Sinopsis Mother of Mine Episode 4 Part 1

Sinopsis Mother of Mine Episode 4 Part 1

Episosde sebelumnya ada di tulisan yang ini yaaa guyssssss….

Mi Ri akhirnya datang ke pertemuan makan malam anggota timnya.

“Maaf. Aku lupa.” Ucap Mi Ri.

“Haeeehhh bisa-bisanya anda melupakan hal semacam ini?” Ucap Pak Park.

Mi Ri kemudian berkata. “ini acara pertemuan usai pembukaan. Meski jadwal kalian sibuk, terima kasih sudah mengikutiku. Kalian semua hebat. pegawai baru telah bergabung dan mari kita bersulang demi meneruskan kinerja hebat kita!”

Mi Ri pun nampak banyak minum. Hingga salah satu rekan kerjanya bertanya. “Bu Kang, apa ada sesuatu yang terjadi hari ini? anda minum sendirian tanpa banyak bicara.”

“Ohhh… tidak apa-apa. Ohh Iya… Cho Min Hye, ceritakan bagaimana harimu?” Tanya Mi Ri pada pegawai baru perempuan.

Min Hye menjawab. “Masih banyak yang harus kupelajari. Aku masih bingung.”

“Bagaimana denganmu, Han Tae Joo-sshi?”Tanya Mi Ri.

“Deskripsi pekerjaannya belum terlalu jelas.  Jadi, aku tidak yakin.” Semua pun diam mendengar jawaban Tae Joo.

“Apa maksudmu? Deskripsi pekerjaannya belum terlalu jelas?”

“Beberapa pekerjaan tampak percuma di divisi kita. Ada divisi lain yang mengurus pekerjaan kita. Jadi, kupikir semua agak berantakkan.” Jawab Tae Joo.

Salah satu pegawai menanggapi. “Apa maksudmu? Kamu baru bekerja sehari.”

Mi Ri pun lanjut berkata. “Lantas, maksudmu, aku tidak becus menugaskan pekerjaan dan membawa pekerjaan divisi lain ke divisi kita serta sangat merepotkan timku? Begitukah maksudmu?”

“Tidak. Bukan begitu.” Ucap Tae Joo gagap.

Mi Ri menyembar. “Kamu sungguh berpikir aku tidak memeriksa semua itu?”

“Yakkk… minta maaf kepadanya.” Ucap Pak Park.

“Maksudku…” Ucap Tae Joo.

“Sudahlah. Mari jangan bahas pekerjaan saat berkumpul. Manager umum yang kaku ini akan pergi sekarang.” Mi Ri mengeluarkan kartunya dan diberikan pada Pak Park. “Akan kubayar tagihannya. Jangan terlambat besok. Aku tidak akan memaafkannya.”

Mi Ri pergi dan Tae Joo berusaha mengejarnya.

“Bu Kang!!!”

“apa?”

“Bukan begitu maksudku.”

“Bukan begitu maksudmu?”

“Ya.”

“Kamu pegawai baru. beraninya mengkritik manager umum saat berkumpul?”

“Jika kau menyinggung anda, aku sungguh minta maaf.” Dan saat itu pula muncul Pak Park di saping pintu.

“Yakkk… Han Tae Joo. Jangan banyak bertingkah. Datang dan ambil kemejamu.” Mendengarnya, Pak Park mulai berpikiran macam-macam.

Mi Ri pun pergi. Tae Joo membalikkan badannya dan tahu Pak Park mendengar pembicaraan mereka.

***

Da Bin masih bermain sementara Ibunya mengikat rambutnya. “Da Bin ayo berhenti. Sudah mengemas semuanya?”

“Ya.” Ucap Da Bin.

Sementara suami Mi Sun masih tertidur. Ia pun terbangun. “Pukul berapa sekarang?” dan jam menunjukkan pukul 7.50. Jin Soo berteriak. “Yeoboo….yeobooo aku terlambat.”

Jin Soo pun melihat Da Bin dan istrinya akan berangkat.

“Ayo berangkat Da Bin.”

“Kenapa kamu tidak membangunkanku?” Tanya Jin Soo.

“Jika menjadi diriku, maukah kamu membangunkanku?”

“Apa?”

“Aku tidak pernah pulang cepat padahal aku sudah memohon. Kamu pulang cepat demi menonton bola?kamu manusia? Untuk apa aku membangunkanmu?”

“Yakkkk… Kang Mi Sun. Sudah berapa kali aku bilang. Aku tidak tahu. Semua tidak terduga.”

“Jika kamu cepat pulang secara tidak terduga, pernahkah kamu berpikir untuk menjemput putrimu?”

“Itu jarang sekali terjadi. Aku juga lelah. Apa salahnya aku beristirahat?” Jawab Jin Soo.

“Lantas, apa salah ibuku? Dia bekerja seharian di restoran. Dia menjaga Da Bin. Dia bahkan merawat rumah kita. Tapi kini dia harus memasak untuk ibumu? Memang ibuku salah apa?”

“Sebentar….” Jin Soo pun tengak-tengok. “Ibumu tidak datang hari ini? dia akan bersikap picik dan marah begini?”

“Apa? Bersikap picik? Apa yang kamu katakan? Memangnya wajar bagi ibuku untuk kemari setiap pagi? Beraninya kamu menyebut dia picik hanya karena dia tidak datang sehari?” Mi Sun teriak.

“Kamu sudah teriak pagi-pagi?”

“Minggir aku mau berangkat kerja.” Jin Soo pun sampai terjatuh dan terus mengomel.

***

Di lift, Mi Sun berkata pada Da Bin.

“Da Bin. Maafkan Ibu karena tadi berteriak dan bertengkar dengan ayahmu.”

“Jangan khawatir. Aku tidak apa-apa.”

“Gumawo.”

Mi Sun lari mengejar mobil yang akan menjemput Da Bin hingga jatuh dan berdarah.

“Omma tidak apa-apa? Omaa… kakinya berdarah.” Dan Da Bin langsung menangis.

“Da Bin Omma baik-baik saja. jangan menangis.”

Mobil pun mundur lagi. Guru Da Bin membantu Mi Sun untuk berdiri.

“Karena dia akan pergi karyawisata, aku sudah bergegas dari pagi. Tapi kurasa kami terlambat. Maafkan aku.”

“Seharusnya anda jangan lari. Hubungi saja aku. Aku bisa putar balik.”

“Aku tidak mau menyusahkan anak-anak lainnya. Mereka kan ke kebun binatang untuk karyawisata kali ini? tapi Da Bin mulai demam. Aku sudah menaruh baju hangat di dalam tasnya. Tolong pakaikan itu saat dia kedinginan.” Ucap Mi Sun yang perhatian banget.

“ya. tentu saja.”

Da Bin pun mulai berangkat.

***

Ibu Mertua jahara bicara dengan suaminya. “Berhentilah bicara.. bukankah kamu seorang pria? Kenapa kamu mengomeliku sejak kemarin? Kamu tidak lelah?”

Ayah menjawab. “Teganya kamu membuat besanmu memasak untukmu dan teman-temanmu? Kamu tidak punya hati nurani ya?”

“Aku tidak menyuruhnya. Aku tidak memanggilnya kemari. Mi Sun memintanya, bukan aku.”

“Dia memintanya memasak? Kamu sungguh sulit dipercaya. Kamu bahkan tidak punya sedikitpun hati nurani. Dasar wanita jahara.”

“Wanita jahara?”

“Benar. Kamu wanita jahara.”

“Yang istrimu itu siapa? aku atau Bu Park? Ahh kenapa kamu tidak menjawab? Kamu memihak siapa?”

“Aku nampak memihak seseorang? Aku membahas soal tatakrama dasar yang harus kamu lakukan dalam hidupmu. Norma. Kamu tahu maksudku?”

“Tata krama dasar? Baguslah kamu mengikutinya. Aku ibu mertuanya. Kenapa aku tidak boleh memintanya untuk memasak?”

“Pikirmu dia sempat melakukan itu? dia sudah sibuk mengurus pekerjaannya dan Da Bin. Sudah banyak yang harus dia kerjakan. Kamu punya tangan dan kaki. Kamu bisa melakukannya sendiri. perlukah kamu mengeksploitasinya seperti itu?”

“Kemarin itu baru kali pertama.”

“apa? Kali pertama? Kamu sering melakukan itu seperti penjahat terbiasa.”

“Apa katamu? Kamu memperlakukan istrimu seperti seorang kriminal?”

“Tidakkah kamu merasa bersalah sama sekali kepada besanmu?”

“Biarkan saja dia. dia melakukan itu demi putrinya. Tidak ada yang bisa menghentikan pengabdiannya.”

“Kamu ini bicara apa?”

“Banyak yang harus kubicarakan juga. Dia membuatku malu, kamu tahu? Belum lagi pakaian lusuhnya dan perilakunya. Semua orang di lingkungan apartemen ini tahu soal Ibu Park. Maksudku, bukan hanya dia Ibu di dunia ini. bukan hanya dia yang punya anak. Dia sering sekali mendatangi rumahnya Mi Sun. Bahkan saat akhir pekan. Dia mencampuri segala macam urusan. Aku bisa mentoleransi itu, tapi ada besan dan orang lain di lingkungan ini, tidak bisakah dia berpakaian sedikit rapi? Aku akan memikirkan penampilanku demi putriku jika menjadi dirinya. Dia selalu memakai celana aneh. Dia bahkan pernah memakai celemek restoran sekali.”

“Aigoooo aigooo… anak-anak bekerja mati-matian untuk mencari nafkah sementara kamu sibuk berdandan dan memakai sepatu hak tinggi. kamu berjalan sambil menggoyangkan pinggulmu. Dia jauh lebih baik darimu.”

“Apa katamu? Aku berjalan di jalanan sambil menggoyangkan pinggulku? Kamu bercanda ya?”

“Aku tidak bercanda. Jadi berhentilah memanggilnya kemari mulai sekarang. buatlah masakkanmu sendiri.” Ayah pun marah…

Lanjut ke bagian 2 yak.  klik di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *