Sinopsis The Nokdu Flower Episode 6 Part 2

Sinopsis The Nokdu Flower Episode 6 Part 2 – Episode sebelumnya ada di sini. Untuk selengkapnya kamu bisa cari tahu di tulisan yang ini yaaaa... terima kasih untuk ketersediannya untuk menunggu. Untuk seterusnya sinopsis akan dibuat di blog yang ini yaaa. Untuk The Nokdu Flower.

Tuan Choi berjalan dengan Nona Song.

“Kamu sengaja melakukan ini karena tahu ini rahasia penginapan pedagang, bukan? Jika Bong Gil tahu, dia akan menggila.”

“Tapi aku ragu dia akan menuduh putri semata wayangnya.”

“Kamu sungguh bisa mengetahui keberadaan Jeon Bong Jun melalui ini?”

“Ratusan orang hilang bersamanya. Serta beras….”

Saat berjalan. Ada dua orang nembarak Nona Song. Nona Song pun terjatuh. Salah satu diantara penabrak meminta maaf kemudian lari.

“Choi Kyeong Sun.” Ucap Nona Song.

“Apa?” Tanya Choi Deok Ki.

“Itu suara tangan kanan Jeon Bong Jun.”

Tuan Choi Deok Ki mencoba mengejar. Tapi malah kehilangan jejak.

“Aku kehilangan mereka. Kamu yakin itu dia?” Tanya Tuan Choi Deok Ki. “Apa itu?”

Tbtb ada semacam kertas pengumuman terpampang.

“Mereka menempelkannya.” Jawab Nona Song.

“Gangwigipo. Sekelompok anggota Donghak disebut Jeob. Sekumpulan lagi disebut po.”

***

Esoknya berita tentang hal tadi malam sudah masuk ke kantor pemerintahan.

“Gangwigipo. Untuk membentuk Po sekali lagi. Berarti mereka akan memberontak lagi. Pengawal!!! Sampaikan perkataanku kepada penyidik kerusuhan. Dia harus membawa kepala Jeon Bong Jun  bagaimana pun caranya.”

***

Kekejaman terus merajalela demi mencari Tuan Jeon. Banyak penduduk yang lari kabur karena takut dibunuh. Para penduduk banyak yang dibunuh, hingga Tuan Jeon dan pasukannya pun muncul.

Baku hantam terjadi lagi.

Jeon pun mendekat pada anak kecil yang menangisi jasad Ibunya.

***

Keadaan berbanding terbalik dengan Keluarga Tuan Baek. Barang-barang mewah dibawa masuk ke ruang mereka hingga Nyonya dan Anak Perempuan mereka pun bahagia.

“Lihat ini betapa cantiknya.” Ucap kakak perempuan Yi Hyun,

“Ini buatan seseorang yang membawakan hadiah untuk Yang Mulia Raja. Bagus bukan?”

“Ya. Luar biasa.”

Si Tompel yang ada di tempat yang sama pun bicara. “Sepertinya kamu bersiap untuk musim semi mendatang.”

“Aigoo. Jangan bilang begitu. Rumah kami hancur karena para anggota Donghak itu. Seorang bangsawan bergabung dengan keluarga kita. Kita tidak boleh nampak murahan.” Jawab Nyonya.

“Kamu benar. Dia bukan bangsawan biasa. Dia berkerabat dengan penasihat negara.”

“Ahh mendengar penasihat negara saja sudah membuat Ibu mau pingsan. Bagaimana ini?”

Yi Hwa berkata. “Tapi bukankah ibu menghabiskan terlalu banyak uang?”

“Apa? Ayahmu punya lumbung beras di Gunung Baek,  jadi kenapa perlu khawatir?”

***

Tuan Baek ngobrol dengan Si Tompel.

“Jeon Bong Jun muncul lagi?” Tanya Tuan Baek.

“Ya. Dia terlihat di daerah Taein kemarin.”

“Bukankah dia di Jangseong dua hari yang lalu?”

“Tampaknya dia berkeliaran, berusaha memesan gangwigipo atau semacamnya. Aku punya firasat buruk.”

“Sialan.”

***

Lumbung beras mulai dipindahkan. “Tuan Baek meminta beras ini dipindahkan ke toko beras terdekat. Jika aku melihat kalian mencuri, kalian akan dimasukkan ke dalam tikar dan dipukuli, paham?”

“Ya Tuan!!!”

Kemudian segerombolan orang pun datang. Mereka mulai menyerang. Lumbung padi pun mulai dibakar.

Para pembakar ini berkata. “Melayani Dewa. Aku berubah untuk mengikuti kehendak ilahi. Tidak pernah lupa. Aku menyadari semuanya.”

***

Tahu keadaan memburuk, Tuan Baek, Yi Kang dan Yi Hyun datang ke lumbung padi. Ada sebuah selebaran bertuliskan “hati.”

Tuan Baek marah melihat hartanya dibakar. “Mereka harus mati. Mereka harus dihancurkan.”

“Siapa yang menyebabkan kekacauan ini? Apa ini sungguh ulah anggota Donghak?” Tanya Yi Kang.

Yi Hyun menjawab. “Itu tidak penting. Ini balasan dendam atas perbuatan kalian. Kalian pantas mendapatkannya.”

***

Kita kembali pada penginapan pedagang provinsi jeolla, jeonju.

Nona Song membanting pintu ruangan ayahnya dengan keras. “Kamu berusaha lebih keras untuk merusak pintunya. Ada apa?”

“Apa ayah mendengar lumbung beras Baek Ga di Gunung Baek dibakar?”

“Kamu pikir ayah tidak tahu sebagai pimpinan Jeob? Jeon Bong Jun, bertekad membalas dendam kepadamu.”

“Membakar nasi busuk saja sungguh disayangkan. Apalagi beras mentah.”

“Lantas haruskah mereka membawanya? Itu akan memperlambat mereka.”

“Ini ulah ayah atau bukan? Menurutku aneh ayah tahu soal pernikahan itu. Ayah mengawasi meraka dan melakukannya selagi anggota Donghak berkeliaran bebas.”

“Ya. Itu ulah ayah.”

“Astaga… apakah ayah selicik ini?”

“Apa katamu?”

“Ayah selalu bilang dagangan lebih penting daripada nyawa. Tapi ayah membakarnya? Dan ayah memilih beras?”

“Dia mempermainkan nyawamu. Haruskah ayah mengabaikannya?”

“Kubilang aku akan melupakannya.”

“Setelah dia melakukan itu, kamu pikir ayah akan mengabaikannya? Lupakan soal perjalanan bisnis. Jika ingin menghabiskan uang, jangan mengatakan hal seperti itu! Ini adalah dunia tempat orang saling menghancurkan. Ini perang.”

“Tidak, ini dunia ayah. Bukan duniaku. Aku akan hidup di dunia lain. Jadi, silakan bertarung untuk uang ayah.”

***

Nona Song seperti biasanya ngobrol dengan Tuan Choi.

“Kantor pejabat Daerah Gobu menyimpulkan itu ulah Jeon Bong Jun. Mereka berencana mengatakan itu kepada Kantor Gubernur Jeolla.”

“Bagaimana keadaan Baek Ga?”

“Dia tidak banyak bergerak karena cideranya. Selama ini dia di rumah. Kudengar putranya akan menjadi pejabat daerah karena tidak bisa menggunakan tangannya untuk bekerja.”

“Dia tidak bisa menggunakan tanggannya?”

“Dia cacat. Kita harus bagaimana?”

Yi Hyun pun muncul dan memberi salam. “Kabarmu baik?”

“Ya.”

Lanjut ke bagian 3 ya. klik di sini kelanjutannya.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *