Sinopsis Mother of Mine Episode 37 Part 2

Sinopsis Mother of Mine Episode 37 Part 2 – Episode sebelumnya ada di sini. Selengkapnya kamu bisa cari tahu di tulisan yang ini yaaa guys. Terima kasih sudah mengikuti di besok pagi yaaaaaap.

Mi Ri memarkirkan mobilnya dan In Sook langsung menarik tangannya. “Apa yang anda lakukan? Lepaskan aku.”

“Turuti aku saja.”

****

Mereka ada di atap gedung.

“Ya. Aku tahu perasaanmu. Aku ibumu tapi menelantarkanmu. Lalu muncul 30 tahun kemudian. Kini aku ingin pergi dan kamu pasti marah. Kamu akan merasa marah dan terkhianati. Tapi, kamu ingin aku menjadi ibu yang seperti apa?”

“Apa maksud anda?”

“Seperti yang kamu tahu. Aku tidak seperti bibimu. Aku tidak seperti ibu yang membesarkanmu.”

“Aku tahu itu. Anda sangat bebeda darinya.”

“Apa  kamu ingin aku menjadi seperti dia? Di dekat anak-anak mereka, selalu mengkhawatirkan mereka. Dan hanya itu yang dia pedulikan seumur hidupnya. Itukah yang kamu mau?”

“Apa itu buruk? Bukankah itu yang dirasakan semua ibu?”

“Lantas apa? Sekarang apa yang bisa dilakukan oleh ibu yang membesarkanmu? Bisakah dia menyekolahkanmu ke LN? Bisakah dia membuatmu sukses? Dia hanya bisa mengkhawatirkanmu dan memedulikanmu serta bersyukur atas gajimu. Kamu pikir kamu putri yang baik. Karena merasa dirimu sukses? Tapi terlepas kamu sebagai kebanggaan dan kebahagiaannya. Apa untungnya bagimu?”

“Jaga bicara anda. Aku bisa seperti sekarang karena kasih sayang dia.”

“Jangan berpikir hidup semudah itu. Maafkan aku karena tidak ada saat kamu kecil. Tapi, seperti kata orang, dunia ini adalah tempat yang luas dan banyak yang bisa dilakukan. Kamu ingin berhenti di sini? Pikirmu kamu bisa menjadi lebih tinggi dari manager perusahaan hansung apparel? Hidup sebagai wanita sangat terbatas. Jika kamu tetap di sini, perusahaan akan mempekerjakanmu hanya sampai kamu menikah. Lantas, apa bedanya dengan kakakmu, Mi Sun?”

“aku tidak menyangka anda berkata begitu. Memangnya kak Mi Sun kenapa?”

“Jadilah ambisius. Jangan hanya mengejar kesuksesan biasa, pernikahan biasa, dan menjadi putri dan ibu biasa. Hiduplah dengan ambisi. Hiduplah seperti Hillary Clinton. Bukankah kamu ingin kuliah di Ivy League? Bukankah kamu ingin seluruh dunia menjadi punggungmu? Apa kamu tidak ingin sukses dan diliput majalah Times? Aku bisa membantumu mewujudkannya. Aku bisa membantu dalam hal apa pun dan mendukungmu mewujudkan semua itu. Aku seorang ibu yang bisa melakukan semua itu.”

“Jadi, kamu mau bilan bahwa kamu lebih baik dari ibuku? Sungguh tidak tahu malu.”

****

Mi Ri akhirnya curhat ke Tae Joo.

“Sejujurnya aku tadi ke ruangan CEO. Perusahaan tahu soal kita.”

“Lalu? Kenapa dengan itu? Kita tidak salah. Kita tidak mengusik orang lain atau merusak perusahaan.”

“Benar. Ini bukan salah kita. Maksudku, ini sama sekali bukan salahmu. Ini salahku yang membuat keputusan.”

“Ini salahku juga. Aku menyukai bosku. Jangan cemas. Aku pacar kang Mi Ri dan aku akan mengurusnya.”

“Tapi Bu Jeon terus menghalangi kita. Dia seperti ular berbisa. Dingin seperti es. Aku sangat membencinya. Dia menjadi gundik, apa hebatnya hidup seperti itu? Apa bedanya dengan wanita bar.”

****

Mi Hye masih sibuk dengan tulisannya dan ada Bang Jae Bum muncul dalam pikirannya.

“Ahhh ini membuatku gila. Tapi ketika aku menulis tentang keluargaku pasti ada Bang Jae Bum.”

****

Mi Sun akhirnya menitipkan Da Bin ke Ibu dari teman Da Bin untuk sementara.

****

Mi Ri menemui Emak di rumah. “Jadi, kamu bertengkar dengan ibumu?” Tanya Emak.

“Ya. Kubilang, jangan coba-coba melakukan trik picik.”

“Trik? Kamu masih kekanak-kanakan. Ibu macam apa yang melakukan trik picik kepada anaknya? Bahkan ibu yang jahat tidak akan menipu anaknya apa pun yang terjadi. Dia melakukan itu demi kebaikanmu. Seperti kata ibumu. Kamu bisa kuliah ke LN dan menjadi bertambah sukses.”

“Aku tidak ingin itu. Aku hanya ingin tetap di sini bersama Ibu.”

“Jika kamu tidak ke luar negeri, maka menikahlah.”

Dan ditambah beberapa percakapan kemudian Emak kebelet.

****

In Sook, Tae Joo dan Pimpinan saling bicara.

“Apa yang membuatmu sangat marah? Hingga mengerutkan dahi sepanjang malam?” Tanya Pimpinan pada Tae Joo.

“Pimpinan….”

“Diamlah… kamu marah pada ayah karena menyuruhmu mengakhiri hubunganmu? Kamu sungguh tidak akan meneruruti ayah?”

“Setahuku, tidak ada peraturan di perusahaan yang melarang hubungan sesama rekan kerja.”

“Yak! Siapa yang membahas peraturan perusahaan? Pikirkan tempat dan posisimu di perusahaan!” Pimpinan berterika.

“Ada apa dengan itu? Jika ayah terus seperti itu, aku akan pergi.”

“Bu Kang akan dipromosikan. Dia akan dipromosikan menjadi direktur pengelola junior. Ayah akan menempatkanya dibawah pimpinan Wang Wei di Tiongkok. Wang Wei akan datang ke perusahaan hari ini, bukan?”

In Sook menjawab. “Ya. Pimpinan. Aku sudah memercayakan Bu Kang untuk menemani Pimpinan Wang.”

“Bagus. Pegawai muda yang akan dipromosikan menjadi eksekutif. Bukankah itu impian Bu Kang? Aku akan mewujudkan impian pacarmu. Yak! Apa kamu ingin menjadi orang bodoh yang menghalangi pacarmu?”

“Itu keputusan yang bagus.” Ucap In Sook. “Bu Kang kenal dengan Wang Wei. Juga, dia tidak butuh penerjemah karena terbiasa berbisnis di Tiongkok. Dia sangat mengetahui pasar. Dia orang yang tepat di posisi itu.”

“Aku akan menunjuk dia hingga pasar Tiongkok siap. Itu membutuhkan waktu beberapa tahun. Jadi, kamu juga harus bekerja sebagai pegawai dan lakukan pekerjaanmu. Bu Kang orang yang sama dengan ayah. Dia tidak peduli dengan orang kecil sepertimu. Baginya karir adalah yang terpenting. Ayah sangat yakin dia akan menerima tawaran ayah. Lihat saja.”

“Kalau begitu. Aku akan ikut dengannya.”

“Itu bukan tempatmu. Kamu hanya pegawai biasa!!!” Ayah pun marah.

Bersambung ya. klik di sini kelanjutannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *