Sinopsis Mother of Mine Episode 5 Part 2

Sinopsis Mother of Mine Episode 5 Part 2

Episode sebelumnya ada di sini. selengkapnya kamu bisa cari tahu di tulisan yang ini yaaa….

Paman Young Dal buru-buru masuk kedai Emak. Sementara itu di dalam restoran, Emak sudah memasak.

“Kakak tidak pergi ke rumah Mi Sun?” Tanya Paman Young Dal. “Noonim….”

“Berhenti memanggil kakak dan pindahkan itu.” Ucap Emak yang sibuk dengan supnya.

“Kakak yakin tidak pergi ke rumah Mi Sun? Ahhh… Apa Mi Sun libur hari ini?”

Lalu tiba-tiba Emak pergi secara tiba-tiba. Emak pergi dengan terburu-buru dengan taxi.

***

Mi Sun sudah menggandeng Da Bin dengan melamun. kemudian Ayah mertua Mi Sun datang menghampiri.

“Kamu sedang apa di sini?”

“Appa nim.” Ucap Mi Sun memberikan hormat.

“Bukankah kamu seharusnya bekerja? sedang apa kamu di sini?”

“Kami menunggu bus jemputan Da Bin.”

“Kamu tidak terlambat? Bukankah kamu seharusnya berangkat kerja? Bagaimana dengan Jin Soo?”

“Dia sudah berangkat kerja.”

“Bagaimana dengan ibumu?”

“Aku tidak tahu. Aku tidak menelponnya.”

“Aku paham kamu marah, tapi jangan begitu kepadanya.”

Emak berlari dan bersembunyi saat melihat Mi Sun, Da Bin dan besannya saling bicara. Ayah mertua lanjut bicara. “bagaimanapun,  jangan antar Da Bin ke TK hari ini. kamu tidak boleh mengantarnya saat dia terluka. Bagaimana jika dia berlarian, menabrak seseorang, dan lukanya lebih terbuka lagi?”

“Tapi…”

“Tidak apa-apa. Ayah akan mengawasinya hari ini. Da Bin… bagaimana jika membolos untuk bermain dengan kakek saja?”

“Sungguh? Tanya Da Bin.

“Ya. tentu saja.”

“Aku suka…” Ucap Da Bin yang akhrinya dibawa oleh kakeknya.

****

Da Bin masuk ke rumah kakeknya dan berlari memeluk nenek jahara begitu melihatnya. “Kamu jangan berlari. Kamu tidak boleh berlari dengan plester seperti itu di dahimu. Aigooo lihat ini. pada wajah seorang gadis. Apa yang terjadi?” Tanya mertua jahara pada suaminya.

“Apa maksudmu?” Tanya kakek.

“Kenapa Da Bin di sini dan bukan di TK?”

“Aku bilang dia boleh membolos hari ini.”

“Kenapa?”

“Dia tidak boleh pergi selama masa pemulihan. Jangan cemas. Aku akan menjaga Da Bin hari ini.” Ucap kakek.

“Bagaimana dengan Bu Park?”

“Kenapa kamu membahasnya? Ada apa denganmu?”

“Kenapa kamu menatapku? Kamu kira aku di sini karena senang?”

“Bagaimana bisa kamu bilang begitu di hadapan anak kecil?”

“Da Bin… bermainlah sendiri sebentar.” Ucap nenek pada Da Bin.

***

Nenek akhirnya bicara berdua dengan suaminya.

“Aku sudah di sini. ada apa? Apa? Kamu mau berbuat apa?”

“Antar Da Bin ke Bu Park.” Anjay bgt dahhhh ni nenek jahara.

“APA?”

“Kamu tidak mendengarku? Bawa Da Bin ke Bu Park. Dia pengasuhnya. Jika pengasuhnya berubah, anak itu akan bingung.”

“Kamu lihat apa yang terjadi kemarin malam antara Mi Sun dan Ibunya. Bagaimana kamu bisa bilang begitu?”

“Cckckckck… apa kamu bodoh? Yang terjadi kemarin malam. Kamu kira itu antara Mi Sun dan Ibunya?”

“Apa maksudmu?”

Nenek gila pun mengikuti ucapan Mi Sun. “Ibu membuatku gila. Aku tidak tahan dengan Ibu….”

“Aigooo…. apa yang kamu lakukan?”

“Kamu kira itu untuk ibunya?”

“Kamu mau bilang apa?” kakek pun gemas.

“Dia ingin kita mendengar itu. terutama aku yang dia incar. Dia mungkin marah, tapi beraninya dia berteriak di depan mertuanya. Dia tidak bisa mengeluh langsung kepada kita, jadi, meneriaki ibunya karena bisa.”

“Aigoo… bagaimana kamu tahu itu?”

“Yeobo!!!” nenek berteriak dan Da Bin pun mendengar.

“Dengar! Anaknya terluka. Ibu macam apa yang tidak akan marah anaknya terluka? Mi Sun akan sedih. Bagaimana tidak? Serta dia akan menyalahkan Ibunya. Terutama karena dia mengawasi Da Bin padahal sudah disibukkan dengan restoran. Dia pasti menyalahkan dirinya sendiri juga. Semua iu menyebabkan dia meledak. Bagaimana kamu bilang Mi Sun mengincarmu?”

“Jangan konyol. Dia bicara kepadaku.”

“Itu hati nuranimu. Ada yang mengganggumu di sini. di hatimu. Hati nuranimu bicara denganmu.”

“Apa? Cepat antarkan Da Bin ke Bu Park! Aku tidak mau mengurus Da Bin.”

“Bagaimana kamu bisa berkata begitu? kamu sungguh neneknya Da Bin?”

“Ya. aku neneknya Da Bin. Terepas dari apa yang terjadi, aku tidak mau mengasuhnya. Aku hanya menemuinya saat seollal, chuseok, dan hari natal. Serta memberinya hadiah pada hari anak-anak.”

“APA?????!!!!” Kakek berteriak.

“Kenapa kamu berteriak?”

“Kamu sungguh jahat.”

“Aku tidak peduli. Aku tidak mau mengasuh Da Bin. Tidak mau!!! Pokoknya tidak mau.”

***

Mi Ri berada di kantornya dan membaca resume dari Han Tae Joo. Ia membaca tulisan ini….

…. Aku belajar bahwa pemasaran adalah mengencani pelanggan. Aku yakin sebelum merasakan cinta itu, kamu harus berusaha mengetahui bagaimana perasaan orang lain, jadi, sejak kecil aku berusaha mengalami banyak hal….

Dan pengalaman kerja Tae Joo amat sangat panjang…

Mi Ri berkata. “ckckckkc… dia tidak pernah tinggal di suatu tempat untuk waktu yang lama”

Kemudian Mi Ri menelpon seseorang. “Sunbae, aku mau menanyakan sesuatu. Apa seseorang pria bernama Han Tae Joo pernah magang di perusahaanmu? Dia seperti apa?”

“Han Tae Joo Sshi? Dia masuk Hansung? Aku membujuknya tetap di sini dan dia malah ke sana?”

“Kamu mau dia tetap di sana? Dia bukan dipecat?”

“Kami berusaha mempekerjakannya menjadi pekerja purnawaktu, segera setelah masa magangnya selesai. Tapi dia pergi.”

“Sungguh? Bukankah dia tidak sopan?”

“Apa maksudmu? Dia lebih baik daripada yang lainnya. Pekerjaannya sangat bagus dan dia rajin dan sopan. Dia menerima perintah dengan baik dan cepat mengerti, serta cepat tanggap.”

“Baik. Terima kasih.”

“Suruh Han Tae Joo menelponku. Akan kutraktir dia makan.” Telpon pun ditutup.

***

Mi Ri melihat timnya bekerja dan Pak Park sedang belanja online.

“Jangan beli keduanya atau kamu akan dipecat!!!” Ucap Mi Ri saat mendengar Pak Park bingung akan membeli yang mana. Pak Park pun kalap. Mi Ri lanjut ngomel. “Bukan untuk ini kamu dibayar.”

“Aku baru masuk. Baru saja.” Ucap Pak Park.

Kemudian Mi Ri melihat layar monitor Tae Joo. “Han Tae Joo apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu mengerjakan proposal ini? ini bukan pekerjaan untuk pekerja baru.”

Pak Park berkata. “Biar aku jelaskan. Kepalaku sudah penuh dengan urusan perusahaan sampai tidak punya ide baru.”

“Jadi, kamu memberi tugas penting kepada anak baru yang lugu? Pak Park.. kamu sungguh mau keluar dan menghabiskan sisa hidupmu dengan kucing?” Tanya Mi Ri.

“Aku harus bekerja untuk menyokong kucing-kucingku.”

“Pak Park!!!”

Tae Joo angkat bicara. “Aku sudah pernah menyusun banyak proposal sebagai magang. Banyak yang diterima dan diterapkan dengan baik.”

“Memangnya kenapa?” Tanya Mi Ri.

“Aku menerima tugas ini karena bisa melakukannya. Jangan terlalu cemas.”

“Yang bisa dan tidak bisa kamu lakukan itu aku yang menentukan, bukan kamu…. Pak Park!!! Selesaikan proposalnya.”

“Baik.”

“Serta kamu Han Tae Joo… belikan Pak Park kibble untuk kucing-kucingnya. Untuk merayakan pemecatannya. Selesaiakn tugasmu dan taruh di meja. Kamu boleh pulang setelah selesai.”

Mi Ri pun ngacir pergi.

Lanjut ke bagian 3. klik di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *