Sinopsis The King Eternal Monarch Episode 14 Part 5

Sinopsis The King Eternal Monarch Episode 14 Part 5 – Episode sebelumnya di sini. Selengkapnya kalian bisa cari tahu di tulisan yang ini. terima kasih.

Kang Shin Jae bersama rekannya membawa Kang Shin Jae yang asli.

“Terima kasih telah membantu.”

“Kamu bohong waktu kamu bilang dia kembaranmu, bukan? Ternyata semua ceritamu bukan mimpi.” Ucap si dokter yang biasanya jadi tempat curhat Kang. “Aku benar-benar dokter bodoh.” Ucapnya di dalam ambulance. “Yang mana Kang Shin Jae dan yang mana Kang Hyeon Min?”

“aku masih mencari tahu.”

*****

Jang Mi ketemu orang yang wajahnya sama dengan Jeong.

“Sunbaenim. Aku sudah menemukan CCTV tentang panti jompo. Kamu mencari seseorang?” ini karena Jeong nengak nengok mulu.

“Tidak. Sepertinya kalau sebanyak ini. kita harus lembur selama 3 hari.”

Kang datang. “Kurangi jadi 2 hari.”

***

Akhirnya. Pihak kepolisian nonton CCTV sampe puyeng. Sampai berhari-hari dan benar-benar lembur.

Hingga mereka akhirnya menemukan petunjuk di sebuah villa.

Lima orang detektif langsung pergi. Mencari Song Jong Hye.

Sedang mengetuk rumah. Tbtb Jeong mencium bau gas. Beruntung mereka bisa melarikan diri sebelum gas itu benar-benar meledak.

***

Ahjumma mengandung yang ada di Daehan Mingguk. Memukul pria yang sedang menonton TV dengan botol kaca. Ia akan kabur.

Saat membuka pintu. Malah ada ahjumma lain.

“Apa kabarmu?” tanya ahjumma pengikut Lee Lim.

“Siapa kamu?”

“Orang yang akan mengembalikan hidupmu mengirimku ke sini. Hidupmu sebagai cucu dari pemilik Farmasi Hogyeong.”

“Kamu mengenalku?” si perempuan hamil langsung menangis.

“Jika orang itu mengembalikan hidupmu,  apa yang bisa kamu lakukan untuk dia?”

“Semuanya akan kulakukan. Tolong bantu aku kembali.”

****

PM Koo menelepon Ibunya.

“Aku hanya dibebas tugaskan jangan khawatir. Omma, jika aku tanya Omma makan malam apa, ibu harus menjawab ikan makarel. Paham?”

“Apa maksudmu? Ikan makarel apa?”

“Aku tidak becanda. Ibu harus menjawab begitu. Jika tidak, timbul masalah. Omma makan apa malam ini?”

“Ikan makarel. Begitu?”

“Ya. akan aku telepon lagi.”

****

PM Koo menyentuh lehernya. “Sepertinya dia tahu tanda ini. kenapa hanya kalian berdua yang bisa membuka gerbang dengan benda itu dan bahkan tahu tentang rasa sakit yang tidak pernah kurasakan?”

PM Koo membuka lacinya dan mengambil ponsel 2Gnya. “Aku bahkan memiliki ini. benda yang dimiliki oleh keluarga kerajaan. Seruling…”

****

Jeong menemukan telepon umum di hutan bambu. Ia memasukkan koin.

“Kamu sudah di mana? Sudah hampir sampai? Hari pemilihan?”

****

Jeong makan bersama yang lain. Bahkan ada Nari, Eun Sup dan Ayah. Ada Kang juga.

Pertama Nari yang dapat telepon tapi nggak diangkat.

Kedua. Eun Sup. Nggak diangkat.

Kemudian Kang Shin Jae. Tapi ia mengangkat.

“Kang Shin Jae?” Ucap Peya.

“Siapa kamu?”

“Orang yang perlu bantuanmu. Aku mau bicara dengan orang di kirimu, Jeong Tae Eul.” Saat nengok di jalanan. Berasa ada Peya. Dan emang ada sih. wkkwkw.

“Dia ingin bicara denganmu,” Ucap Kang.

“Kalian makan dulu. Aku akan datang.”

***

Jeong keluar kedai. Menemui Peya di jalan.

“Kamu tahu aku bukan?” tanya Jeong. “Kamu orang yang aku temui waktu kecil, bukan? Sabuk taekwondo ibuku? Itu kamu bukan?”

“Ternyata kamu ingat.”

“Kamu siapa sebenarnya? Kenapa bajumu  sama dengan waktu itu? Suara dan wajahnya juga sama.”

“Baju ini hadiah darimu, dan wajahku adalah hadiah untukmu,” WKWKWKWKWKWKKWKWKWKWKWKWKKWKWKWKWK DDUHHHH.

“Apa kamu sudah gila? Maaf. Aku tidak sopan.” Jeong malah menguncir rambutnya. “Pak, maaf, tapi tolong perlihatkan identitasmu.”

Peya malah memegang tangan Jeong. Ia memberikan karet gelang hitam dan dimasukkan ke tangan Jeong.

Jeong terdiam.

“Harusnya aku beri tahu daulu bawa aku tidak punya identitas. Dan aku sudah sering bilang aku tidak gila.”

“Bagaimana kamu tahu aku sedang mencari ikat rambut?”

“Karena aku suka saat kamu begitu. Aku tahu kalian akan membantuku apa pun yang terjadi. Aku senang melihat kalian berkumpul.”

“Bagaimana kamu tahu aku Jeong Tae Eul? Katanya mau bicara denganku?”

“Aku kira aku sudah siap, tapi pada saat kamu tidak mengenaliku, membuatku sedih. Karena itu aku datang. Untuk menjadi bagian dalam memorimu hari ini. kita sekarang hidup di waktu yang berbeda. Jadi, jangan sampai lelah menungguku sampai aku tiba nanti.  Kita akan bertemu di Gwanghamun. Aku akan pakai baju dengan banyak kancing. Dan datang bersama dengan maximus. Bisakah kamu lebih ramah denganku saat kita bertemu lagi? Dan tolong luangkan waktumu lebih lama denganku. Karena aku tidak punya banyak waktu.”

“Kenapa kita tidak bertemu lagi?”

“Karena itu takdir kita. Alasanku tidak menemuimu setiap waktu adalah karena keretakan seruling yang semakan parah. Aku akan pergi. Jika terus denganmu, aku akan lupa berhitung. Anyeong…”

Lee Gon pun pergi. Lanjut ke bagian 6 yaaa… klik di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!