Sinopsis The King Eternal Monarch Episode 16 Part 3 (Final)

Sinopsis The King Eternal Monarch Episode 16 Part 3 (Final) – Episode sebelumnya di sini. Selengkapnya kalian bisa cari tahu di tulisan yang ini. terima kasih untuk yang sudah mengikuti sampai sejauh ini yaaaa… terima kasih pokoknya!!!!

Kembali ke kisah Kang yang diajak Ibunya untuk budir di pinggir jembatan di kerjaan Corea. Tahun 1995.

Kalian tahu siapa yang menghentikan? Yang menghentikan bukan Lee Lim lagi. Tapi Pangeran dan pengawalnya.

Pangeran bahkan memakaikan sepatu Kang kecil.

“Pangeran Buyeong?” tanya Kang kecil.

“Benar. Siapa namamu?”

“Kang Hyeon Min.”

“Hyeon berarti bersinar. Dan Min berarti permata. Arti namamu adalah orang yang bersinar seperti pertama.”

“Kenapa keluarga kerjaan menolong kami?” tanya Ahjumma.

“Bukan keluarga kerajaan, tapi sebagai sesama orang tua. Satu-satunya hal yang tidak bisa dipilih dalam takdir seseorang adalah orang tua. Jadi, ubahlah pilihanmu. Karena pilihanmu adalah takdir anak kecil ini.”

Ahjumma langsung menangis.

“Bagaimana jika minum teh bersama? Itu saranku sebagai seorang dokter.” Ucap Pangeran.

***

Tahun 1994 di pasar ikan tempat PM Koo kecil tinggal. Ada anak kecil mencuri uang Ibu PM Koo. Kecilnya PM Koo ternyata pacarnya Joon Young di The World of the Married guys.

“Beraninya pencuri sepertimu menatapku begitu.” Ucap PM Koo.

Ahjumma kemudian datang. “Berapa umurmu dan siapa namamu?”

“Dia tidak punya nama. Tidak ada toko di pasar ini yang belum pernah ia curi.” Ucap PM Koo kecil.

“Aku punya nama. Namaku Luna.”

“Waahhh namamu cantik sekali.” Ucap Ahjumma. “Tenaga putri ahjumma kuat bukan? Ahjumma minta maaf atas hal itu. Kamu mau makan dulu?”

“Harusnya Omma melapor pada polisi. Kenapa memberinya makan? Memangnya Ibu adalah pegawai dinas sosial?” kemudian PM Koo masuk.

Luna kecil diberikan makan oleh ahjumma.

“Bawa uang ini. aku tidak bisa memberikan semua. Hari ini jualan ahjumma belum banyak yang laku.”

Luna kecil diberikan dua lembar uang. ia memberikannya yang satu lagi pada ahjumma. “Kenapa? Apa terlalu sedikit?” tanya ahjumma.

“Untuk bayar makanku.”

Ahjumma tertawa. “Begitu? Aaggggh kamu membayar terlalu banyak. Jadi, kamu harus makan lebih banyak.”

*****

Jeong ada di hutan bambu dengan memegang senjatanya dan ditemukan orang-orang di sekitar. Jeong pun terbangun.

“Di mana ini? apa Daehan Mingguk? Ini tanggal berapa?” tanya Jeong.

“Ya. ini Daehan Mingguk. Tanggal 25 april 2020.”

“aku polisi. Boleh pinjam ponselmu?” Jeong menunjukkan kartu tanda pengenalnya.

Tae Eul langsung menelepon kantornya dan bertanya tentang semua rekannya termasuk Jang Mi dan Kang.

Jeong langsung menangis.

“Untukku, waktu hanya berlalu sekitar satu pekan.”

****

Tak lama malah tentang perempuan yang dibawa ke kantor kejaksaan dan banyak reporter. Jeong masih bekerja di sana.

“Dunia tampak tak berubah. Tapi beberapa hal ada yang berbeda. Aku masih seorang Letnan,masih seorang anak baik setiap sekali dalam sebulan, dan aku masih ingat semua waktu ketika dirinya datang kepadaku. Aku sedang berusaha menjalani hari-hari dan kehidupanku tanpa dirinya, dan tanpa Hyung Nim.”

****

ketua Tim bersama dengan dokter forensik. Mereka menatap salju yang turun. Dokter Forensik ada di tempat seorang nenek dan anak kecil.

“Jika salju ini menumpuk, atap itu bisa rubuh.” Ucap ketua Tim. “Ada seorang anak berumur 16 tahun yang merasa dibebani oleh salju itu.”

“Jadi, itu adalah kesendirianmu?”

“Bisa dibilang begitu. Kamu ingat adik kelas Seong Min?”

“Ya.”

“Itu nenek dan adiknya. Seperti yang kamu lihat, neneknya sedang sakit. Karena anak itu tidak punya biaya rumah sakit, dia mencuri brankas di tempat kerja paruh waktunya.”

“Lalu?”

“Lalu…sebelum ditangkap, dia meminta tolong kepadaku. Dia memintaku membelikan sebungkus bakpao untuk adiknya. Dan dia juga minta aku membersihkan salju di atas atap. Karena itu aku mulai datang ke sini, dan berlanjut sampai sekarang. Dia bisa hidup jika punya harapan, bukan? Aku tidak tahu kamu akan datang.”

“Astagaa… pergi sana. Kamu bilang kamu datang untuk membersihkan salju.” Dokter forensik bergegas pegi.

“Yeobo. Haruskah kita pergi dengan berpegangan tangan? Atau mau aku buatkan boneka salju?”

Lanjut ke bagian 4 yaaa. klik di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!