Sinopsis Mother of Mine Episode 71 Part 1

Sinopsis Mother of Mine Episode 71 Part 1 – Episode sebelumnya ada di sini. Selengkapnya kamu bisa cari tahu di tulisan yang ini yaaa… terima kasih sudah mengikuti sinopsis di sini.

Paman In Ho akhirnya jujur pada Mi Ri. “Pimpinan Han membuat syarat pada Noonim, dia menyuruh mencampakkan Seung Yeon untuk masuk keluarganya. Serta dia tidak boleh menemui putrinya lagi. Ada banyak orang tua dingin dan tidak punya hati. Tapi Noonim bukan salah satunya. Di bilang dia tidak mungkin meninggalkan Seung Yeon. Tapi seperti yang kamu tahu, keluarga kami… kondisis dahulu bahkan lebih parah. Dia harus menikahi orang kaya lebih dahulu. Kenapa dia malah jatuh cinta pada rekan kerjanya? Intinya, setelah suaminya meninggal, noonim tidak bisa mengurus dirinya. Utangnya makin banyak. Rentenir mendesaknya. Lalu dia bertemu dengan adik Pimpinan Han

“Lalu?”

“Wakil pimpinan Han Sung Soo amat baik. Dia amat mencintai Noonim. Tapi Pimpinan han punya kuasa atas pengendalian keluarga. Sebagai ganti melunasi utang kami. Dia menyuruh Noonim memutus hubungan dengan Seung Yeon sebelum menikah. Jadi, Noonim terpaksa meninggalkan putrinya pada kakak iparnya. Lalu menikah. Pada suatu hari…”

Kilas balik.

In Sook bertanya pada keluarganya “Apa Seung Yeon terluka? Di mana dia? Oppa di mana Seung Yeon? Di mana kakak dan istrinya?”

“Jadi, kamu sudah mengirim uangnya?” Tanya Ibu In Sook. “Sudah kirim atau belum?”

“Kenapa tbtb membahas uang? Aku sudah memberi uangnya. Aku memberi uag untuk biaya anakku. Kamu menghabiskan semuanya? Kamu sungguh menghabiskan uang itu? Aku memberikannya untuk membesarkan anak itu? Kenapa kamu habiskan?”

Ibu berteriak. “yak!!! Kamu tidak memberi kami banyak. Setelah membayar semua utang dengan uang itu. Jangan sok baik.”

“Omma.”

“Pikirkan bagaimana kita bisa berutang sebanyak itu. Karena kamu kuliah, saudara-saudaramu tidak bisa kuliah juga. Siapa yang mengirim putri mereka untuk kuliah juga.”

“Ommma….”

“Beraninya kamu menerikakki Ibu.”

Seung Yeon pun keluar kamar. “Ommaaa…”

“Kamu terluka di mana?”

“Apa? Aku tidak terluka.”

“Karena kamu di sini. Beri makan Seung Yeon. Ada anak di sini menghabiskan banyak uang. Dia masih kecil, tapi makannya banyak sekali. Serta, In Soo kena masalah lagi. Jadi, istrinya ke kantor polisi untuk menuntaskan masalah. Jika kamu punya uang, berdamailah.”

“Aku tidak punya uang.” Ucap In Sook.

“Lantas, bawa anakmu ke mertuamu.!!!!!! Dia bahkan bukan keturunan kita. Tidak ada alasan membesarkannya. Nenek akan memasukkan kamu panti asuhan!”

Mi Ri menangis.

Kilas balik selesai.

***

In Ho masih cerita ke Mi Ri. “Oleh karenanya, In Sook datang ke Pimpinan.”

Saat itu In Sook memohon.

“Tolong bantu aku sekali saja. Tolong bantu Seung Yeon. Aku harus membesarkannya. Tolong biarkan aku membawanya.”

“Apa maksudmu? Apa kamu sudah gila?”

“Jika anda membiarkanku membawanya. Aku akan melakukan apapun. Aku akan menuruti apa pun perintah anda.”

“Kesepakatan kita sudah selesai. Kuberikan semua uang yang kamu butuhkan. Kamu mau membawa putrimu? Kamu akan merusak pohon keluarga. Dengarkan, putrimu sudah mati. Hapus dia dari hidupmu.”

Kemudian saat itulah terjadi. Saat malam bersalju di mana In Sook membawa Mi Ri kepada Park Sun Ja alias Emak.

*njir nangis aku.

***

Mi Ri malah pulang ke rumah Emak dan tidak pulang ke rumah Tae Ju untuk menginap.

“Apa bagusnya menikahi keluarga kaya?” Ucap Mi Ri.

“Kamu seharusnya tahu. Kamu kan menikahi keluarga kaya.”

“Aku tidak tahu.”

“Aigo…. bagus kalau punya banyak uang. Kamu tidak perlu khawatir sampai mati soal uang.”

“Aku malah tidak mengerti kenapa orang-orang terobesi dengan uang.”

“Coba pikirkan. Bagaimana orang bisa hidup tanpa uang? Semua di dunia ini soal uang.”

“Aku merasa tidak benar menikahi keluarga kaya demi uang.”

“Itu karena kamu kompeten. Akan lain soal jika kamu tidak kompeten.  Jika kamu lepas dari keluarga itu, kamu masih bisa menyokong dirimu sendiri. Dahulu, tujuan orang hidup adalah pernikahan yang sukses. Beberapa wanita dijual kepada keluarga kaya. Ada yang menyajikan minuman di bar juga. Sekarang, kelas perempuan sudah berbeda. Dulu, perempuan harus melupakan soal kuliah. Lulus SMA juga jarang. Lulus SMA dianggap beruntung. Mereka tidak punya pilihan selain bergantung pada suami dan anak-anak seumur hidupnya. Beruntung jika keluarga mereka tidak mempersulit mereka. Mereka tidak bisa bilang apa-apa jika dijilati. Mereka tidak bisa menangis walaupun sedang dalam masalah. Bagitulah dahulu, perempuan hidup. Itulah alasan ibu menguliahkanmu. Ibu tidak mau kamu hidup seperti ibu”

*ampun saya nangis lagi.

“Ibu mau kamu hidup dengan percaya diri dan penuh martabat.”

“Aigo…. Omma sudah melalui banyak hal. Terima kasih.”

Lanjut ke bagian 2 klik di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *