Sinopsis Drama Korea Children of Nobody Episode 32 Part 2 Final

Sinopsis Drama Korea Children of Nobody Episode 32 Part 2 Final – Episode sebelumnya bisa kamu baca di sini. selengkapnya kamu bisa cari tahu di tulisan yang ini.

Woo Kyung bicara pada Ibu Tiri.

“Aku sudah memulangkan ahjumma.”

“Kenapa? ini belum akhir pekan.”

“Dia nampak agak lelah. Aku memulangkannya. Ibu tidak apa-apa sendirian?”

“Tidak apa-apa. Ibu rasa sudah tidak butuh ahjumma lagi. Kamu juga pulanglah.”

“Omma, ibu bahagia? Ibu nampak bahagia.”

“Entahlah, Ibu hanya menjalani hidup.”

“Kenapa aku pikir ibu nampak bahagia?”

***

Rc; sudah siap?”

Wk; ya.

Rc; kamu tidak menyesal?

Wk; aku tidak akan menyesal. Kenapa kamu melakukan ini?

Rc;atas alasan yang sama denganmu. Rasa bersalah. Kemarahan.

***

Red Cry membobol rumah Ibu Woo Kyung. Woo Kyung menyapanya.

“Sunbae, itu kamu.” Woo Kyung dengan tenang duduk di ruang tengah.

“Kamu berubah pikiran?”

“pikiranku selalu sama. hidup itu berarti kesempatan. Kemungkinan, aku akan memilih itu.”

“Menurutmu keputusan ini tepat?”

“Marah. Aku marah… aku mau membunuhnya. Tapi, untuk mengakhiri hidup seseorang, kesalahanku sendiri sudah cukup banyak. Aku juga bersalah. Memangnya aku siapa bisa menghakimi orang lain?”

Lampu nyala. Ji Hun dan Soo Young menodongkan pistol pada Tae Joo.

“Kesempatan? Bagus Woo Kyung.”

***

Tae joo diinterogasi.

“Kamu masuk ke rumah di Hannam-dong dan membunuh Han Pyung Woo. Benar bukan? Ayahnya Si Wan.”

“Ya.”

“Kamu mengakuinya.”

“Apa kamu masih terusik karena itu?”

“lantas, kamu juga mengakui bahwa kamu RC?”

“Ya.”

“Mekanisme pertahanan itu, dengan cara itulah kamu menghipnotis hana dan si wan untuk mendapatkan informasi.” *hipnotis dengan obat.

“Aku terkesan kamu bisa tahu.”

“Jika kamu dan Lee Eun Ho berkomspirasi untuk hal semacam ini, seharusnya kalian hangan berlagak tidak saling kenal. Katakan. Apa yang terjadi?”

“Suatu hari, Eun Ho datang menemuiku. Selagi merawat Eun Ho (saat itu Eun Ho melakukan konsultasi karena tidak bisa tidur). Aku pun bisa melihat penderitaan yang dia alami. Semarah perasaan Eun Ho, aku lebih marah. Kemarahan itu mendorong kami. Aku mengumpulkan informasi, dan Eun Ho melaksanakan aksinya. Selagi mengumpulkan informasi, terkadang muncul beberapa masalah. Tapi kinerja kami baik.”

“Dahulu kamu bertugas mengumpulkan informasi. Kini kamu berperan menghakimi karena Eun Ho sudah tewas?”

“Tidak. Si Wan dan Woo Kyung. Demi mereka berdua, aku ingin membereskan semuanya sendiri.”

“Kenapa mereka istimewa di matamu?”

“Saat Eun Ho memberitahu soal penderitaan yang dia alami… kamu tahu apa pikiran pertama yang terbersit di pikiranku? Syukurlah itu bukan aku. Aku juga bisa mengalaminya.”

“Rasa bersalah seperti Woo Kyung dan Si Wan terhadap adik-adik mereka.”

“Detektif sendiri bagaimana? Bisakah kamu memaafkan diri sendiri karena sudah berpikiran begitu? lalu, para monster yang berbuat hal semacam itu, kenapa anak-anak tidak berdosa.”

“Aku tidak akan memaafkan mereka. Tidak akan. Aku juga tidak akan menghakimi mereka. Bagaimana bisa? Aku siapa bisa menghakimi mereka?”

***

Kasus benar-benar selelsai.

Ji Hun melapor pada atasannya.

“Ini benar-benar selesai?”

“Ya.” Ucap Ji Hun.

“Bagus. Terima kasih atas kerja kerasmu.”

“Hyung… pernahkah kamu tidak mau menangkap pelaku,meski sudah tahu siapa orangnya?”

“pernah. Saat nenek membunuh suaminya setelah menahan KDRT selama 45 tahun.”

“Kamu pasti ingin membebaskannya.”

“Aku ingin memotong jariku saat memborgolnya.”

“Aku tidak bangga karena sudah menangkapnya.”

“Sudah aku bilang. Kasus ini berbahaya. Tidak apa-apa kamu tidak bangga. Kita, polisi, tidak boleh terlalu banyak berpikir. Jadikan segalanya sesederhana mungkin.”

***

Woo Kyung membawa bunga di tempat Eun Ho ditembak. Bersama dengan Ji Hun.

“Aku bahkan tidak berpikir untuk membawa bunga.” Ucap Ji Hun.

“Kamu datang cepat.”

“Aku langsung pergi begitu kudengar kamu sudah jalan. Aku mau datang, tapi kurasa aku tidak pernah datang sendiri.”

“Eun Ho bilang, dia sangat iri padamu.”

“Karena itulah dia memberikanku siksaan ini. berbeda dengan Eun Ho, aku tidak suka anak-anak. Kebisingan dan tanggung jawab, dua kata yang kupikirkan saat melihat anak-anak. Kupikir pertanggungjawaban itu akan membebaniku, tapi ternyata aku salah. Itu bukan beban yang harus kuhindari. Aku sadar akan menerimanya dengan senang hati. Karena hatiku diselimuti kebahagiaan. Kupikir, jadi, karena ini orang suka anak-anak…untuk pertama kalinya dalam hidupku.”

“Jadi, intinya, hana…telah memberikanmu pelajaran hidup berharga.”

“Hubunganmu dan Ibumu baik-baik saja?”

“Aku belum bisa memaafkan dia. aku jiga tidak yakin bisa. Tapi masalahnya, Eun Seo, sangat menyayangi neneknya. Mungkin itulah yang membuat Tae Joo marah. Hidup memang memberi kita sebuah kesempatan, sebuah kemungkinan.”

***

Takut akan kegelapan malam. Bulan menangis tiap malam. Matahari (kakak), aku takut. Matahari yang merasa bersalah terhadap adiknya, memutuskan berganti posisi dengen bulan. Karena itulah, matahari biru menyinari kita saat malam hari, dan bulan merah menyinari kita saat siang hari. Begitulah bulan merah menjadi matahari dan matahari biru menjadi bulan.

Drama ini sukses bikin saya nangis. Luar biasa.

Saya tulis komentarnya di review saja ya. klik di sini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *