tidak bisa masuk hari ini.”

“Dengar, Kang Mi Hye Sshi… kamu bilang akan menyelesaikan masalah pribadimu dan menulis.”

“Memang. Tapi aku bisa apa? Ada hal yang buruk baru saja terjadi.”

“Jika kasusnya seperti itu, kami menyebutnya sebagai alasan.”

“Itu bukan alasan. Sudah kubilang, ini masalah serius. Keluargaku sedang dihadapkan dengan situasi darurat.”

“Bagi penulis, keadaan darurat adalah saat mereka tidak menulis. Segera datang ke kantor. Datang dan menulislah sekarang.”

“Tidak bisa. Aku minta maaf.” Mi Hye menutup pembicaraan mereka.

*dan ada adegan Jae Bum datang dan sok bilang bahwa Mi Hye menghadapi urusan yang sangat sensitif sampai tidak bisa dibagi.

***

Mi Hye mendekati ibunya. “Omma… jangan hanya berbaring. Setidaknya makanlah sesendok.”

“Tidak mau. Pergi sana. Tinggalkan ibu sendiri.”

“Mi Ri menelponku terus-terusan. Bisakah ibu bicara dengannya sebentar saja? Omma… mau pergi kedokter?”

****

Di kantornya, Mi Ri mulai berkemas.

Tae Joo memberikannya dokumen. “Itu bukan dokumen persetujuan. Aku ada di sana kemarin.”

“Aku tahu. Aku nemerima pesanmu.”

“Kamu baik-baik saja?”

“Ya. Terima kasih atas perhatianmu.”

“Semuanya lancar?”

“Tentu saja. Ayo kita makan malam. Ada yang harus aku katakan.” Ucap Mi Ri.

“Akan kutelepon nanti.”

Lanjut ke bagian 2 yaaa… klik di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *