Sinopsis VIP Episode 22 Part 2 – Episode sebelumnya di sini. Selengkapnya kamu bisa cari tahu di tulisan yang ini. terima kasih sudah mengikuti yaaa…

Park masih bungkam saat ditanya. “Apa kamu gila? Wanita itu di tim Jung Sun. Teganya kamu melakukan itu kepada Jung Sun. Tega sekali? Aku yang orangnya gegabah. Kenapa kamu?”

“Aku tidak tahu aku bisa begitu ceroboh dan emosional. Tapi setelah bertemu dengannya, aku tidak bisa mehanan diri.”

“Ini gila… apa wakil presdir tahu?”

“Ya.”

“Sepertinya dia menjaga jarak darimu. Hati-hati. Kamu tahu apa akibatnya jika menjadikan dia musuhmu. Bagaimana kabar Jung Sun?”

***

Jung Sun memakai skincare dan dia ingat Yuri yang dipuji muda dan cantik.

****

Yuri mendatangi ayahnya.

“Aku sudah memastikan dengan Pak Park. Tapi kurasa aku harus memastikan denganmu juga. Kamu yakin hubungan kalian sudah berakhir? Kamu harus melakukan itu. Keadaan sedang tidak baik. Aku tidak bisa mengambil resiko skandal perselingkuhan lain antara kamu dan dia.”

“Dia akan berpisah dengan Nona Na. Maka tidak masalah.” Yuri menabuh genderang perang.

“Yuri.. apa kamu?”

Yuri dapat telepon dari rumah sakit ibunya dirawat.

***

Mina datang ke tempat karauke dan di sana ada Pak Baek.

“Pak, aku tidak bisa melakukannya. Aku akan melakukan tugas lain yang anda inginkan. Tapi aku tidak bisa melakukan permintaan anda itu.”

“Kalau begitu, aku tidak bisa menjamin masa depanmu. Aku masih direktur senior. Aku punya cukup kekuasaan untuk menyingkirkan pegawai.”

“Yang anda minta itu ilegal. Jika orang tahu soal permintaan anda. Aku akan mendapatkan masalah.”

“Pekerjaan itu mungkin sulit untuk wanita sepertimu….” Pak Baek mabuk, mulai deh grapa grepe…. Mina kabur…

Mina keluar dan di luar ia bertemu dengan suaminya.

Karena kesal. Suami Mina menghajar Pak Baek.

“Kamu ini punya 3 anak!!! hentikan!!!” Mina teriak. Okeee fix. Mina tekdung anak suaminya.

Adegan pukulan pun berhenti.

Pak Baek pun pergi.

***

“Apa yang terjai? Dia melakukan apa kepadamu?” tanya suami Mina.

“Kamu hanya memperburuk keadaan.”

“Haruskah aku hanya diam dan melihat? Seharusnya kubuat dia koma. Itu sudah cukuo… entah dia mati atau tidak…”

“Kamu mungkin akan membunuhku! Hentikan!”

“Maafkan aku. Kamu ingin bicara denganku. Jika aku mendengarkan. Aku akan…. bicaralah padaku. Kali ini aku mau dengar. Tentang bayi juga.”

***

Di pemakaman mewah.

Ibunya Yuri meninggal.

***

Yuri menelepon Park. Park tidak menjawab. Tapi telepon kedua akhirnya diangkat juga.

“Ada apa?”

“Omma…. meninggal. Ommaaa…..” Yuri menangis.

***

Jung Sun menatap surat pengajuan cerainya.

Kemudian Park datang.

“Ada apa?” tanya Na.

“Setelah hari itu, kami tidak pernah bicara.”

“Kenapa kamu melakukannya? Yaa…. setelah kehilangan bayi kita. Kita kesulitan. Tapi itu sudah setahun. Kamu tidak bisa menahan diri karena menderita setahun?”

“Itu bukan “Hanya” apa-apa. Bukan sekadar setahun. Aku menderita setelah anak kita meninggal. Aku juga bisa menderita. Aku juga bisa muak.”

“Jadi, kamu berselingkuh? Karena aku tidak membuatmu bahagia?”

“Maksudku. Itu juga tidak mudah bagiku. Aku menunggu. Bukan agar kamu baik-baik saja. tapi menunggu kita berdua pulih agar bisa mengatasi bersama. Tapi kamu tidak ingin berurusan denganku. Itu juga masa-masa terburuk bagiku. Kamu tidak ada.”

“Seharusnya kamu memberitahuku. Kamu seharusnya bilang bahwa kamu juga menderita.”

Lanjut ke bagian 3 yaaa klik di sini.