Sinopsis VIP Episode 21 Part 1 – Episode sebelumnya di sini. Selengkapnya kamu bisa cari tahu di link yang ini… terima kasih untuk yang sudah mengikuti sinopsisnya yaaa…

Kilas balik september 2018. Na Jung Sun nampak di dokter kandungan. “Mungkin karena kami sudah lama berusaha. Tapi aku selalu gugup setiap kali datang ke sini.”

“Semuanya berjalan lancar. Tapi dia harus mengikutimu ke kamar ganti.” Dokter melihat monitor.

***

Park dan Na Jung Sun pun dengan semangat mempersiapkan kamar bayi. Saat itu, bahkan mereka menggunakan baju pasangan. Na Jung Sun mengandung anak perempuan.

***

Jung Sun masih menangis di kamar bayi. Ia ingat kata dokter. “Bayinya mengalami gagal jantung. Sepertinya kita harus menginduksi persalinan.”

Di luar kamar.  Park memanggil-manggil nama Na Jung Sun.

***

Kilas baliknya juga, setelah Jung Sun kehilangan bayinya, ia bekerja dan Park masih memedulikannya.

****

Park mendekati Jung Sun, ini masih di kisah kilas balik. “Jung Sun Ah….”

“Kamu tahu apa kata orang? Mereka bilang semua akan baik-baik saja. benarkah? Aku melahirkan seperti ibu lainnya setelah 13 jam kontraksi. Bagaimana mereka tahu rasanya tidak mendengar sang bayi menangis? Aku khawatir tidak bisa melupakan wajahnya. Jadi, aku tidak pernah melihat wajahnya.” Jung Sun menangis. “Aku ingin bertanya apakah mereka akan baik-baik saja jika itu anak mereka? Kamu sama sekali tidak sedih? Bukannya kamu juga menderita sepertiku? Kamu juga harus semarah aku. Kenapa harus Sarang? Kenapa harus bayi kita?” anjay… Jang Nara kalau nangisin anaknya bikin saya nangis juga. Kayak di Go Back Couple.

***

Na Jung Sun makan dalam keheningan. Ia tidak bicara. Kemudian masuk ke kamar bayi kembali.

Park melihat Jung Sun…

****

Kembali ke kejadian april 2019.

“Jung Sun. Kembalilah ke kamar kita. Kamu tidak bisa tidur di sana terus.”

“Jangan ganggu aku.”

Esoknya. Kejadian saat kehilangan ayahnya yang meninggal. Saat itu Na Jung Sun tidak ikut.

***

“Sudah setahun. Tapi sepertinya tidak membaik. Masih terasa sakit dan membuatku marah.” Na Jung Sun curhat ke ahjussi yang biasanya naik moge bareng dia.

“Kamu marah karena apa?”

“Semuanya. Semuanya membuatku marah. Ini masih membuatku gila. Tapi aku marah saat melihatnya duduk diam. Terutama, aku marah kepada diriku sendiri. Rasanya aku tidak bisa melindungi anakku. Rasanya semua ini salahku, jadi, aku marah pada diriku sendiri.”

“Kamu minum obat?”

“Aku sudah mimum obat anti depresan selama setahun. Tapi tidak berpengaruh. Masih sama. Ahjussi seorang psikiater sebelumnya. Katakan sesuatu padaku. Bagaimana aku bisa hidup seperti manusia lagi?”

“Kamu mungkin tidak akan membaik. Kamu mungkin harus menjalani seluruh hidupmu dengan perasaan itu tanpa membaik. Tapi satu hari berlalu, dua hari berlalu. Lalu menjadi setahun. Kamu akan hidup. Begitulah hidup manusia. Orang yang hidup. Terus hidup seperti itu. Berbulan-bulan setelah itu, Sung Jun memeriksa apakah kamu masih bernapas saat kamu tidur. yang lebih mengganggunya adalah rasa takut kehilangan dirimu daripada kesedihan anakmu. Bukan berarti rasa sakitnya tidak sama besar seperti rasa sakitmu, hanya karena dia tidak mengatakan apa pun. Ada orang yang tidak tahu cara mengekspesikannya. Aku tahu betapa kamu ingin membangun keluarga yang bahagia. Jika kamu harus mengorbankan nyawamu agar bayi itu hidup. Aku tahu kamu akan melakukannya dengan senang hati. Aku tahu. Tapi, kamu masih punya hal lain yang harus kamu lindungi. Kalian masih punya kesempatan.”

Yeppp… bijak banget.

Berlanjut ke bagian 2 ya. klik di sini.