Sinopsis Mother of Mine Episode 8 Part 2

Sinopsis Mother of Mine Episode 8 Part 2

Episode sebelumnya ada di sini. selengkapnya kamu bisa cari tahu di tulisan yang ini.

Karena kesal. Mi Hye langsung nyelonong masuk ke dalam. Di dalam sudah ada Peter dan Woo Jin.

“Dengar, Pak Kim. Aku memintamu membacanya, bukan membuangnya. Aku menemukan naskahku di tempat sampah. Teganya kamu melakukan ini. katakan….”

“Kubilang akan kulihat, aku tidak akan menyimpannya.” Jawab Woo Jin.

“Apa?”

“Naskah tidak berharga sama saja dengan sampah. Karena itulah aku membuangnya. Ada masalah? Jika ada perapian di sini, akan aku pakai sebagai pembakar. Sederhana saja.”

“Apa? Pembakar?”

“Kamu kemari karena itu? jika begitu, artinya kamu cukup percaya diri dengan tulisanmu. Mengecewakan. Bukan hanya buruk dalam menulis. kamu juga tidak sadar diri. Tapi memang keduanya sangat berhubungan.”

“Apa?” Ehh sumpah ekspesi Mi Hye gitu mulu dari kemarin.

“Masih mau bilang sesuatu? Aku benci mengulang ucapanku. Aku juga tidak andal berpura-pura, menghibur, atau menyemangati orang. Kamu hanya akan mendengar kritikan di sini. tidak keberatan? Jika menjadi dirimu, aku akan langsung pergi dari sini.”

“Woo Jin..” Ucap peter.

Woo Jin malah meninggikan suaranya. “Kamu…. bukankah tadi mau jalan-jalan? Biar kuurus penjaja ini.” Ucap Woo Jin pada Peter.

“apa? Penjaja?”

Peter pun akhirnya pergi dengan ajingnya.

Mi Hye menjawab. “Hei… entah seberapa tajam matamu, tapi kamu tidak boleh begini. Tulisan itu seperti anak bagi penulis, tapi karena… bagi penulis, karya mereka sudah seperti anak.”

“Karyamu tidak pantas diperlakukan seperti itu. sudah kubilang. Biar kupermudah. Menerbitkan bukumu, akan membuat perusahaan kami rugi.”

“Kini aku tahu orang macam apa dirimu. Kesimpulannya, naskahku tidak menghasilkan uang.”

“Bisakah kamu hidup tanpa uang? kamu berjalan kemari?”

“Pak Kim Tae Joon bilang kita harus membaca dengan hati, bukan dengan uang. kamu mungkin kaya dan pandai berbisnis. Kamu mungkin masih muda dan berkelas daripada Kim Tae Joon. Tapi kamu masih jauh di bawah ayahmu. Kasihan sekali.”

Mi Hye keluar dengan membawa naskahnya kemudian ada satu lembar yang tertinggal.

***

Mi Hye pulang dalam keadaan menangis seperti anak-anak. Emak akan menanyainya namun Paman Young Dal mencegahnya.

“Dia mungkin menangis karena sesuatu tidak berjalan sesuai dengan rencananya. Biarkan saja.” Ucap Paman.

“Aigoo.. anak-anak itu tidak bisa diharapkan.”

“Kakak akan ke rumah Mi Sun besok?”

“kenapa bertanya?”

“Mau saja.”

“Kamu sudah gila? Untuk apa kakak ke sana? Setelah ucapannya pada kakak?”

“ayolahh Noonim. Jin Soo membelikan ini.” Paman Young Dal pun mengeluarkan kado yang dibawa oleh Jin Soo. “Lihatlah ini. ini pasti pas sekali dengan kakak.”

“Kakak bilang singkirkan. Bukan keluarkan.”

“Tetap saja. kemeja ini cantik.”

“Diam!!! Jika kamu bersikap bodoh alih-alih membantu, pulang saja sana.”

***

Mi Ri sedang mengadakan rapat.

“Bagus sekali. Bagus… kurasa kita sudah siap. Kalian semua hebat.” Ucap Mi Ri. Semua pun senang dan bertepuk tangan.

***

Dengan laporannya yang sudah matang. Mi Ri mendatango presdir Jeon In Sook.

“Kamu tidak pernah mengecewakan.” Ucap presdir.

“Terima kasih.”

“Perusahaan kita sangat membutuhkan ini. kamu sudah melakukan riset, rencana mendetail dan teliti.”

“Seluruh anggota tim sudah bekerja keras.”

“Begitu? ini proposal yang bagus. Tapi… kurasa tim perencana harus mengambilnya.”

“Apa?”

“Perencana dan pengembangan produk baru adalah tugas mereka. mereka akan lebih efisien daripada Tim Pemasaranmu.” Ucap Presdir.

“Timku yang memikirkan ide ini dan mengembangkannya. Kami bisa bekerja lebih baik daripada tim lain.”

“Aku bukan mengalihkannya karena tidak setuju. Sebagai CEO, aku memikirkan apa yang lebih efektif dan produktif. Kamu pasti sibuk. Silakan pergi.”

Mi Ri bersikeras. “Tidak. Timku bisa lebih baik. Kami sudah meriset datanya sendiri bahkan menganalisis datanya sendiri…”

“Tumben sekali… perusahaan tidak dibangun untuk keuntungan sebuah tim. Ketua sebuah tim tidak boleh mengambil keputusan hanya berdasarkan keuntungan. Bukankah seorang dengan jabatan sepertimu harus paham?”

“Bu Jeon…”

“Timmu sudah banyak pekerjaan untuk menyiapkan pekan mode tahun ini. melakukan itu dengan sempurna tanpa kekurangan apa pun adalah caramu menguntugkan perusahaan ini.”

“Selama ini kami melakukan semuanya tanpa kekurangan apa pun. Kami bekerja lebih keras dari kebanyakan tim. Kami bisa mencapai hal yang ditugaskan.”

“Kudengar pimpinan Wong sangat menyukaimu. Hanya karena dia meneken kontraknya, bukan berart kamu tidak mengacau. Aku tidak menerima bahkan kesalahan terkecil pun. Alih-alih melakukan banyak hal, melakukan yang paling kamu bisa lebih menguntungkan. Bukankah begitu? silakan pergi!”

***

Malamnya. Mi Ri minum seorang diri. Pikirannya melayang.

Lanjut ke bagian ke 3 di sini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *