Sinopsis Mother of Mine Episode 3 Part 1

Sinopsis Mother of Mine Episode 3 Part 1

Episode sebelumnya ada di tulisan yang ini yaaa guysssss…

“Ini manager umum di bidang pemasaran.” Ucap pegawai yang memperkenalkan Mi Ri pada dua pegawai baru.

“Halo… aku Cho Min Hye.” Ucap pegawai baru perempuan. “Senang berjumpa denganmu.

“Halo… aku  Han Tae Joo.”

Semua pun semangat dan tepuk tangan. Mi Ri berkata. “Selamat datang di tim pemasaran. Tim kita adalah departemen inti di perusahaan kita. Jika mau belajar dengan benar, kalian datang ke departemen yang benar. Jadi, kalian harus membuktikan kemampuan kalian.”

“Aku akan melakukan yang terbaik.” Ucap Min Hye. Kemudian Mi Ri meminta Pak Park untuk membantu Tae Joo dan Nona Lee membantu Min Hye.

***

Mi Ri bicara dengan rekannya. *mian belum tahu namanya.

“Apa anda menyukai anak baru?” Tanya rekan  Mi Ri.

“Aku belum bisa bilang. Butuh setidaknya tiga bulan melihat kinerja mereka. aku hanya berharap mereka tidak membuat onar.”

“Apa maksud anda?kita mendapatkan anak baru yang hebat.”

“Anak baru yang hebat?” Mi Ri pun menghentikan langkahnya.

“Ya. Han Tae Joo. Dia anak baru paling hebat di rekrutmen terbuka.”

***

Tae Joo duduk di samping Pak Park. Kemudian Pak Park mengajak Tae Joo bicara di luar.

“Cuacanya bagus. Pernahkah kamu bekerja sebagai pegawai paruh waktu atau magang?” Tanya Pak Park.

“Ya. aku pernah turut serta dalam program magang dan bekerja sebagai pegawai paruh waktu.”

“Begitukah? Berapa usiamu?”

“32 tahun.”

“Kamu sudah ikut wamil?”

“Korps Marinir unit 1164.” Jawab Tae Joo.

“Korps Marinir pengusir hantu yang tidak terkalahkan itu?” Pak Park pun kaget.

“Ya.”

“Kamu kelihatan lebih tangguh dari kelihatannya. Aku senang ada pria sejati di tim kita. Yaaa… korps marinir pengusir hantu. Kamu nampak andal dalam pekerjaan.”

“Tolong ajari aku dengan baik. Aku akan berusaha yang terbaik untuk mempelajari semuanya.”

“Benar… kamu akan berusaha yang terbaik. Aku akan mengajarimu dengan baik. Mempelajari pekerjaan itu penting. Tapi jangan pernah menatap mata Kang Mi Ri.”

“Apa?” Tae Joo pun bingung.

“Manager umum Kang Mi Ri. Jika menyinggungnya, kamu akan dipecat tidak peduli betapa pintar atau bodohnya kamu.”

Tae Joo pun mengingat Mi Ri yang memaksanya mengambil kemejanya. Pak Park masih lanjut bicara. “Tahukah kamu apa harapan departemen kami? Kami berharap Kang Mi Ri dipromosikan. Lalu dia akan ditugaskan ke departemen lain. karena dia tidak mungkin dipecat. Dia amat kompeten, pendendam, dan kejam. Dia tidak pernah berbuat salah. Jadi, cara terlepas dari cengkramannya adalah mengharap dia dipromosikan. Kami mau dia dipromoskan ke posisi tertinggi.”

“Ahh begitu rupanya.”

“Karena kamu tampaknya lebih cerdas dan pintar daripada anak baru lainnya, aku tidak akan mengkhawatirkanmu. Tapi selalu camkan ini. Kang Mi Ri selalu tidak terduga. Dia jahat dan kejam. Berhati-hatilah dengannya.”

“Ya. baiklah.” Jawab Tae Joo.

“Dan tolong banyak bantu aku.”

“Baik. Aku paham.”

***

Nyonya Pimpinan baru. Jeon In Sook melakukan rapat dengan para pimpinan lain. di sana pun Mi Ri hadir memperkenalkan diri. In Sook mengulurkan tangannya pada Mi Ri. Namun, Mi Ri hanya diam beberapa detik, untuk kemudian sedikit demi sedikit mengulurkan tangannya.

“Manager tim pemasaran…” Ucap Mi Ri.

In Sook langsung nyamber. “Kang Mi Ri. Kudengar hanya kamu manager umum wanita  di perusahaan ini. serta kamu amat kompeten. Aku dengar kamu penanggung jawab kontrak sukses kita dengan Pimpinan Wang-wei. Kerja bagus.”

“Terima kasih.”

In Sook pun melepaskan tangannya. “Aku menantikan melihat kemampuanmu.”

“Aku akan berusaha yang terbaik untuk tidak mengecewakan anda.”

“Baiklah. Mari bekerja sama dengan baik sebagai sesama pebisnis wanita. Kamu bebas mengunjungi kantorku kapan saja. kurasa aku seusia ibumu. Mari berteman baik.”

Mi Ri terdiam mendengarnya.

***

Emak lari ke kedainya. Di kedai ada Paman Young Dal.

“Di mana Mi Hye?” Tanya Emak.

“Dia pasti di kamarnya. Katanya dia mencari inspirasi.” Jawab Paman Young Dal.

“Inspirasi dari mana? Tamat riwayatnya.”

Emak langsung lari ke kamar Mi Hye. Di dalam kamar, Mi Hye sedang tertidur.

“Mi Hye… bangun berandal!!!” Mi Hye bahkan dipukul.

“Ada apa dengan Ibu? Ibu tidak bisa membangunkanku dengan baik-baik? Tidak perlu memukulku.”

Mi Hye dipukul lagi. “Jujurlah kepada Ibu. Kamu yakin pergi ke kencan buta itu alih-alih Mi Ri yang datang?”

“Astaga… mulut lelaki itu besar sekali.” Ucap Mi Hye mengumpat. “Aku juga tidak mau ke sana. Paham?” Jawab Mi Hye.

“Lalu?”

“Unnie tidak mau pergi dan dia menawarkan uang jajan juga. Lagi pula, omma tidak pernah memberikanku makanan daging. Jadi aku ke sana untuk mendapatkan uang dan makan steik.” Wkkwkwkkw jujur bat.

Emak memukul lagi. “Kamu tidak paham situasinya ya? kencan buta itu bukan untukmu.”

“menyinggung sekali. Aku tidak boleh kencan buta?”

“TIDAK!!!” jawab Emak.

“Kenapa?”

“Ketahuilah posisimu.”

“Memangnya kenapa?” Tanya Mi Hye.

“Aigoooo…. ckckckck… kamu menerbitkan satu novel. Dan hidup dari Ibu selama 9 tahun. kenapa kamu malah menggantikan kakakmu untuk kencan buta hanya agar bisa makan daging? Seolah-olah itu bufet daging.”

“Astagaaa… Omma keterlaluan. Bagaimana jika aku menulis sesuatu seperti Harry Potter? j.K Rowling menghasilkan uang banyak, Ibu tahu?”

“Apa??? HELICOPTER?” WKWKWKWKWKKWKWKWKWK AUTO NGAKAK AKU SAMA EMAK.

Mi Hye pun ngakak. “Emak bego banget.”

Mi Hye dipukul lagi. “Baik. Ibu memang bodoh. Jika kamu tidak mau tinggal dengan Ibu yang bodoh, cepatlah menikah. Jangan terjebak di kamar ini.”

“Aku mau menikah. Tapi tidak punya siapa-siapa.” wkwkwkkwkw kok kayak saya yaaahh permisaaahh.

“Inilah alasannya kamu seharusnya menikahi Jae Bum.” Emak teriak.

Mi Hye pun geram. “Ommmmaaaaaa… sudah aku bilang jangan bahas dia!!!!”

Karena marah. Mi Hye keluar kamarnya, membanting pintu sampai ember yang terpasang di dinding jatuh. Mi Hye pun marah dengan menendang kursi restoran.

Paman bertanya pada Emak. “Kenapa dia marah?”

“Jangan pedulikan dia. ini amat menyebalkan.”

“Kakak mencerewetinya lagi?”

“Apa maksudmu? Kakak menyuruhnya menikahi Jae Bum jika tidak mau hidup begini terus.”

“Apa? Ayolah… kenapa kakak membahas Jae Bum? Jae Bum kenangan terburuk baginya.”

“Ayolah… dia harus bersyukur jika harus bisa menikahi Jae Bum.”

“Yang benar saja. kakak sungguh harus menjaga ucapan kakak.”

***

Mi Hye berada di taman bermain. Ia menangis di telpon. “Unnie tahu bukan? Aku benci saat orang membahas Jae Bum. Tapi omma membahasnya lagi. Ibu amat kejam bukan?”

Mi Sun menjawab sambil memfotokopi dokumen. “Perkataannya benar.”

“Apa?”

“Kenapa kamu tidak bisa bersikap baik pada Jae Bum?”

“Kakak memihaknya juga?”

“kakak tidak membelanya. Kakak hanya bilang dia pria yang tepat untuk dinikahi. Kenapa kamu mencampakkannya? Kamu mencampakkannya lebih dahulu, jadi, jangan ribut-ribut.”

“Aku tidak mencampakkannya. Dia mencampakkanku saat menjadi penulis naskah.”

“Kamu pasti tahu kenapa.”

“Unnie….” Mi Hye merengek.

“Terserah. Biar kakak bicara dengan Omma. Kakak sudah sibuk, jadi, berhentilah mengganggu kakak. Berikan saja telponnya.”

“Tidak mau.”

“YAAAKKK!!!” Mi Sun pun teriak lagi.

“Aku sedang di luar. Omma tidak ada di sampingku. Baik… hiduplah bahagia tanpaku. Tidak… kenapa kakak tidak mencaraikan suami kakak dan menikahi Jae Bum saja?” wkwkwkw

“Apa? Perhatikan ucapanmu!!!”

***

Mi Sun pun menelpon ibunya.

Emak teriak “APAAA!!!!”

“Omong-omong, tidak bisakah Ibu menjemput Da Bin hari ini? aku harus berbelanja bahan makanan.”

“Kenapa ibu mertuamu harus mengundang temannya ke rumah?”

“Aku tidak tahu.”

“Dia tidak bisa dipercaya. Dia keluar bermain golf hari ini. kini dia membawa temannya ke rumah? Kenapa kamu tidak bilang sibuk?”

“Ibu tahu betapa liciknya ibu mertuaku? Dia bertanya apakah aku pulang larut hari ini dan kubilang tidak tanpa tahu ini akan terjadi. Omma apa yang harus aku lakukan? Aku tidak punya waktu untuk membuat japchae.” Sementara Mi Sun mengeluh. Managernya diam-diam memperhatikannya. “Ibu tahu butuh berjam-jam untuk membuat japchae.”

“Tunggu… ibu akan membawa sayuran dari restoran ibu dan membeli daging dalam perjalanan ke rumahmu dengan Da Bin. Ibu akan mulai memasak lauk dahulu.”

“Sungguh?”

“Ya. untuk apa ibu berbohong untuk ini.”

“Maaf.”

“Bagaimana dengan suamimu? Apa yang dia lakukan? Kenapa dia tidak bisa menjemput Da Bin?”

“Entahlah. Dia tidak bisa dihubungi seharian. Mungkin dia sibuk.”

“Baiklah. Serahkan kepada ibu dan tidak perlu terburu-buru.”

“Gumawo Omma…” Mi Sun menutup telponnya.

Lanjut ke bagian 2 yak. klik di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *