Sinopsis The Nokdu Flower Episode 4 Part 2

Sinopsis The Nokdu Flower Episode 4 Part 2 – Episode sebelumnya ada di sini. Selengkapnya kamu bisa cari tahu di sini… kelanjutannya dibuat di sini yaaa guys, bukan di besoksore.com. yukkkk lanjottttt!!!!

Tuan Baek berhasil dibawa oleh anaknya Baek Yi Hyun. Ehh Tuan Baek malah masuk ke rumah Nona Song , Tuan Baek yang serakah malah mencari sesuatu. Sebuah surat kesepakatan yang dibuat dengan Nona Song untuk menjual berasnya setengah harga pasar. Tuan Baek pun menemukan surat itu.

Nona Song yang baru saja pulang, langsung digerebek oleh para pemberontak yang mendapatkan informasi dari Si Tompel. Sayangnya, saat Choi Kyung Sun datang, Tuan Baek sudah ngacir pergi.

“Di mana Tuan Baek?” Tanya Tuan Choi Kyung Sun pada Nona Song. Sambil membawa kain dengan darah.

“Aku tidak tahu. Benda mengerikan apa itu?”

“Jangan pura-pura bodoh! Aku tahu segalanya!” sayangnya entah ada apa pasukan pemberontak malah mundur. *eeemmmm ada yang aneh dari naskah nih.

***

Baek Yi Hyun berbicara dengan Nona Song. “Kamu mengingatku?” Tanya Baek Yi Kang.

“Aku ingat, tapi…”

“Aku punya permintaan.”

***

Nona Song dan Yi Hyun pun bicara empat mata. Yi Hyun memberikan batangan emas. “Aku akan mengaku dibayar. Bawalah kesemek.” Ucap Nona Song.

“Aku tidak mau dikasihani.”

“Aku tidak peduli dengan rasa kasihan. Aku bahkan tidak memuji orang. Ini…..” Nona Song mengingat kalimat Baek Yi Kang. “Karena ingin.” Kemudian Nona Song pun pergi.

***

Kubu Choi Kyung Sun masih mencari Tuan Baek.  Ia memberhentikan tiap tandu yang lewat tapi hasilnya masih nihil.

Tuan Baek terluka dan dibawa oleh Yi Hyun. “Ayah. Bertahanlah. Kita harus tiba di Gunung Baek sebelum fajar.” Yi Hyun pun menggendong ayahnya sendiri.

Dari sawah, sungai, babatuan. Yi Hyun tetap menggendong ayahnya yang luar biasa lalim itu.

Hingga hari sudah pagi, Yi Hyun sudah sampai di suatu tempat bersama dengan ayahnya.

***

Pagi yang geger diantara para masyarakat Gobu. Tuan Jeon Bong Jun membaca sesuatu. Semacam kertas pengumuman.

“Aku tidak punya kemampuan khusus, tapi dipilih sebagai hakim daerah baru. Aku sungguh bingung. Aku ingin mendengar pendapatmu serta menyapamu.” Ucap Hakim baru pada Jeon Bong Jun.

“Aku Jeon Bong Jun, tuan para rakyat.”

“Aku Park Won Myung. Aaahh iyaa, Gubernur Provinsi ingin menyemangati dan mengirim makanan. Itu tidak banyak, tapi mohon diterima.”

Tuan Hwang kini ikut bicara. “Lupakan makanan. Kamu harus meredakan kemarahan rakyat dahulu.”

“Ya tentu saja harus.”

Hakim baru pun berlutut. Ia berlutut pada masyarakat yang hadir. Rakyat pun sangat senang.

****

Dua orang tamu kemudian mendatango Jeon Bong Jun lagi. *HAHAHAHAHAHAHA ORANGNYA BANYAK BANGET MANA MUKANYA PADA MIRIP.

“Aku pasti sudah menyambutmu jika tahu kamu berkunjung. Kamu bergerak seperti hantu.” Ucap Tuan Jeon dengan senang.

“Kamu nampak payah, Nokdu. Berat badanmu turun.”

“Semua ini karenamu.” Mereka pun tertawa. “Jadi, kapan kalian akan beraksi di Mujang dan Taein?”

“Tuan Choi di sini.”

Dan kagak tahuu daaaah siapa lagi… kakek-kakek pun keluar. Tuan Jeon memberi hormat.

Mereka pun duduk berempat. Mengadakan rapat.

“Segera ciptakan kedamaian dan ketertiban serta pastikan anggota kita aman.” Ucap Tuan Choi.

“Anda ingin aku menghentikan pemberontakkan?” Tanya Tuan Jeon.

“Sejak pertemuan terkahir di Boeun. Provinsi Chungcheong. Opresi terhadap anggota kita telah meningkat. Saat ini, kita harus fokus mencari cara yang aman untuk membersihkan nama baik mendiang Tuan Besar Choi.” Wkwkwkwkwk SIAPAAA LAGI TUHAAAAN!!!! “dan membuat Donghak diterima dan diakui. Itu yang harus menjadi fokus kita.”

“Apa itu Donghak?” Tanya Tuan Jeon. “Donghak mengajarkan bahwa Dewa ada di dalam diri semua orang. Jadi, semua manusia. Dari bangsawan sampai kasta terendah, setara dan terhormat. Orang-orang terhormat itu disia-siakan karena mereka kehilangan semuanya. Haruskah kita menghabiskan dan mengharapkan pengampunan Raja?”

“Tenanglah Tuan Jeon.” Ucap Tuan Hwang.

“Lantas, apa arti Donghak bagimu?” Tanya kakek. “Apakah itu keyakinan yang mulia atau senjata untuk menyalurkan kemarahan  dan dendammu?”

Jeon menjawab. “Itu adalah keyakinan dan senjata. Aku yakin orang-orang korup akan pergi dan dunia tempat rakyat memimpin akan tiba. Apakah ada senjata yang lebih kuat dibanding mengubah dunia 180 derajat?”

“Jawaban yang bijak untuk pertanyaan bodoh. Tapi, kesabaranku sebagai tuanmu berakhir di sini.” Kakek pun pergi begitu saja.

Lanjut ke 3…. klik di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *