Sinopsis Mother of Mine Episode 33 Part 1

Sinopsis Mother of Mine Episode 33 Part 1 – Episode sebelumnya ada di sini. Selengkapnya kamu bisa cari tahu di tulisan yang ini yaaaa guys. Selamat membaca. Terima kasih sudah menunggu dan setia membaca di sini.

“Anda mau pergi? Katakan kenapa alasannya? Anda sungguh ingin aku pergi?” Tanya Mi Ri.

“Tidak ada gunanya bagi kita berdua. Orang-orang tidak akan tinggal diam.”

“Kenapa? Apa salah kita? Apa kita sudah berbuat jahat? Atau kita sudah merugikan perusahaan? Kenapa orang-orang tidak akan tinggal diam?”

“Kamu dan Ibu sudah bekerja di perusahaan ini selama 10 tahun. Orang-orang akan berpikir ibu memasukanmu ke perusahaan sebagai orang dalam.”

“Tapi itu tidak benar. Anda bahkan tidak mengenaliku.”

“Ah ya. Ibu bahkan tidak mengenalimu. Tapi orang-orang akan berpikir sebaliknya.”

“Tapi itu tidak akan terjadi. Aku tidak bisa pergi begitu saja karena kita ibu dan anak. jika itu mangganggu anda. Anda bisa mengabaikanku saja mulai sekarang. Kita tidak harus saling berbagi kehidupan pribadi atau harus akrab. Seperti kata anda. Kita sudah tinggal terpisah dalam waktu yang sangat lama. Kenapa tidak bosa tbtb saling terikat. Kita tidak bs saling pengertian seperti ibu dan anak sungguhan. Kurasa itu melodramatis.”

“Ibu tidak butuh itu. Pergilah sana. Ini demi kebaikanmu sendiri. Bukankah katamu kamu mau belajar? Kamu dibesarkan keluarga miskin. Kamu pasti tidak bisa menikmati hal yang kamu inginkan.”

“Apa anda sungguh… ini untuk kebaikanku? Maaf, tapi aku tidak paham.”

“Seung Yeon…”

“Nama itu juga. Terdengar tidak familier bagiku sekarang. Aku pergi dahulu.”

****

Lalu kita kembali ke obrolan Direktur dan Jeon In Sook.

“Anda sendiri yang harus menyampaikannya. Aku akan melaporkan ke pimpinan bahwa Mi Ri anak pedagang sup tulang sapi.  Tapi aku tidak bisa memastikan sebesar apa atau sampai kapan dia akan percaya. Jadi, aku mau anda membuat keputusan sesegera mungkin. Seperti yang anda tahu, masalah ini tidak bisa dikubur untuk waktu yang lama.”

“Aku paham.”

“Aku permisi.”

*******

Tae Joo akan memberikan hadiah pada Mi Ri. Ia pun menelepon Mi Ri. “Sunbae kamu di mana? Aku akan naik ke atas. Aku menelepon agar kamu bersiap jika sekarang masih memakai piyama.”

“Maaf. Aku di kantor.”

“Apa? Kenapa pergi sendiri? Itu tidak setia.”

“Aku datang pagi karena banyak pekerjaan. Sampai jumpa.”

Mi Ri pun masuk kantor dalam keadaan yang sangat murung.

*****

Saat malam hari setelah dari rumah In Sook, sebenarnya Mi Ri datang ke kedai Ibunya. Namun ia balik lagi. Sayangnya, Emak tahu mobil Mi Ri lewat. Emak curhat ke Mi Sun dan ingin menemui In Sook. Tapi Mi Sun berkata untuk tidak usah saja menemui In Sook atas semua yang telah terjadi.

Sedangkan kabar baiknya adalah di kantor, Mi Sun melakukan performa kerja yang sangat bagus hingga melebihi target.

*****

Nenek Mi Ok lain lagi, dia mengatakan bahwa Jin Soo akan dioperasi dan Kakek harus menjaga Da Bin. Tapi ini hanya alasan saja karena nenek Mi Ok sama sekali tidak mau menjaga Da Bin.

“Pokoknya Jin Soo sakit, jadi tolong urus Da Bin untuk hari ini.”

“Tidak bisa.” Jawab Kakek. “Kamu saja. Kamu yang menerima uang. Aku tidak mau melakukannya. Dasar wanita licik. Apa? Da Bin selalu di rumah karena libur musim semi dan kamu muak karena malas?”

“Kamu sungguh akan melakukan ini kepadaku?”

“Ya.”

Mi Ok marah dan membanting pintu. Tas juga dibanting di hadapan Da Bin. Hingga kelihatan barang yang keluar. Entah apa itu…. kek merah-merah.

****

Karena penasaran. Da Bin mengambil benda merah itu saat neneknya masuk kamar. Ternyata benda itu adalah bra merah yang uwuuwuwuw.

“Kakek. Lihat ini. Ini cantik bukan?” Da Bin menempelkan itu ke dadanya. Wkwkwkkw.

“Di mana kamu menemukan itu?”

“Di dalam tas.” Da Bin menunjuk tas neneknya.” Kakek pun mengecek celananya. Wkwkkwkw.

****

Jin Soo pulang menemui ayahnya dan kakek malah melihat dua benda merah dan memutar-mutarnya. Wkwkkw.

“Aku pulang cepat sebab punggungku sakit karena ayah. Haruskah ayah membela istriku terus?”

“Jin Soo…”

“Ayah. Kurasa aku harus menceraikan Mi Sun.”

“Bercerai adalah hal yang ingin ayah lakukan pada ibumu.” Wkwkwkkw kakek pun memperlihatkan setelan bikini merah.

“Apa itu?” Jin Soo pun gagap.

“Menurutmu di mana ibumu ingin mengenakan ini? Dia ingin memamerkan pinggulnya yang seperti kubis dan mengenakan ini. Menurutmu dia mau menunjukkan ke pria macam apa? Dia bahkan berbohong kanker tiroid juniornya kambuh.”

*****

Kali ini Jae Bum mabuk lagi. Ia datang ke kedai emak lagi dan dibawa pegawai paruh waktu dan Paman Young Dal ke kamar Mi Hye.

“Ada apa dengannya? Bagaimana ada perempuan zaman sekarang yang menyukai pria macam ini. Dia adalah penguntit.”

“Penguntit?”

“Dia benar-benar terobsesi. Anda harus lapor polisi.”

“Kakak. Haruskah kita lapor polisi?” Tanya Paman pada Emak.

“Ya. Telepon 119.”

“Noonim,,, itu pemadam kebakaran.” Wkwkwkkwkw

“Ada yang harus memadamkan hatinya.” Wkwkkwk bener bgt.

*****

Mi Hye mencetak tulisannya dan diberikan pada Woo Jin.

“Bagaimana menurutmu?”

“Aku suka ide dan tokohnya. Jangan berusaha membuatnya sempurna. Mari bawa ini kembali ke Seoul dan perbaiki sedikit. Kerjakan draf pertama.”

“Aku mau sebisa mungkin tidak memasukkan kakak keduaku.”

“Kenapa? Ada alasan?”

“Tidak mau saja. Dia sedang membereskan urusannya sendiri dan aku tidak mau dia terluka.”

“Aku tidak masalah. Jika kamu bisa membuat anekdot yang lebih baik. Tidak penting itu nyata atau fiksi. Tidak ada yang mau autobiografi. Terispirasilah dari keluargamu untuk menulis kisah menyentuh hati yang lebih baik. Aku tidak memintamu menjual keluargamu.”

“Tidak. Aku akan menjual apapun demi menghasilkan uang.” Wkwkkwkw “Ibu selalu memarahiku. Kak Mi Sun menjadikanku pengasuh, Kak Mi Ri terlalu sukses di sekolah dan pamanku yang pecundang, aku inging menjual mereka semua. Akan kumanfaatkan mereka semua agar aku sukses.”

Woo Jin tertawa. “Itu terserah kepadamu. Keputusan ada di tanganmu.”

“Jadi, sajangnim, apa kamu mau kembali ke Seoul hari ini?”

“Ya. Kenapa tidak? Kita sudah selesai di sini.”

“Sudah lama sejak aku keluar. Aku dikurung di dalam untuk menulis berhari-hari dan terus menulis. Rasanya salah jika aku harus kembali ke keluargaku begitu saja. Bisakah kamu membawaku keluar?”

*****

Akhirnya Woo Jin dan Mi Hye pun jalan-jalan.

Mi Hye bahkan menangis ketika tiba di suatu tempat. “Ada apa?” Tanya Woo Jin.

“Aku memanangi hadiah atas nama dia. Lalu aku tidak melakukan apa pun selama sembilan tahun.” *jadi ada bangunan lama dan bekas tempat tinggal siapa gt.

Mi Hye pun melihat laut….

“Aku bahagia melihat laut lagi.”

“Nikmati suasananya. Lupakan masa lalumu. Katakan hanya akan ada hal baik yang terjadi.”

“Terima kasih. Sudah mengeluarkanku dari rumah. Aku hanya merencanakan bukuku selanjutnya. Tapi terima kasih sudah banyak membantuku menulis.”

“Jika aku memikirkan bagaimana kamu meneriakiku… ahhh kamu bahkan melemparkan makanan Dol Dam kepadaku.”

*jadi pengen jalan-jalan kan yak ampun.

Lanjut ke bagian 2 yaaa… klik di sini kelanjutannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *