Sinopsis The King Eternal Monarch Episode 12 Part 4

Sinopsis The King Eternal Monarch Episode 12 Part 4 – Episode sebelumnya di sini. Selengkapnya kalian bisa cari tahu di tulisan yang ini. terima kasih sudah mengikuti yaaa…

Eun Sup kegirangan diberikan makanan oleh Peya. Yeppp… ini hanya bagian dari iklan produk makanan aja guys. Drama ini bakalan jadi salah satu drama yang saya protes karena iklannya kebanyakan.

Jeong bilang. Jo Yeong hampir ketahuan oleh adiknya Eun Bi. Juga cerita tentang Jo Yeong yang tidak akrab dengan Nari. Nari bilang Eun Sup yang sekarang dia lihat jelek. Wkwkk

Eun Sup senang mendengarnya. Eun Sup malah menyuruh Peya membukakan kamar mandi.

Peya mau-mau saja.

***

Dengan bantuan tim forensik. Peya dan Tae Eul masuk ke ruangan di mana Jeong pernah disekap. Mereka melihatnya tanpa bicara.

****

Kemudian mereka ada di dekat tempat penggaraman. *eehh bener nggak sih?

“Yang bawa aku ke sini, pasti Lee Lim bukan? Kita-kira apa alasannya?” tanya Tae Eul.

“Kamu melihat payung yang dia bawa?”

“Payung? Aku tidak melihat Lee Lim. Hanya anak buahnya.”

“aku pernah bilang bahwa kami masing-masing memiliki separuh barang yang kami inginkan. Dia menyembunyikannya di payung, dan aku… ah mungkin dia sudah tahu di mana aku menyembunyikannya.”

“karenanya aku di bawa ke sini. Untuk membuat kesepakatan. Jadi, jika kamu kalah, gerbang itu akan menutup.”

“Ya.”

“Jadi, ini pertarungan siapa yang mendapatkan sebelahnya lebih dahulu?”

“Bukan. Tapi tentang melindungi barang itu.” Ucap Peya. “Pertarungan antara keutuhannya.”

“Kamu akan dirugikan kalau begitu. Kamu tidak akan bisa mengunjungiku.”

“Itu sebabnya, kamu tidak boleh menjahatiku.” Jeong malah menangis. “Jangan khawatir. Tidak ada apa pun milikku yang bisa diambil. Jika kamu masih khawatir, haruskah kita pergi berdoa? Mari berdoa agar mendapatkan restu dari Dewa.”

****

Peya mengajak Jeong pergi ke Gereja. Ia mengatakan, ayahnya bertemu ibunya yang seorang ilmuan saat menghadiri seminar. Ibunya adalah penganut Katolik dan menikah di gereja. Peya cerita Ibunya meninggal saat umurnya masih 3 tahun.

Ia senang Jeong bisa mendengarkan ceritanya.

Jeong juga cerita kehilangan Ibunya karena kanker di usia 5 tahun. Kedua orangtuanya mengurus latihan taekwondo.

Dan hadirlah seorang pastur. Pastur itu mengambil foto mereka berdua. Sayangnya, waktu lama sekali berhenti.

***

Nenek Noh sedang membaca buku puisi.

“Kenapa kamu seperti itu? Kamu duduk sendirian di tepi sungai. Ketika tanaman hijau mulai bermunculan, ketika air bergerak tenang karena angin musim semi. Kamu berjanji bahkan jika kamu pergi, kamu tidak pergi selamanya. Itu yang kamu janjikan, setiap hari aku duduk di tepi sungai, memikirkan semua tanpa ada akhirnya. Saat berjanji bahkan jika kamu pergi, kamu tidak pergi selamanya, apa kamu memintaku untuk tidak melupakanku?”

***

Waktu lama sekali berhenti dan Peya menangis. Kemudian. Jepret…

****

Dokter mengatakan pada Jeong bahwa dia belum boleh minum alkohol dulu.

Peya kaget karena Jeong minta alkohol. “Minol?”

“Aku mau minum segelas agar cepat sembuh. Aliran darahku harus bagus agar bisa sembuh. Astaagaa aku lelah. Kamu pergilah.”

“Sudah kubilang ini kamarku.”

“Benar. Jadi, selama ini kamu tidur di mana?”

Peya pun duduk. “Di sini.”

“Di sini? Bagaimana?”

“Di sebelahmu. Kasurnya lebar.”

“Apa kamu sudah gila? Pantas saja semua orang melihatku begitu.” Jeong memukul Peya.

Ada suara petir menyambar dan baju Peya tbtb kesakitan lagi.

“Jangan manja. Aku tidak memukulmu dengan keras.”

“Bahuku sakit dan panas. Seperti kena api. Ini luka yang Yeong bilang waktu itu.”

“Sungguh? Coba aku lihat.”

Jeong melihat dan kaget.”

*kejadian ini juga sama-sama dialami tanahan Peya di kurungan, seorang ahjussi bersama dengan perempuan yang mengandung, ahjussi pemilik toko buku. *pokoknya orang-orang yang dari kerajaan corea dan pernah bolak balik ke republik corea.

“Sepertinya ini efek samping setelah melewati jalan petir dan kilat.” Ucap Peya. “Kamu tidak apa-apa?”

“Tidak apa-apa. coba lihat.” Jeong menunjukkan lehernya.

“Kamu mengagetkanku.”

“Ahhh coba lihat.”

“perempuan ini sungguh-sungguh. Ah kenapa ini begitu menyakitkan? Tidak ada.” Ucap Peya.

“Tidak ada? apa mungkin ini random?”

“Mungkin.” Peya masih memalingkan wajahnya. “Ini berarti aturan melewati dua dunia telah dilanggar.”

“Ada ungkapan yang biasanya digunakan untuk orang jahat. “kamu memang pantas untuk disambar petir.” Wkwkwk.

“Coba lihat saja.” Ucap Jeong menunjukkan lehernya.

Peya malah mengkissue leher Jeong.

“Yak!!!” Ucap Jeong.

Eh malah dikisseu.

“Siapapun yang berani bilang sembarangan kepadaku akan dipenggal.” Ucap Peya.

“Jangan main-main.”

Eehh kisseu lagi. Lebih lama.

Lepas?

Lagi. Sampai yaaahh….

Kamera menjauh.

Lanjut ke bagian 5 bagian terakhir klik di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!